Mengenal dan Mengetahui Sastrawan Chairil Anwar dan Karyanya
Sastra | 2023-10-30 01:12:14
Biografi Chairil Anwar
Mari mengenal lebih jauh seorang sastrawan sekaligus penulis buku “Aku Ini Binatang Jalang". Chairil Anwar merupakan seorang sastrawan yang lahir di Medan, Sumatra Utara pada tanggal 26 Juli 1922. Beliau merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan seorang Bupati Indragiri, Riau yang tewas dalam Pembantaian Rengat. Beliau masih memiliki hubungan pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, yang merupakan seorang Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun sebaliknya, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.
Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, Beliau telah bertekad menjadi seorang seniman. Singkatnya mengenai kehidupan pendidikan Chairil Anwar dimulai dengan beliau mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang dimana itu merupakan sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Beliau kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, Beliau tidak lagi bersekolah. Pada usia 19 tahun, setelah kedua orang tuanya mengalami perceraian, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia yang sekarang dikenal dengan kota Jakarta pada tahun 1940. Pada saat itulah beliau mulai berkenalan dan menekuni dunia sastra. Setelah mempublikasikan karya sastra yang berupa puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Puisinya mulai menyangkut berbagai tema; mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.
Aku Ini Binatang Jalang
Banyak sekali karya karya sastra dari chairil Anwar yang telah dikenal oleh banyaknya masyarakat terutama para sastrawan lainnya. Seperti contoh karya karyanya yaitu karya aku binatang jalang, deru campur debu, tiga menguak takdir, dan masih banyak lainnya. Penggemar puisi pasti sudah tak asing lagi dengan kalimat “aku ini binatang jalang” yang menyeruak dari benak indah sang penyair besar angkatan ‘45 itu. Salah satu bait dari puisi berjudul Aku tersebut akhirnya dijadikan judul buku yang berisi kumpulan puisi dan surat Chairil Anwar yang ia tulis dalam rentang tahun produktifnya, 1942 – 1949. Merangkum karya-karya Chairil yang sebelumnya tersebar dalam beberapa buku lainnya Buku “Aku Ini Binatang Jalang” merupakan buku yang awalnya berisi Puisi pertama pada Oktober 1942 berjudul Nisan. Puisi ini mengisahkan Chairil Anwar ketika kematian merenggut nyawa sang nenek. Chairil tertegun melihat kenyataan itu.
Dalam puisinya di larik pertama yang berisi “Bukan kematian benar menusuk kalbu” menggambarkan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti dihadapi oleh setiap yang hidup, datang dan mendekat kepada kita atau pada orang yang dekat dengan kita. Chairil juga menggambarkan sekujur sosok yang begitu tenang atau barangkali dapat dikatakan tidak berdaya. Sementara sang nasib, begitu dingin tanpa belas kasihan, perlahan-lahan menyerut umur sang pemilik. Kematian membuat Chairil melihat dua hal. Pertama, betapa tak berdayanya manusia menghadapi sang maut. Kedua, betapa angkuhnya sang maut melaksanakan tugas yang bekerja tanpa mau berkompromi. Sehingga Chairil berkata tentangnya dalam bait “Tak kutahu setinggi itu atas debu, dan duka maha tuan bertakhta”.
Buku ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya yaitu Secara garis besar, di dalam buku ini berisi koleksi sajak Chairil Anwar antara tahun 1942 sampai dengan tahun 1949 dan dengan memuat beberapa versi dari sajak-sajak Chairil, pembaca dapat membandingkan perbedaan dari sajak-sajak tersebut. Sistematika yang dipakai dalam menyusun buku ini sudah disesuaikan, sajak-sajak disusun secara kronologis. Dengan begitu, pembaca dapat melihat perkembangan sajak-sajak Chairil dari awal hingga akhir. Selain itu, disertakan pula bibliografi mengenai Chairil dan karya-karyanya.
Lalu kekurangan dari buku ini ialah Bagi sebagian orang akan sulit untuk memahami bahasa-bahasa sastra yang dipakai oleh Chairil yang memang banyak memakai bahasa yang sedikit asing bagi orang awam. Penulis tidak menyertakan catatan kaki untuk kata-kata yang memang agak sulit untuk dipahami, ya mungkin agar tetap menjadi misteri atau agar pembaca dapat mengartikan sendiri makna dari kata-kata tersebut.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
