Pengangguran Terdidik: Ironi Lulusan SMK dan Diploma di Pasar Kerja
Lain-Lain | 2026-01-09 15:07:31
Latar Belakang
SMK dan diploma sejak awal digagas sebagai jalur pendidikan praktis, berbeda dari SMA yang lebih akademis. Harapannya, lulusan vokasi langsung terserap industri. Apa itu vokasi?, Vokasi adalah jalur pendidikan tinggi yang fokusnya membekali mahasiswa dengan keahlian praktis dan keterampilan teknis spesifik agar siap kerja, dengan lebih banyak praktik daripada teori, mempersiapkan lulusan untuk langsung terjun ke dunia industri atau profesi tertentu. Namun, realitas di lapangan menunjukkan jurang yang lebar antara harapan dan kenyataan. Kurikulum sering kali tertinggal dari perkembangan teknologi, sementara dunia usaha bergerak cepat. Link and match (konsep penyelarasan antara dunia pendidikan (sekolah/kampus) dengan dunia usaha dan industri) yang digembar-gemborkan belum sepenuhnya terwujud. Akibatnya, lulusan vokasi sering dianggap “kurang siap” atau bahkan “kelas dua” dibanding sarjana, meski mereka memiliki keterampilan teknis yang nyata.
ANALISIS IRONI
Inilah ironi besar, semakin tinggi pendidikan, seharusnya semakin mudah bekerja. Tetapi lulusan SMK dan diploma justru menghadapi pengangguran lebih tinggi. Fenomena ini menimbulkan dampak sosial yang serius, seperti lulusan merasa gagal, padahal sudah menempuh jalur “siap kerja”, orang tua yang berharap anak segera mandiri justru menanggung beban lebih lama, dan keterampilan yang diperoleh di bangku sekolah tidak terpakai, hilang begitu saja. Ironi ini bukan sekadar statistik, melainkan luka sosial yang menggerogoti kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan.
DATA
Menurut BPS, lulusan SMK memiliki TPT 9,01%, diploma 4,83%, dan universitas 5,25%. Bahkan pada Februari 2025, meski angka pengangguran nasional turun tipis menjadi 4,76%, lulusan SMK tetap menjadi kelompok paling sulit mencari kerja. Kisah nyata pun bertebaran seperti lulusan SMK jurusan akuntansi yang akhirnya bekerja sebagai kasir dengan gaji minim, atau lulusan teknik mesin yang beralih menjadi driver ojek online. Data dan cerita nyata ini menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar teori, melainkan realitas sehari-hari.
OPINI
Masalah ini tidak bisa dibiarkan. Pendidikan vokasi harus direformasi agar kembali ke marwahnya. Dengan menerapkan kurikulum adaptif yang harus mengikuti perkembangan industri, bukan sekadar teori lama, kerja sama erat dengan dunia usaha seperti magang, teaching factory, dan program link and match yang nyata, pemberdayaan wirausaha seperti lulusan vokasi perlu didorong menciptakan lapangan kerja sendiri berbasis keterampilan praktis, dan perubahan stigma masyarakat dan industri harus melihat lulusan vokasi sebagai aset, bukan kelas dua.
Pengangguran terdidik adalah ironi yang mencederai cita-cita pendidikan. Apa gunanya mencetak ribuan lulusan siap kerja, bila pasar kerja tak pernah benar-benar siap menerima mereka? Pendidikan vokasi harus kembali ke marwahnya, bukan lorong gelap menuju pengangguran, melainkan jembatan emas menuju masa depan. Harapan itu masih ada, jika kita berani melakukan perubahan.
Untuk data lebih lanjut, sila kunjungi https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTE3OSMy/unemployment-rate-by-education-level.html
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
