Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fathur Roziqin

Refleksi Tahun Baru Biasa Saja

Curhat | Tuesday, 03 Jan 2023, 22:01 WIB
Sumber gambar: Kompasiana.com

: sekadar catatan skripsi selanjutnya

Dear Fathur,

Kini telah memasuki pergantian tahun yang dianggap banyak orang tahun baru. Tapi, sepakatkah tahun itu bagimu benar-benar baru? Tampaknya kamu tidak begitu peduli terhadap anggapan bahwa tahun itu benar-benar baru. Sebab kamu tidak begitu menaruh perhatian setiap pergantian tahun. Kamu mungkin akan dianggap bodoh jika tidak punya anggapan sama tentang tahun baru seperti kebanyakan orang dan mungkin orang akan menganggap kamu kolot jika tidak merayakan tahun baru dengan gegap gempita seperti hari ini.

Secara pasti kamu tampak menghiraukan pemaknaan tahun baru menurut kebanyakan orang itu bukan. Hebat. Kamu memang harus berbeda dari kebanyakan orang sebab kamu diciptakan oleh tuhan tidak untuk selalu sama dengan orang lain. Kamu harus menciptakan pemaknaan sendiri apa itu tahun baru.

Misalnya, kamu memahami tahun baru sebagai hari pengingat saja bahwa kamu harus belajar untuk mengoreksi, dalam segala hal, secermat dan sebaik mungkin hari-hari yang telah berlalu sekiranya masa depanmu lebih cerah dan tidak melulu itu-itu saja. Artinya, setiap pekan bahkan setiap hari kamu harus dan dituntut oleh dirimu sendiri untuk memberi makna hari itu sendiri tanpa harus terikat pergantian tahun yang setiap tahun pasti itu bakal terjadi.

Oleh karena itu, meskipun pemaknaan tahun baru ini mungkin agak culun menurut orang lain, tapi kamu harus berpemahaman demikian, dan, jangan lupa, kamu harus merevisi pemahaman ini jika suatu saat nanti kamu menemukan pemaknaan tahun baru yang lebih segar.

*

Sejak dua minggu ini, tampaknya kamu banyak malas-malasan dibanding bulan-bulan lalu sebelum kamu melaksanakan seminar proposal. Kamu tampak begitu santai dan banyak menyia-nyiakan waktu begitu saja dan larut dalam permainan media sosial hingga lupa waktu belajar. Padahal sebelumnya kamu tampak begitu gigih mengerjakan tugas kuliah hingga berjam-jam menatap laptop dan menelaah pelbagai buku agar kamu bisa mengikuti ujian proposal akhir semester lalu.

Namun hari ini kamu membuat kebiasaan yang begitu mencemaskan masa depanmu. Kamu harus ingat kawan bahwa waktu.

Saat ini kamu telah melaksanakan seminar proposan meskipun hasil proposalmu tampak begitu hancur—dan sepertinya kamu terlampau bersemangat menulis di bagian latar bekakang hingga lupa bahwa latar belakang yang kamu tulis sebenarnya tidak begitu penting—setidaknya menurut penguji itu.

Apa yang kamu tulis ternyata tidak sesuai ekspektasi dosen penguji, baik dalam aspek aturan penulisan karya tulis ilmiah, catatatan kaki yang, boleh dikatakan, hancur semua, hingga metode penelitianmu yang menabrak aturan pada umumnya.

Tapi kamu harus bersyukur dan berterimakasih karena telah dikoreksi dengan teliti oleh dosen pembimbing dan pengujimu. Dengan begitu kamu tahu letak kesalahan dan kebodohanmu dan tahu apa yang harus kamu lakukan saat ini untuk memperbaiki semua itu.

Sebagai kembaranmu, aku tahu kamu menjadikan sejarah sebagai latar bekakang; bukan interpretasi sebagai latar bekang—yang seharusnya memang demikian saran dosen pengujimu itu—jika kamu menulis proposal, Kontekstualisasi Zakat: Studi Reinterpretasi Masdar Farid Mas’udi terhadap Q.S At-At-Taubah [09]: 60. Namun kamu lupa atau (mungkin) pura-pura lupa menjelaskan interpretasi penelitianmu itu dalam latar belakang.

Kamu memakai sejarah sebagai latar belakang dengan alasan, yang pada saat ujian kamu lupa untuk mengutarakan maksudnya, untuk membatasi pembahasan yang nantinya memakan banyak halaman. Tetapi tidak mengapa jika kamu mengikuti saran dosen pengujimu itu sebab memang saran itu layak kamu pertimbangkan ulang—seperti semula kamu berencana demikian. Dan ingat! kamu tidak bisa merasa paling pintar dan menutup diri dalam hal ini sebab kamu masih bau kencur dalam penelitian pustaka.

Dengan alasan itu, kamu tampak begitu bergairah memaparkan banyak hal tentang sejarah bagaimana zakat pada zaman Nabi Muhammad kala itu dan lupa bahwa seharusnya kamu memaparkan nanti pada subbab hasil penelitian. Tapi, aku kira kamu cukup berhasil, yang sebenarnya itu penelitian berat menurut kebanyakan kawan fakultasmu, setidakanya kamu mampu menyelesaikan proposal sampai detik akhir semester tujuh ini.

*

Tampaknya saat ini kamu membuang banyak waktu luang hingga kamu leha-leha akhir-akhir ini. Padahal sudah waktunya kamu melanjutkan proposalmu yang terbengkalai dua minggu ini. Jangan banyak alasan kamu tidak bisa menulis atau alasan apalah, sementara dalam kepalamu sebenarnya sudah penuh apa yang bakal kamu tulis.

Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah melawan rasa kemalasam dan keculasan dirimu sendiri bahwa kamu bakal menyelesaikan dalam waktu dekat, sebenarnya perasaan demikina adalah omong kosong ilusi malasmu. Itu alibi saja. Itu alasan yang dibuat-buat oleh dirimu sendiri dan tidak mau menulis cepat-cepat yang sebenarnya itu jauh lebih efisien.

Maka, sejak aku menemanimu malam ini, mendengar keluh cemasmu saat ini, kamu harus menulis secepat-cepat mungkin tanpa harus merasa terintervensi oleh aturan-aturan kaku kampus agar tidak mengantarkanmu dalam kemustahilan merampungkan skripsi secara bagus.

Bukankah masih ada waku lain bagimu untuk menyelesaikan pekerjaan mengedit setelah menulis awal rampung. Kamu tidak bisa menulis sambil banyak mengedit bagian-bagian yang sebenarnya bisa kamu benahi pada akhir nanti. Maka, menulislah secepat mungkin dan buang perasaan yang dapat menyensor dirimu ketika menulis.

Jika minggu-minggu lalu kamu banyak melunagkan waktu yang tidak penting—dan memang kamu menganggap kemarin waktu tidak penting—maka hari ini kamu harus bergerak dan berubah untuk tidak menjadi fathur seperti tahun yang sudah lalu.

Artinya, dalam menyambut tahun baru ini, kamu perlu persiapan mental untuk memperbaiki kualitas harianmu lebih baik lagi agar tidak sekadar mengulang tahun yang sudah berlalu.

Jika kamu masih terus berada pada seperti tahun lalu dan tidak ada perubahan mulai hari ini, kamu hidup mandek alias stagnan. Sebab pada dasarnya kamu sedang berhenti di jalan kehidupan dan tidak berkembang lebih baik.

Dan, mulai hari ini, kamu harus banyak melihat waktu kosong sehingga bisa kamu manfaatkan dengan kegiatan positif dan gunakanlah waktu sebaik dan semaksimal mungkin, sebab jika kamu terus-menerus berada dalam kemalasan dan terjerumus pada kekosongan waktu—seperti itulah kelak cerminan masa depanmu.

Salam,

Kembaranmu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image