NU, Nilai-Nilai Pendidikan Aswaja, dan Masyarakat Pluralisme

Image
Muhammad Nazid Arzaqil Yusro
Agama | Wednesday, 29 Dec 2021, 13:23 WIB

Nahdlatul Ulama dan peranya dalam menyebarkan nilai nilai pendidikan Aswaja pada masyarakat pluralisme

Negara Indonesia merupakan Negara yang masyrakatnya banyak pluralism dan multikular

Plurar dan multikular Indonesia terdapat pada keragaman budaya,ras,suku,bahasa,tradisi dan lain-lain Keragaman tersebut memberikan keuntungan dan kekayaan bagi negeri, tapi disisi lain akan menjadi ancaman yang besar menimbulkan konflik sosial, politik, agama serta budaya apabila keragaman tersebut tidak kelola dengan baik.

Keberagaman ini menimbulkan banyak perseteruan seperti yang di negara kita baru-baru ini. Banyak dari masyarakat kalangan-kalangan tertentu Indonesia yangbelum bisa menerima perbedaan, bahkan diperparah dengan masuknya aliran transnasional sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Ihwanul Muttaqin dalam artikel jurnalnya.

Menurutnya, belakangan kondisi keberagamaan masyarakat Islam (baca: Islamisme) di Indonesia mulai bergeserdengan munculnya berbagai kelompok Islam „baru‟, bahkan termasuk Islam yang Radikal.Kelompok baru ini datang membawa faham ideologi keagamaan yang dinilai berbeda dengan ideologi lokal, bahkan mempunyai jaringan internasional atau transnasional.1

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat plural, yang memiliki beragam suku, agama dan budaya. Plurarisme di Indonesia menjadi aset yang sangat tinggi nilainya. Akan tetapi ada wacana dalam masyarakat yang menimbulkan perbedaan-perbedaan yang memunculkan potensi ke arah konflik. Seringkali kali potensi konflik ini menjadi kenyataan yang menjadi sumber-sumber perbedaan sehingga berpengaruh negatif pada perbedaan dalam menyikapi latar belakang agama.

Di Indonesia banyak terjadi konflik sosial yang mengatasnamakan agama dan berakhir pada ketidaktoleransian satu sama lain. Contohyang sederhana adalahmaraknya kasus ujaran kebencian dan bahkan dibanyak kasus dibungkus dengan kedok agama.Apabilabangsa ini ingin menjadi kuat, maka diperlukan sikap untuk saling menghargai, memahami, menghormati dan saling menerima dari tiap-tiap individu yang beragam, sehingga dapat saling membantu dan bekerja sama dalam membangun negara menjadi lebih baik.

Untuk mempunyai individu-individu yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan menghormati individu lainnya diperlukan adanya pemahaman, bahwa perbedaan bukan menjadi persoalan. Yang penting adalah bagaimana menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut menjadi indah, dinamis dan membawa berkah.

Pendidikan diyakini memiliki peran yang besar dalam membentuk karakter individu-individu yang di didiknya, dan mampu menjadi “guilding light” bagi generasi muda penerus bangsa. Ahmad D Rimba menyebutkan bahwa pendidikan adalah nimbingan atau pemimpin secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan asmani dan ruhani terdidik menuju kepribadian yang utama

Nahdlatul Ulama adalah organisasi masyarakat terbesar yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan keagamaan yang ada di Indonesia yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari. Organisasi Nahdlatul Ulama menganut ajaran Ahlussunnah Wal Jama‟ah (Aswaja)

Merupakgolonganan yahang selalau berusaha berada di garis ah sunnah wal jamaah Nahdlatul Ulama memiliki landasan filosofis yaitu Ahlussunnah Wal Jama‟ah. Aswaja adalah merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah nabi dan sunnah Khulafaur Rosyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (Al firqah al-Najiyah).

Pendidikan Islam yang selalu diterapkan Ahlusunnah Wal Jama‟ah yang diamalkan NU, yaitu prinsip-prinsip yang selalu diajarkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya yakni: Tawassuth(bersikap tengah-tengah atau moderat), Tawazun(seimbang), Tasamuh(toleransi), I‟tidal(adil atau tegak lurus) dan Amar Ma‟ruf Nahi Munkar. Allah telah menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah ummat wasath, umat pertengahan yang adil dalam

Contoh peran NU Dalam menangani pluralisme

Kecamatan Senduro adalah kecamatan yang terdiri dari masyarakat plural.Masyarakat yang memiliki beberapa kebudayaan dan agama yang berbeda.Di Senduro terdapatPure Mandara Giri Agung Semeru, pure terbesar di Asia Tenggarayang menjadi tempat peribadatan umat Hindu.

Begitu juga dengan umat Islam disana memiliki tempat ibadah berupa Masjid dan Musholla yang berdekatan dengan pure, sehingga kondisi ini sangat mengkhawatirkan, namun umat Islam dan Hindu di Senduro tetap hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya.

Komposisi masyarakat Kecamatan Senduro berdasarkanAgama sebanyak 43.123 yaitu pemeluk AgamaIslam 38.357, Agama Hindu 4.667, Agama kristen 82, sedangkan Agama katolik 17 pemeluk.6Melihat adanya masyarakat plural di Kecamatan Senduro, Kecamatan Senduro cenderung akan terjadi konflik karena perbedaan agama tersebut. Untuk membina kerukunan antar pendatang dan masyarakat setempat, diperlukan adanyapemahaman yang sama tentang nilai-nilai tawassuth (nilai tengah-tengah), tasamuh(toleransi), i‟tidal (tegak lurus) dan tawazun (seimbang), agar tercipta masyarakat yang saling menghargai, menghormati, tolong menolong dan saling memahami.

Organisasi Nahdlatul Ulama tingkat kecamatan MWCNU (Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama) menjadi salah satu media pendidikan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah pada masyarakat kecamatan Senduro. Umat Islam dan Hindu di kecamatan Senduro hidup berdampingan dengan rukun dan harmonis,saling membantu dan tolong menolong.Hal tersebut terjadi karena peran OrganisasiMWCNU dalam menanamkan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah agar terciptanya kehidupan yang damai. Pengurus dan badan otonom Nahdlatul Ulama di Kecamatan Senduro juga aktif, terbukti dengan banyak kegiatan keagamaan yang terlaksana disana.

Kegiatan-kegiatan bernuansa Islam Ahlussunnah Wal Jama‟ah di kecamatan Senduro rutin dilaksanakan, baik itu kegiatan mingguan, bulanan atau tahunan. Dan di dalam salah satu kegiatan keagamaan tahunan di kecamatan Senduro yaitu peringatan hari santri, para pacalang (petugas pengaman kegiatan keagamaan hindu) ikut membantu mengamankan kegiatan tersebut. Walaupun ada beberapa BANOM (Badan Otonom) Nahdlatul Ulama yang baru berdiri dan ada yang belum aktif dikarenakan masih fokus pada pembenahan BANOM (Badan Otonom) NU yang lain.7

Contoh kasus yang pernah terjadidi kecamatan Senduro, yaituperusakan candi milik masyarakat beragama Hindu. Perusakan tersebut dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan sampai hari ini tidak diketahui siapa pelaku dari perusakan tersebut. Perusakan candi bertujuan untuk memprovokasi antara umat Hindu dengan umat Islam yang berada di kecamatan Senduro.

Masalah tersebut tidak sampai meluas menjadi hal yang besar karenaperan tidak ada indikasi masyarakat kecamatan Senduro yang melakukan perusakan tersebut.8Artikel ini ditulis dengan pendekatan kualitatif fenomenologis. Sumber data diperoleh dari pimpinan dananggota organisasi Nahdlatul Ulama tingkat Kecamatan (MWCNU) dan masyarakat di kecamatan yang sama

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Lapas Muaradua Sosialisasikan Layanan Kunjungan dan Pembinaan dari Pihak Luar Kepada WBP

Image

LP Narkotika Samarinda Hapus Buta Huruf Pada WBP Dengan Belajar Membaca

Image

Jika Belum Mampu Berkurban Setiap Tahun, Berkurbanlah Setiap Minggu

Image

Mengenal Lebih Dekat Tentang Keutamaan Memakmurkan Masjid

Image

Menepis Kerinduan, KYM Menggelar Acara Seseruan

Image

PEMBINAAN JASMANI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEBUGARAN WBP

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image