Jerat Tradisi
Agama | 2026-03-19 00:44:12
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un" langit seakan runtuh menimpaku ketika mendengar kabar kematian Bapakku. Cinta pertamaku, Anak perempuan satu-satunya.
"Secepat ini kah? Aku bahkan belum pernah membuatnya bangga dengan prestasi-prestasiku" gerutuku sembari menyesali waktu yg telah berlalu.
Hari ini sebenarnya ada ujian semerter di kampus. Tapi itu urusan lain. Sekarang, aku harus secepat kilat menuju rumah menemuinya untuk terakhir kalinya.
Sampai dipinggir jalan, para tetangga sudah bergotong-royong memasang tenda. Memang, sudah menjadi kebiasaan di kampungku untuk bersama-sama membantu meringankan beban keluarga yang terkena musibah.
Pikiranku kosong kala itu. Aku tak tahu harus melakukan apa setelah ini. Rasanya, dunia gelap tanpa kehadiran Bapak.
Ibuku tak kalah sedihnya. Ia tumpahkan segala rasa sedihnya didekapanku. Aku biarkan sampai ia mau aku ajak berbicara.
Kepergian bapak, tak hanya meninggalkan luka mendalam bagiku. Kondisi ekonomi keluarga yang saat itu juga sedang morat maret, turut mengacaukan pikiranku.
Bapakku adalah seorang pengrajin kayu rumahan, sedang Ibuku sibuk mengurus rumah tangga. Sesekali juga bantu Bapak. Dulu semasa bapak masih sehat, bisnis yang ia jalankan begitu sukses. Setiap harinya, ia selalu menyetorkan hasil pahatan tangannya ke pemasok.
Setelah Bapakku divonis gagal ginjal. Ia jadi mudah lelah. Terpaksa, Ibu harus menggantikan posisi bapak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Belum lagi setiap 2 minggu sekali, Bapak harus cuci darah yang pasti menghabiskan banyak uang. Salah satu hal yang membuat ekonomi keluargaku kian menurun. Ibu bahkan harus mencari pinjaman kesana kemari kala itu.
Sebagai bentuk Doa dan penghormatan terakhir, Keluarga yang ditinggalkan biasanya mengadakan Tahlilan selama tujuh malam berturut-turut seperti yang lazim dilakukan di kampungku. Namun, Ibu merasa terbebani karena kondisi ekonomi keluarga yang sedang menurun. Menyediakan Nasi Berkat Dan Minuman Bagi Puluhan Warga Yang Datang Setiap Malam tentu membutuhkan banyak dana.
“Pasti ada jalannya nduk.” Kata Ibu setelah aku mengusulkan agar mengadakan acara tahlil yang sederhana saja.
“Bagaimanapun juga, Bapak itu dikenal baik oleh masyarakat desa, aktif mengikuti pengajian. Kalau Sebagian tidak diundang, bagaimana pandangan masyarakat kepada keluarga kita nduk? Ini juga demi menjaga nama baik Keluarga kita. Kasihan bapak disana.”
Bapak dan Ibu memang dikenal baik oleh Masyarakat desa. Mereka aktif mengikuti pengajian. Jadi, mengadakan acara Tahlilan rasanya seperti hal yang wajib dilakukan.
Memang ada beberapa tetangga yang memberikan sedikit sembako untuk kebutuhan kami. Namun, itu jelas tak cukup untuk menutupi kebutuhan acara tujuh hari itu. Ibu tak sanggup lagi mencari hutangan. Yang kemarin untuk berobat bapak saja Ibu belum sanggup melunasinya.
Aku tak tahu lagi harus bertindak apa setelah ini. Justru di hari kematian Bapak, bukan kesedihan yang memenuhi ruang pikiranku, melainkan harus mencari uang darimana untuk kebutuhan acara tahlil selama tujuh hari?.
Walau ada sesuatu yg mengganjal dalam pikiranku. Aku tak bisa menyangkal kalau Ibu sudah kekeh dengan keputusannya. Hati kecilku sempat menggerutu terkait tradisi kuno ini yang sekarang menjadi seperti kewajiban bagi siapapun yang kehilangan anggota keluarganya. Apa ini yang dikatakan Islam rahmatan lil alamin?. Katanya, Islam tidak memberatkan pemeluk-pemeluknya, ini malah memberatkan orang yang sedang berduka?
Aku tahu, Ibu aslinya keberatan akan hal itu, ia hanya pura-pura baik-baik saja untuk menghilangkan kesan buruk keluarga Bapak di masyarakat. Seakan tak ada pilihan lain, hanya inilah satu-satunya jalan yang harus ia dilakukan.
Selama tujuh hari ini Aku dan Ibu tidak hanya lelah secara fisik, tapi juga secara mental dan finansial. Mencari hutang kesana-kemari, bahkan Ibu sampai menjual beberapa emas koleksinya. Semua demi terselenggarakannya Tahlilan selama tujuh hari ini.
Aku ingat, dulu pernah ada keluarga yang tidak menyelenggarakan tahilan bersama, hanya Tahlilan kecil bersama keluarga saja. Dan tahu apa respon Masyarakat? keluarga itu digunjing kesana kemari. Ada yang mengatakan “tak sayang keluarga.” ada juga yang menyayangkan dengan berkata “kasihan yang meninggal disana, tidak kamu doakan.” Dan itu mungkin yang membuat Ibu untuk tetap memaksakan adanya Tahlilan, bagaimanapun kondisinya.
Aku curiga ada yang salah dengan persepsi Masyarakat terkait tradisi Tahlilan ini. Tidak mungkin Ulama dulu melanggengkan tradisi Tahlilan ini tanpa suatu sebab. Dan tak mungkin pula Ulama dulu memaksakan melakukan tradisi ini secara besar-besaran. Tapi bagaimana asal usulnya, dan kenapa tradisi ini sekarang seolah-olah diwajibkan, aku tak mengerti. Yang pasti sekarang aku harus memikirkan bagaimana melunasi seluruh hutang yang sudah habis untuk memenuhi kebutuhan acara Tahlilan selama tujuh hari ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
