Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Faezya Zufar Dzakwan

Sekolah, tidak Bisa Membaca dan Berhitung?

Eduaksi | 2025-02-11 21:57:37
Juara 1 Siswa berprestasi Kec.Cikampek (Sumber : Doc. Sekolah)

Tahu tidak? Baru-baru ini kita dihebohkan di media sosial oleh fenomena yang dialami oleh para teman kita dari SMP dan SMA, mau tahu fenomenanya apa? Yuk, kita telusuri bersama!

Jadi, baru-baru ini tepatnya tahun lalu terjadi fenomena yang banyak dialami siswa dikalangan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Fenomena mengejutkan tersebut adalah tentang beberapa siswa yang tidak mampu alias kesulitan untuk melakukan hal-hal dasar seperti matematika dasar, soal dasar, membaca bahkan menulis. Ada kasus siswa SMP yang viral karena tak bisa membaca, ada yang tak bisa berhitung, bahkan ada siswa SMA yang tulisannya tidak dipahami oleh wali kelasnya dan juga banyak lagi kasus-kasus lainnya.

Hal tersebut banyak dibuktikan dengan banyaknya video viral di media sosial seperti Facebook, instagram, tik-tok atau youtube, video tersebut menunjukkan ketidakmampuan para siswa dalam mengerjakan hal-hal dasar atau soal-soal dasar yang biasanya dipelajari di bangku sekolah dasar (SD), hingga akhirnya masalah ini merambat ke banyak pihak seperti guru, orang tua siswa, dinas terkait bahkan netizen, berbagai komentar dan spekulasi bermunculan dari tiap lapisan masyarakat.

Karena masalah ini juga, ada beberapa guru yang mengkritik satu sama lain, yang membuat sebuah kekacauan di dunia pendidikan, seperti contoh kasus video viral seorang guru SMA menghimbau guru SMP dan guru SD, karena tulisan dari siswa yang dididiknya tidak dapat beliau pahami agar lebih diperhatikan lagi, beliau juga menghimbau para orang tua siswa agar lebih memperhatikan kemampuan dasar anak di rumah.

Akhirnya terjadilah saling kritik mengkritik, dan membuat gaduh dan viral di media sosial Guru SMP menyalahkan guru SD karena muridnya, Guru SD juga menyalahkan kepada orang tua, kenapa karena kurang mampu mengajarkan ilmu di rumah, waduh kok masalahnya jadi merambat kemana mana gini ya, memang sih dalam masalah ini semua pihak yang terlibat tak mau mengalah, kok hisa sih jadi ribet mau tau sebabnya?, yuk langsung ke sebabnya

Beberapa hal yang dapat mengakibatkan hal tersebut, salah satunya adalah Orang tua yang kurang memperhatikan penggunaan gadget anaknya. Bagi sebagian orang tua acuh terhadap kegiatan anaknya dalam penggunaan gadget. Hal tersebut dapat mengakibatkan : 1)Anak jadi malas akan belajar karena tak diperhatikan.

Alasannya: anak yang tak diperhatikan maka dia akan merasa bebas,dan bisa melakukan apa saja dan tidak teratur, jadi dia merasa bebas mau melakukan apa saja jadi dia akan malas mengerjakan kewajibannya untuk belajar.

2)Anak cenderung lebih suka main Gadget ketimbang belajar. Alasannya: anak yang dibebaskan tentu dia akan mencari kesenangan daripada pembelajaran yang menurut mereka menyulitkan, jadi mereka menemukan gadget untuk kesenangan mereka sendiri.

Seiring perkembangan zaman, sifat dan perilaku anak zaman sekarang jadi berubah banyak, anak yang sudah tak memainkan permainan tradisional lagi, bahkan jarang olahraga dan main dirumahnya. Kenapa bisa begitu? karena ada satu benda yang menyebabkan masalah itu, dia bernama gadget! ya gadget, kenapa sih ya karena gadget itu menyebabkan rasa candu dan rasa ingin terus memainkannya apalagi sekarang sudah banyak game yang tersedia di play store.

Play store adalah salah satu aplikasi di Handphone (HP) yang bisa mendownload game dan berbagai aplikasi lainnya. Sebenarnya juga kita bisa saja download aplikasi yang bermanfaat saja, tapi anak-anak sekarang sukanya main game terus, yang menimbulkan rasa malas pada anak tersebut.

Kenapa sih gadget bikin kecanduan? ya karena game itu sendiri terutama game kompetitif seperti Free Fire, Mobile Legends dan juga PUBG Mobile, semua game itu membuat rasa ingin menjadi yang lebih kuat, lebih jago, dan lebih sultan. Dalam game tersebut memiliki skin/baju yang bisa dicustom yang bias didapatkan dengan melakukan misi-misi tertentu.

Mengingat anak zaman sekarang suka pamer jadi anak-anak ini merasa jika dia harus main lagi dan lagi untuk mendapatkan skin atau hadiah dalam game. Mengingat sistem top up juga membuat para anak-anak ini menjadi bisa membeli item dalam game yang bisa membantunya, kalau yang belum tau sistem top up itu apa...

Yuk kita telusuri bareng-bareng.

Jadi sistem top up itu singkatnya adalah membeli item dalam game seperti skin, baju, senjata dan lain-lain dengan cara ditukar dengan uang asli, jadi anak² sudah dibuat candu dengan gamenya eh malah mereka top up dan keluarkan uang mereka dengan sesuatu hal yang tak berguna sebenarnya.

Solusi dari masalah ini adalah:

Kita tahu bahwa para siswa ini memiliki potensi, setiap anak memiliki potensinya masing-masing, yang bisa mengaktifkan potensi itu adalah orang tua dan guru. Orang tua dan guru harus bekerja sama dalam mendidik siswa,batasi gadget dan game yang dimainkan siswa, ajak siswa/anak untuk belajar dan tanamkan rasa semangat belajar di diri anak.

Kuncinya harus ada kolaborasi yang baik antara guru, orang tua dan siswa. Semoga bermanfaat

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image