Dinamika Cinta dan Realitas Sosial: Mengapa Mencintaimu Jadi Begitu Politis?
Curhat | 2025-12-19 17:50:41
Biarlah pembahasan kali ini diawali dengan quotes filsafat, bahwa: "Cinta adalah satu hati yang ada di dalam dua tubuh". Kalimat itu mengajarkan bahwa cinta pada dasarnya adalah penyatuan: dua manusia yang berbeda, dengan latar, luka, harapan, dan dunia yang tidak pernah sama, namun mencoba berjalan dengan satu ritme yang dipilih bersama, tanpa adanya keterpaksaan, melainkan ketulusan hati.
Namun ketika esensi cinta turun ke tanah tempat kita hidup, ia tak lagi berdiri di ruang hampa. Ia justru bersinggungan dengan realitas sosial yang menenteng segala pertanyaan dan hambatan, dan dengan tekanan yang kadang kita sendiri belum siap menghadapi. Dalam dinamika perhari ini, esensi dan nuansa romantis seringkali tergerus oleh hal-hal yang lebih besar dari perasaan kita. Ya. Politik. Kondisi politik yang tak menentu, berita-berita yang mencemaskan, ketidakpastian masa depan, ekonomi yang merosot, dan standar sosial yang terus menekan mental, semua itu menyelundup tanpa permisi ke dalam hubungan dua orang manusia, dalam artian hubungan penuh cinta.
Cinta yang awalnya adalah gombalan konyol, rayuan manis yang mampu menciptakan pipi merah di raut wajahmu dan dunia terasa lebih kecil dari genggaman tangan pasangan, perlahan kini semuanya berubah wujud. Di tengah realitas sosial yang kian menekan, kata-kata yang dulu diciptakan untuk memikat hati justru menjelma menjadi bentuk perlawanan terhadap penindasan. Dari situlah timbul pergeseran makna cinta sendiri, yang awalnya cinta adalah hal yang manis, kini menjelma perlawanan yang lantang.
Begitulah barangkali pembahasan mengenai "Dinamika Cinta dan Realitas Sosial".
Oleh: Moh. Zidan Awaludin (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
