Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

FOMO Berdampak pada Kesehatan Mental

Gaya Hidup | 2025-01-03 17:03:27

Sebagai generasi digital-native, Generasi Z tumbuh dalam era yang penuh dengan teknologi canggih dan media sosial. Kehidupan mereka sangat terkait dengan kemampuan mereka untuk dengan cepat mendapatkan informasi dan menjalin hubungan sosial yang lebih luas melalui platform digital. Namun, di balik semua keuntungan yang ditawarkan oleh teknologi, muncul fenomena sosial baru yang disebut Fear of Missing Out (FOMO). FOMO adalah perasaan cemas atau khawatir yang muncul karena merasa tertinggal atau tidak berpartisipasi dalam pengalaman menarik yang dialami orang lain. Gen Z sangat sering mengalami fenomena ini, yang dapat berdampak pada kesejahteraan mental mereka. Mengingat dampaknya berhubungan dengan pola pikir, hubungan sosial, dan produktivitas generasi muda

FOMO Gen Z seringkali disebabkan oleh media sosial. Gen Z seringkali merasa terbebani oleh tekanan sosial untuk "selalu terhubung" dan mengikuti tren yang sedang viral, terutama mereka yang sehari-hari bergelut dengan tugas akademik dan organisasi mereka. Ketika mereka melihat teman-teman mereka menghadiri acara penting, berlibur di tempat yang indah, atau mencapai pencapaian tertentu, mereka merasa ingin membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ini membuat orang merasa tidak cukup baik atau produktif, meskipun perjalanan hidup setiap orang berbeda. FOMO memengaruhi cara Gen Z menghabiskan waktu dan memberikan prioritas. Mereka cenderung menghabiskan waktu menggulir media sosial, mengejar validasi sosial, atau bahkan memaksakan diri untuk mengikuti acara yang tidak sesuai dengan minat mereka daripada memfokuskan energi mereka pada pengembangan diri atau menyelesaikan tugas akademik. Sebagai generasi muda yang memiliki tanggung jawab besar untuk masa depan, perilaku ini dapat berdampak negatif pada kualitas pendidikan dan potensi yang seharusnya mereka capai.

Selain itu, dari sudut pandang psikologis, FOMO dikaitkan dengan meningkatnya tingkat kecemasan, depresi, dan stres yang dialami Gen Z. Lingkungan digital yang tertekan ini memberikan ilusi bahwa kehidupan orang lain selalu lebih baik. Sebagai generasi muda, kita seharusnya mampu menggunakan media sosial dengan bijak sehingga dapat membantu kita bekerja sama dan mendorong satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.

Platform digital dirancang untuk terus menarik pengguna, menciptakan sensasi urgensi yang membuat seseorang merasa harus tetap terhubung untuk mengikuti tren dan informasi terbaru. Akibatnya, waktu dan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk pendidikan atau pengembangan diri sering dibuang untuk aktivitas konsumtif di media sosial.

Penting untuk menyadari bahwa media sosial, meskipun berguna, seharusnya tidak menjadi alat utama untuk menilai diri atau memvalidasi pengalaman hidup. Sebagai bagian dari generasi muda yang kritis, sudah seharusnya mulai mempraktikkan digital detox, membatasi penggunaan media sosial, dan memprioritaskan interaksi sosial yang lebih autentik di dunia nyata. Pemerintah maupun lembaga pendidikan dapat berperan aktif dalam memitigasi dampak negatif FOMO melalui seminar atau diskusi yang memberikan edukasi kepada generasi muda tentang cara menggunakan media sosial dengan bijak, mengenali tanda-tanda FOMO, dan membangun kesehatan mental yang kuat. Hal ini bisa menjadi langkah awal yang signifikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image