Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Izzah Hanafi

Melestarikan Budaya Betawi di Era Globalisasi

Culture | 2026-04-25 23:48:08
Mengaduk Dodol Betawi di Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Sabtu (11/4/26).

Jakarta terus bertransformasi menjadi kota global yang modern, dinamis, dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Namun dibalik gemerlap gedung-gedung yang menjulang tinggi dan pesatnya pembangunan, terdapat identitas budaya yang tidak boleh hilang, yaitu budaya Betawi. Sebagai penduduk asli Batavia, masyarakat Betawi memiliki warisan budaya yang kaya dan menjadi fondasi jati diri ibu kota.
Budaya Betawi hadir dalam berbagai bentuk yang masih dapat kita temukan hingga saat ini.

Dalam bidang kesenian, masyarakat mengenal ondel-ondel sebagai ikon yang melambangkan penjaga kampung, lenong sebagai teater tradisional penuh humor dan kritik sosial, serta tanjidor dan gambang kromong yang menyuburkan khazanah musik tradisional. Kesenian-kesenian ini bukan sekedar hiburan, tetapi juga media penyampai nilai kehidupan dan sejarah masyarakat Betawi.


Tak hanya itu, kekayaan budaya Betawi juga tercermin dalam kulinernya. Kerak telor dengan cita rasa gurih yang khas, soto Betawi yang kaya rempah, serta gabus pucung yang unik menjadi bukti bahwa budaya Betawi juga hidup dalam tradisi kuliner. Setiap hidangannya tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan sejarah dan akulturasi budaya di Jakarta.


Dari sisi busana, masyarakat Betawi memiliki kebaya encim yang anggun bagi perempuan dan baju sadariah yang sederhana namun khas bagi laki-laki. Selain itu, tradisi palang pintu menjadi salah satu simbol budaya yang masih dilestarikan, terutama dalam prosesi pernikahan. Tradisi ini mencerminkan nilai keberanian, kecerdasan, serta penghormatan terhadap adat dan keluarga.


Di tengah arus globalisasi, pelestarian budaya Betawi menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama. Upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui pertunjukan seni atau festival tahunan, tetapi juga harus dilakukan melalui pendidikan, pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, serta dukungan kebijakan pemerintah. Generasi muda perlu diperkenalkan dan diajak untuk mencintai budaya lokal agar identitas ini tidak hilang ditelan zaman.


Salah satu bentuk nyata pelestarian budaya Betawi adalah melalui perayaan Lebaran Betawi. Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang untuk mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus menampilkan berbagai kekayaan budaya Betawi. Mulai dari pertunjukan seni, kuliner khas, hingga tradisi adat, semuanya hadir dalam satu perhelatan yang memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang berakar pada budaya lokal.


Sejak pertama kali digagas oleh Badan Musyawarah Betawi pada tahun 2008, Lebaran Betawi terus berkembang dan mendapat berbagai macam dari masyarakat. Jika awalnya hanya berlangsung satu hari, kini perayaan tersebut bisa berlangsung hingga beberapa hari. Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam menjaga dan merayakan budaya Betawi.


Pada akhirnya, menjaga budaya Betawi bukan hanya tugas pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh warga Jakarta. Budaya adalah identitas, dan identitas adalah jati diri yang harus terus dijaga. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, budaya Betawi harus tetap hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Dengan demikian, Jakarta tidak hanya dikenal sebagai kota global, tetapi juga sebagai kota yang kuat dalam menjaga akar budayanya. Budaya Betawi bukan sekedar warisan masa lalu, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan yang berkarakter dan beridentitas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image