Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Mengenal Lebih Dekat Nyadran Brebes: Melestarikan Budaya dalam Kebersamaan

Agama | 2023-11-20 12:25:07
https://pin.it/60GZP1h
https://pin.it/60GZP1h

Nyadran di beberapa daerah Indonesia identik dengan melakukan kunjungan ke makam-makam leluhur. Menurut Yanu Endar Prasetyo, Nyadran disebut juga Sadranan adalah tradisi orang jawa pada bulan Sya'ban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa) dengan tujuan untuk menyatakan rasa syukur dengan mengunjungi kuburan leluhur yang mereka hormati. Namun, berbeda dengan itu, Nyadran di Brebes dilaksanakan di 1 Syawal atau saat Idul Fitri. Sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri, biasanya masyarakat di Brebes sudah menyiapkan sajian di rumah mereka dan setelah shalat Idul Fitri mereka melakukan Nyadranan.

Rumah dari orang yang paling tua di keluarga mereka adalah tempat mereka berkumpul sebelum pergi ke makam atau kuburan orang tua dan kerabat mereka dengan membawa bunga kuburan, air, dan lain sebagainya. Selain mendoakan keluarga mereka yang sudah meninggal, mereka juga membersihkan kuburan-kuburannya, mulai membersihkan dari daun kering, menyapu sekitar makam, dan lainnya. Setelah mendoakannya, semua keluarga akan kembali berkumpul di rumah orang yang paling tua. Mulai dari anak-anak, cucu, cicit berkumpul dan saling sungkeman atau meminta maaf dari yang paling muda ke yang paling tua. Kemudian mereka melanjutkan slametan atau doa bersama dan makan besar bersama.

Nyadranan di Brebes ini tidak hanya berlangsung selama satu atau dua hari, biasanya mereka akan menyadran sampai satu minggu. Hal itu karena setelah pulang dari rumah orang paling tua, mereka akan melanjutkan berkunjung ke rumah saudara-saudara mereka. Kunjungan ini dilakukan oleh yang muda ke yang lebih tua dengan membawa gula teh dan jajanan lainnya. Saat inilah yang paling disukai oleh anak-anak karena mereka akan mendapatkan pecingan (uang) dari pakde serta budhe mereka. Tradisi berkunjung ke rumah saudara yang lebih tua ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Selain itu, Nyadran juga dilakukan sebagai bentuk pengingat bahwa generasi muda selalu menghormati generasi sebelum mereka.

Nyadran merupakan wujud kesalehan sosial, dengan ajaran utama tradisi ini adalah rasa solidaritas, kerjasama, dan kebersamaan. Pada akhirnya ungkapan ini akan menghasilkan struktur hubungan vertikal-horizontal yang lebih personal. Dalam situasi ini, nyadran akan memiliki kemampuan untuk meningkatkan pola ikatan sosial dengan Tuhan dan masyarakat, yang pada akhirnya akan mengarah pada kebangkitan budaya dan tradisi yang berkembang menjadi bentuk yang lebih tangguh. Nyadran merupakan alat yang dapat digunakan dalam lingkungan sosial dan budaya untuk menumbuhkan nasionalisme, rasa kebangsaan, dan jati diri bangsa (Gatot Marsono). Semua keluarga akan berkumpul untuk prosesi ritual atau adat Nyadran tanpa membeda-bedakan berdasarkan kelas atau pangkat sosial, agama atau kepercayaan, golongan, atau dukungan politik.

Nyadran merupakan lokasi dimana masyarakat dapat berinteraksi dengan masyarakat, menunjukkan rasa cinta dan dukungan satu sama lain. Ada rasa keakraban, humanisme, dan ketenangan yang luar biasa. Jika nyadran meningkatkan ikatan sosial, Indonesia akan tampak benar-benar damai, tenteram, dan harmonis. Dalam lingkungan Indonesia modern, nyadran telah berkembang menjadi semacam wisata spiritual yang memungkinkan kelompok masyarakat merenung sambil menjalankan urusan sehari-hari. Melalui Nyadran, masyarakat yang disibukkan dengan tugas-tugas padat dan membutuhkan banyak tenaga sampai terkadang mengabaikan religiusitas, tampaknya hati nuraninya kembali bersentuhan dan menyatu dengan prinsip-prinsip akidah Islam karena dalam Nyadran ini mereka menyiapkan makanan untuk dibagikan kepada keluarga secara bersama-sama dan melakukan sungkeman serta slametan atau doa bersama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image