Waspada Risiko Besar di Balik Harga Murah dari Air Isi Ulang Dibanding Air Mineral Biasa
Eduaksi | 2025-01-04 20:45:20Air minum adalah kebutuhan pokok yang tidak dapat diabaikan. Namun, akses terhadap air minum layak di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan hasil surveilans terbaru Kementerian Kesehatan RI, hanya sekitar 20,49 persen akses air minum di Indonesia yang layak dikonsumsi pada tahun 2023, meningkat dari 11 persen pada beberapa tahun sebelumnya. Dengan keterbatasan ini, banyak rumah tangga di Indonesia beralih ke air minum isi ulang sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan air mineral kemasan atau air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun, di balik harga yang terjangkau, terdapat risiko besar yang mengancam kesehatan masyarakat.
Fenomena Air Isi Ulang: Pilihan Ekonomis yang Berisiko
Bagi sebagian besar masyarakat, air minum isi ulang dianggap sebagai solusi praktis dan ekonomis. Harga per galon air isi ulang jauh lebih murah dibandingkan air mineral dalam kemasan. Selain itu, akses terhadap depot air isi ulang juga sangat mudah ditemukan, bahkan di daerah terpencil sekalipun. Kondisi ini membuat banyak keluarga mengandalkan air isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum, memasak, hingga mencuci bahan makanan.
Namun, seperti yang diungkapkan oleh dr. Anas dalam konferensi pers pada Jumat (20/12/2024), banyak depot air isi ulang di Indonesia yang belum memenuhi standar kebersihan. "Air minum isi ulang, masih ada yang positif E coli, bisa dari sumber airnya, waktu pengolahan, mesinnya tercemar, galonnya tercemar, maupun tempat yang belum bersih sehingga masuk ke galon masih belum bersih," tandas dr. Anas. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun air isi ulang terlihat bersih secara kasat mata, potensi kontaminasi mikrobiologis tetap tinggi.
Sumber Kontaminasi dan Bahayanya
Kontaminasi pada air isi ulang dapat berasal dari berbagai sumber. Pertama, sumber air yang digunakan oleh depot air isi ulang tidak selalu berasal dari mata air bersih. Beberapa depot mengambil air dari sumur atau sumber air permukaan yang tidak memenuhi standar kualitas air minum. Air yang terkontaminasi bakteri seperti Escherichia coli (E. coli) dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti diare, infeksi saluran pencernaan, hingga keracunan.
Kedua, proses pengolahan air di depot sering kali tidak dilakukan dengan benar. Mesin pengolahan yang jarang dibersihkan, penggunaan filter yang sudah usang, serta kurangnya pemeliharaan rutin dapat meningkatkan risiko pencemaran. Selain itu, galon yang digunakan sebagai wadah air juga berpotensi menjadi sumber kontaminasi jika tidak dicuci dengan baik sebelum diisi ulang.
Seperti yang disampaikan oleh dr. Anas, "Jadi banyak rumah tangga yang dia lebih memilih air isi ulang untuk konsumsi sehari-hari, dibandingkan dari air PDAM yang kemudian dikonsumsi setelah dimasak." Pilihan ini menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat pada depot isi ulang meskipun risiko kontaminasinya tetap ada.
Ketiga, lingkungan depot yang kurang higienis menjadi faktor tambahan. Banyak depot air isi ulang yang beroperasi di lokasi dengan sanitasi yang buruk. Hal ini membuat air yang seharusnya bersih menjadi terkontaminasi oleh mikroorganisme berbahaya selama proses pengisian atau penyimpanan.
Dampak Kesehatan Akibat Air Isi Ulang yang Tidak Layak
Risiko kesehatan akibat konsumsi air isi ulang yang tidak layak tidak bisa dianggap remeh. Bakteri seperti E. coli yang sering ditemukan pada air isi ulang dapat menyebabkan diare akut, yang jika tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada dehidrasi parah, terutama pada anak-anak dan lansia. Selain itu, keberadaan logam berat atau bahan kimia berbahaya dalam air yang tidak diproses dengan benar dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh dalam jangka panjang.
Dalam jangka panjang, konsumsi air yang tidak steril juga dapat meningkatkan risiko penyakit lain, seperti infeksi saluran kemih, penyakit kulit, hingga komplikasi kesehatan yang lebih serius. Kondisi ini semakin diperburuk oleh kurangnya edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih air minum yang benar-benar aman.
Perbandingan dengan Air Mineral Kemasan
Meskipun harga air mineral kemasan lebih tinggi dibandingkan air isi ulang, produk ini umumnya telah melalui proses pengolahan dan pengawasan yang ketat. Air mineral kemasan biasanya diproses menggunakan teknologi modern seperti reverse osmosis, sterilisasi UV, dan filtrasi berlapis untuk memastikan kualitas dan kebersihannya. Selain itu, air mineral kemasan juga diawasi oleh badan pengawas pemerintah untuk menjamin bahwa produk yang beredar di pasaran memenuhi standar kesehatan.
Sebagai tambahan, kemasan air mineral yang sekali pakai juga meminimalkan risiko kontaminasi dari luar. Hal ini berbeda dengan air isi ulang yang bergantung pada galon yang digunakan berulang kali dan rentan terhadap paparan kuman serta bakteri.
Solusi untuk Meningkatkan Kesadaran dan Keamanan
Untuk mengurangi risiko dari penggunaan air isi ulang, pemerintah dan pihak terkait perlu mengambil langkah strategis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Pengawasan Depot Air Isi Ulang Pemerintah daerah perlu meningkatkan pengawasan terhadap depot air isi ulang, memastikan bahwa semua depot mematuhi standar kebersihan dan kualitas air yang telah ditetapkan. Inspeksi rutin dan pemberian sertifikasi dapat menjadi solusi untuk menjamin kualitas air isi ulang yang dijual ke masyarakat.
- Edukasi kepada Masyarakat Masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilih air minum yang aman untuk dikonsumsi. Kampanye kesehatan dan penyuluhan mengenai bahaya air yang terkontaminasi dapat membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih bijak.
- Peningkatan Akses Air Minum Layak Pemerintah perlu memperluas akses terhadap air minum yang layak dan terjangkau, baik melalui PDAM maupun inisiatif swasta. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada depot air isi ulang yang kualitasnya diragukan.
- Penggunaan Teknologi Modern Depot air isi ulang harus didorong untuk mengadopsi teknologi modern dalam pengolahan air, seperti penggunaan filter berkualitas tinggi, sterilisasi UV, dan peralatan lain yang dapat meningkatkan kualitas air yang dihasilkan.
Meskipun air isi ulang menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan air mineral kemasan, risiko kesehatan yang ditimbulkannya tidak bisa diabaikan. Kontaminasi mikrobiologis dan lingkungan depot yang kurang higienis menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih air minum dan bagi pemerintah untuk meningkatkan pengawasan serta akses terhadap air minum yang layak. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati air minum yang tidak hanya terjangkau tetapi juga aman dan sehat untuk dikonsumsi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
