Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rhendy Muhammad

Mengekspresikan Emosi di Twitter : Benar atau Salah?

Gaya Hidup | 2023-06-11 11:04:04
sumber gambar : unsplash.com

Pernahkah kita berpikir bagaimana cara meluapkan emosi tanpa memperlihatkan secara langsung di muka umum? atau pernahkah kita mencari ruang berekspresi yang mampu menuangkan segala keluh kesah yang ada tanpa seseorang mengetahuinya? atau pernahkah kita meluapkan keluh kesah di sosial media seperti Twitter, Instagram atau lainnya?

Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu Twitter. Twitter merupakan suatu aplikasi media sosial yang saat ini dimiliki oleh Elon Musk. Twitter juga merupakan platform yang banyak digunakan oleh remaja dan dewasa awal karena Twitter sering digunakan sebagai tempat untuk bertukar informasi ataupun sekadar menggunakannya untuk untuk bersua atau biasanya pengguna Twitter menyebutkan dengan mencuit atau nge-tweet. Twitter pun dinilai lebih cepat menyebarluaskan suatu informasi bila dibandingkan dengan media sosial lainnya, terkhusus bagi kalangan remaja dan dewasa awal yang masuk dalam rentang Generasi Milenial dan Generasi Z.

Fenomena pengguna Twitter yang memanfaatkan Twitter sebagai sarana untuk mengekspresikan emosi melalui cuitan di akun pribadi pun dinilai cukup baik karena dapat meregulasi emosi yang mereka miliki. Selain itu, saya tidak hanya menemukan satu, tetapi banyak cuitan yang merefleksikan luapan emosi yang ada dalam diri mereka. baik itu emosi sedih, senang, marah, kecewa atau lain sebagainya. Pengekspresian ini juga tidak hanya membantu bagi pemilik tweet, tetapi juga kepada pembaca yang ada di Twitter tersebut ataupun pembaca yang memiliki kesamaan perasaan emosi yang sedang dirasakan agar bisa saling membantu satu sama lain dalam menghadapi permasalahan..

Namun, seiring berjalannya Twitter di tengah perkembangan zaman dan perubahan struktur perilaku manusia, twitter terkadang disalahgunakan dalam mengekspresikan emosi. Dalam kata lain, seorang pengguna dapat mengekspresikan emosinya dengan cara yang negatif seperti membalas tweet dengan cara merundung ataupun juga memarahi (sering disebut sebagai salty) kepada pengirim tweet. Hal ini pernah terjadi di sebuah akun yang membuat suatu cuitan, dimana cuitan tersebut bertujuan untuk mengingatkan tentang sudah sejauh mana para pengguna study account mempersiapkan SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes) yang semakin dekat. Namun, hal ini malah disalah artikan oleh sebagian pengguna study account tersebut dan mereka menganggap bahwa mereka selalu dituntut untuk belajar setiap hari tanpa berhenti. Sehingga mereka membalas cuitan tersebut dengan kata-kata yang kurang pantas dan tidak sopan. Hal ini memunculkan opini dari sebagian orang lainnya, bahwa mereka terindikasi burnout sehingga menimbulkan kesalahan cara penyampaian balasan yang dirasa kurang tepat serta menimbulkan kesalahan dalam meregulasi emosi mereka melalui sosial media. Lantas, apakah tindakan ini salah?

Padahal menurut opini saya pribadi, tindakan meluapkan atau mengekspresikan emosi merupakan kegiatan yang baik untuk meregulasi emosi yang kita miliki apalagi ketika kita mempunyai tekanan yang cukup besar dari kehidupan disekitar kita. Namun, dalam penyampaiannya juga diperlukan suatu kaidah ketatabahasaan yang baik dan benar, juga dibarengi dengan nilai-nilai kesopansantunan yang selama ini telah diajarkan kepada kita.

Setiap orang tentunya memiliki berbagai bentuk kegiatan untuk meregulasi emosi, salah satunya adalah mengekspresikannya di media sosial, seperti contohnya Twitter. Setiap orang juga mempunyai kebebasan berekspresi dimanapun, kapanpun, bagaimanapun dan dalam bentuk apapun. Tetapi perlu diingat bahwa negara kita merupakan negara hukum yang memiliki undang-undang yang berlaku dan mengatur hal-hal terkait didalamnya, misalnya seperti UU ITE. Jika kita salah berkata yang bahkan menimbulkan ujaran kebencian maka itu akan menyulitkan diri kita sendiri. dan akan terjerat dengan pasal-pasal yang berlaku. Maka itu, kita perlu bijaksana dalam berekspresi dan tentunya selalu terapkan prinsip 'think before you comment'.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image