Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Just MCY

AI dan Agama Berdampingan

Lomba | Thursday, 31 Aug 2023, 00:57 WIB

"Ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa sains adalah buta”.

Kutipan diatas merupakan ucapan seorang ilmuwan ternama di dunia, yaitu Albert Einstein. Pria kelahiran Jerman tahun 1879 yang mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1921 untuk penjelasan tentang efek fotolistik itu memberikan gambaran bagi kita untuk kondisi saat ini, dimana kehadiran Artificial Intelligence (AI) mulai memasuki kehidupan manusia.

Karena baru-baru ini saja mencuat berita bahwa ibadah jemaat sebuah gereja di Jerman dipimpin oleh AI. Lalu apakah peran imam dalam kegiatan beragama akan tergantikan? karena dikutip dari CNBC Indonesia sebanyak 300 orang jemaah umat kristen berkumpul di Gereja St. Paul di Bavarian, Furth, Jerman untuk mendengarkan khutbah yang berlangsung selama 40 menit.

Prosesi khutbah yang biasanya dilakukan diatas altar dan dipimpin oleh seorang pastur, kini telah tergantikan oleh sesosok avatar yang ditampilkan disebuah layar. Bahkan Jonas Simmerlein yang merupakan penggagas kegiatan tersebut, menyebutkan rangkaian pelayanan sudah terotomatisasi dengan mesin sekitar 98 persen, karena sisanya 2 persen membutuhkan peran manusia.

Fenomena ini pun sontak menjadi perbincangan di khalayak ramai. Menanggapi kejadian tersebut, Vikaris episkopal Bidang Kemasyarakatan Keuskupan Bogor, RD. Mikail Endro Susanto menilai didalam agama Katolik, khususnya kegiatan pelayanan peribadatan dan prosesi keagamaan tidak dapat diwakilkan oleh AI. Sebab, para imam atau pastor yang ada, merupakan kaum yang sudah ditahbiskan, sehingga bisa menjadi pelayan dalam prosesi keagamaan.

“Tidak semua orang bisa melayani di dalam gereja, melayani ekaliti, melayani misa karena hak itu adalah hak kaum tertahbis,” ungkapnya.

Di Indonesia pun, menurut pria yang akrab disapa Romo Endro ini belum ada ketentuan penggunaan AI dalam kegiatan keagamaan. Karena, didalam kegiatan Ekaristi atau Perjamuan Kudus, instrumen musik yang digunakan pun terbatas. Hanya alat musik bernuansa liturgi seperti organ.

Namun, ia juga tidak menutup mata akan kehadiran kemajuan teknologi yang berdampingan dengan agama. Hanya saja, ia menilai penggunaan teknologi perlu diselaraskan dengan kebutuhan dalam keagamaan. Contohnya adalah penggunaan media sosial untuk menjadi medium dalam menyebarkan ajaran agama.

“Itu sudah disampaikan oleh Bapak Paus juga bahwa alat media komunikasi semakin canggih itu harus digunakan sebagai alat pewartaan. Bagaimana kita mewartakan hal kebaikan. Bagaimana kita memberitakan tentang hal kehidupan, kerukunan, keberagaman. Kalau itu semuanya diangkat, saya katakan dengan canggihnya teknologi, canggihnya media komunikasi, saya katakan kedamaian itu akan ada,” tutupnya.

Sebagai negara dengan mayoritas pemeluk agama Islam, ancaman akan kehadiran AI atau perkembangan digital juga tidak dapat terelakkan dalam kegiatan keagamaan Islam. Habib Husein Jafar dalam perbincangannya dengan Gita Wirjawan pernah menyampaikan bahwa perkembangan digital otomatis akhirnya akan menjadi tantangan baru dalam agama.

“Maka dari itu, agama dari awal tidak pernah menutup pintu ijtihad, yaitu pengembangan agama berbasis kepada nilai-nilai substansial yang sifatnya mutlak pada agama yang kemudian dikontekstualisasikan dengan konteks kekinian dengan berbabis kepada ilmu,” katanya.

Ketua DPRD Kota Bogor, Atang Trisnanto menjadi khotib solat Jumat di Masjid At-Taqwa Komplek Balaikota Bogor, Jumat (3/2/2023) / Istimewa

Ia pun mengambil contoh dengan menggambarkan kondisi salah satu tempat peribadatan umat Budha di Jepang yang mana pendetanya menggunakan Robot yang dinamakan Paper. Diketahui, robot tersebut pun dibuat karena dianggap lebih efektif dalam memberikan pelayanan kegiatan keagamaan.

Tapi, menurutnya yang perlu menjadi perhatian bahwa utamanya agama itu soal rasa atau spiritualitas. Nah hal tersebut lah yang tidak dapat diakomodir oleh perkembangan digital.

“Karena itu perkembangan digital itu seharusnya dilihat sebagai infrastruktur untuk mengembangkan suprastruktur kita didalam spiritualitas,” ujarnya.

Sejalan dengan Habib Jafar, Ketua Muhammadiyah Kota Bogor, Ustadz Maizar Madsuri menilai pelaksanaan ritual keagamaan dalam islam itu sudah ada ketentuan bakunya. Baik yang berkaitan dengan syarat rukun dan sah atau tidak sahnya ibadah. Ia mengambil contoh, dalam kegiatan solat Jumat, sudah ada syarat pelaksanaannya, mulai dari khatib, imam dan jumlah jamaah yang mengikuti prosesi solat Jumat.

“Pelaksanaannya langsung itu sudah menjadi hukum tetap dari zaman islam awal sampai sekarang. Maka tidak bisa misalnya digantikan dengan oleh hal yang diluar ketentuan baku itu,” jelasnya.

Sehingga dalam ajaran agama Islam, Ustadz Maizar menekankan peran imam tidak akan tergantikan oleh AI. Baik peran untuk memimpin pengajian, solat atau memberikan khotbah. Namun, ia menilai, kehadiran AI dan kemajuan teknologi bisa digunakan oleh umat muslim dalam kaitan kehidupan sehari-hari. Asalkan digunakan untuk kebaikan bukan untuk melakukan keburukan.

“Kemajuan teknologi dan agama bisa beriringan. Karena islam ini kan agama ilmu, bahkan ayat pertama yang diturunkan itu kan tentang membaca, bukan hanya teks tapi membaca perubahan jaman, ilmu teknologi dan sebagainya,” tutupnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image