MEMUDARNYA IMAN BERDAMPAK PADA PENYIMPANGAN PRILAKU
Agama | 2024-07-03 14:43:14
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang Allah ciptakan. Berbagai macam potensi telah dibekali oleh Allah kepada manusia yang lahir ke muka bumi ini. Mulai dari akal pikiran, hati nurani, naluri, panca indera, intelejensi, dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu, proses perkembangan manusia ditentukan dari potensi bawaan yang dimiliki dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Baik secara intelektualnya, pemahaman, pengalaman, spiritual hingga prilaku keseharian.
Bagi mereka yang dapat mengarahkan dan memfungsikan potensinya kepada hal-hal yang baik sesuai dengan fitrah manusia, maka dengan sendirinya ia akan menjadi dewasa dan mampu merespon masalah yang dihadapi dengan penuh ketenangan serta berbuah kepada kebahagiaan. Namun sebaliknya, jika berbagai potensi yang ada pada dirinya tidak dapat disinergikan dan kembangkan dengan baik maka yang terjadi adalah ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi yang berdampak pada kesengsaraan.
Dalam kondisi kehidupan sekarang ini, akhir-akhir ini sering kali kita menyaksikan beragam tindakan masyarakat yang tidak mengedepankan prilaku yang terpuji dalam keseharian. Tindakan tersebut terekam dalam tayangan di berbagai platform media sosial mulai dari tindakan kekerasan, pencurian, pembegalan, pembullyan, pembunuhan, tawuran, kenakalan remaja, penyalahgunaan obat terlarang, porno aksi dan pornografi, perselingkuhan, korupsi, dan berbagai tindakan kriminal lainnya, kerap kali terjadi di tengah masyarakat kita.
Bahkah, Ketua umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pun ikut menambahkan dan mengomentari dalam sebuah akun sosial medianya terdapat beberapa diantara aktivitas masyarakat dalam berselancar di media sosial lebih mengedepankan publikasi yang cenderung menggoreng issue, mengadu domba, hoaks atau kebohongan, mencari-cari kesalahan orang, membesar-besarkan masalah, guyonan yang berujung pada olok-olok terhadap pihak lain, dan konten yang tidak mendidik.
Fenomena di atas terjadi bukanlah tanpa sebab, melainkan banyak faktor yang melatarbelakanginya. Salah satu faktor diantaranya adalah lemahnya paham agama dan minim pengamalannya. Sebagai contoh, ketika seseorang meyakini agama Islam sebagai agamanya, akan tetapi diwaktu yang sama ia melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain serta yang bertentangan dengan agama. Dalam konteks seperti ini Sujiwotejo menyebut prilaku tersebut sebagai “pelecehan” terhadap Tuhan, yaitu adanya paradoks antara keyakinan dengan prilaku yang dilakukan.
"Paradoks Keimanan: Sujiwotejo menyebut prilaku tersebut sebagai pelecehan terhadap Tuhan"
Oleh karena itu, agama Islam telah memberikan tuntunan bahwa penyimpangan prilaku diakibatkan karna memudarnya keimanan pada diri setiap muslim. Iman adalah menyakini dengan hati, mengatakan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Iman juga bersifat fluktuatif bisa meningkat dan juga bisa menurun. Hal-hal yang dapat menyebabkan turunnya iman seseorang diantarnya adalah karena kebodohan, kelalaian, berbuat maksiat kepada Allah, cinta dunia, dan berteman dengan orang-orang buruk akhlaknya.
Dalam putusan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah diterangkan upaya untuk meningkatkan iman seseorang adalah dengan menjaga dan merawat ibadahnya kepada Allah Swt. Serta mendalami ilmu Agama Islam. Seseorang yang senantiasa menjaga ibadahnya dengan baik maka akan terjaga agamanya. Oleh karenanya, beribadah dengan baik sangat dianjurkan oleh Allah supaya manusia dapat mendapatkan derajat Muttaqin, dan orang muttaqin adalah orang yang dapat menjaga dirinya dari kemaksiatan.
"Muttaqin adalah orang yang dapat menjaga dirinya dari kemaksiatan"
Kemudian, lemahnya iman juga sebagai pemicu malasnya beribadah dan mengantarkan perbuatan-perbuatan maksiat yang lebih besar menjadikan hati nurani manusia menjadi tertutup. Itulah gambaran manusia yang memudar imannya. Sebagaimana Nabi Saw. menerangkan dalam sebuah hadis dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a Nabi Muhammad Saw bersabda: “tidaklah berzina seseorang yang berzina pada waktu berzina dia dalam keadaan beriman, dan tidak meminum khamar ketika meminumnya, (seorang itu) dia dalam keadaan beriman, dan tidak mencuri seseorang pencuri ketika mencuri dia dalam keadaan beriman”.
Dari keterangan di atas, dapat dipahami manakala seseorang melakukan sesuatu penyimpangan prilaku yang bertentangan dengan agama Islam, maka dalam kondisi demikian seseorang itu tidaklah dalam beriman melainkan imannya telah memudar. Tentunya sebagai muslim yang baik, pada masa-masa sekarang ini sudah semestinya untuk menjaga dan meneguhkan iman kita yang dapat berimplikasi dalam kehidupan kita, juga senantiasa membina keluarga, generasi muda, masyarakat, dan warga bangsa kita agar tetap menjadikan Islam sebagai prinsip dalam rangka tindakan preventif menghindari penyimpangan prilaku ditengah masyarakat. Dengan demikian dari berbagai penyimpangan prilaku yang marak terjadi ditengah masyarakat yang kian hari semakin memperihatinkan dapat dijauhi dan ditinggalkan. Wallahu’alam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
