Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mohammad Zamhari

Keutamaan Sabar dalam Islam

Agama | Monday, 31 Oct 2022, 22:32 WIB
Sumber: https://pixabay.com/
Sumber: https://pixabay.com/

Berat memang rasanya ketika seseorang dilanda suatu musibah. Apalagi bila musibah itu datangnya bertubi-tubi. Tentu kesedihan begitu menggelayuti, tak mudah untuk menghapusnya seketika.

Namun sebagai seorang muslim, pastinya telah mendapat pelajaran penting tentang arti sebuah kesabaran. Islam begitu mengutamakan sifat sabar dalam diri setiap hamba Allah. Sabar berpengaruh besar bagi kehidupan manusia.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman;

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)

Pesan Allah sangat jelas bahwa setiap insan mestilah memupuk rasa sabar dalam dirinya. Sehingga, keimanan tetap mampu terjaga, tidak mudah goyah.

Hamba yang beriman tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Hatinya justru dapat memetik hikmah dibalik musibah. Senantiasa berserah diri kepada Allah, berdoa mengharap bimbingan-Nya.

Ketaatan seorang hamba kepada Allah dengan tidak meninggalkan salat juga cermin dari keimanan. Sebagaimana dipahami, bahwa salat merupakan tiang agama. Alhasil, sabar dan salat ialah peneguh keimanan yang patut diperhatikan sungguh-sungguh.

Dewasa ini, sifat sabar semakin dibutuhkan demi menjaga diri dari keburukan yang berujung penyesalan. Sangat tampak bahwa dalam keseharian seringkali terjadi ketidaksanggupan mengendalikan diri.

Beberapa hal berikut adalah cermin tentang pentingnya sabar dalam keseharian kita.

Sabar mencegah hawa nafsu

Banyak sekali cerminan hawa nafsu yang mengitari hidup kita. Seakan berkelindan mengikuti derap perubahan arus globalisasi. Godaan semisal ingin handphone baru, motor baru atau mobil baru.

Padahal barang-barang yang dipunyai kondisinya masih baik dan layak dipakai. Artinya, lebih pada keinginan, bukan sesuai kebutuhan.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menegaskan perihal hawa nafsu dalam firman-Nya;

فَاِ نْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَا عْلَمْ اَنَّمَا يَـتَّبِعُوْنَ اَهْوَآءَهُمْ ۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰٮهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 50)

Hawa nafsu ingin memiliki barang-barang tersebut cenderung demi memuaskan hasrat pribadi. Mirisnya, jika keinginan itu dicapai dengan cara berhutang. Setiap bulannya ada keharusan menyisihkan penghasilan untuk membayar cicilan.

Apabila di bulan tertentu tidak sanggup menyisihkan dana, langkah cepat yang diambil ialah berhutang dari tempat lain. Parahnya, jika proses pembayaran hutang berjangka puluhan tahun. Sungguh berat rasanya.

Hutang untuk membayar hutang yang lain, gali lubang untuk menutup lubang. Betapa tidak seimbangnya antara pengeluaran dan pemasukan. Akibatnya, krisis keuangan keluarga pun terjadi.

Menuruti hawa nafsu tiada habisnya. Terus merasa kurang atas apa yang sudah dimiliki mengandung resiko tinggi. Seumpama rasa seperti ini terus dipupuk, bukan tidak mungkin menyebabkan seseorang gelap mata. Apapun dilakukan agar keinginan bisa terwujud.

Sabar merupakan tameng menjaga diri dari hawa nafsu. Inilah sebab mengapa sifat sabar berpengaruh besar dalam pengendalian diri. Allah Maha Mengerti bagaimana cara membekali para hamba-Nya.

Sabar menahan Amarah

Seorang pemarah akan berucap dan bertindak buruk terhadap lingkungan sosial disekitarnya. Orang yang demikian ini seringkali menebar kekerasan tanpa dasar. Ucapan dan tindakannya melukai hati banyak orang. Mencerminkan ketiadaan sifat sabar dalam dirinya.

Semua orang tentu memahami betul bahwa kemarahan bukanlah solusi tepat untuk penyelesaian masalah. Namun, justru menjadi biang bertambahnya masalah. Seperti karyawan yang mendapat teguran keras (penuh amarah) dari atasannya, pasti merasa tidak nyaman. Kinerjanya belum tentu lantas membaik usai dimarahi sang atasan.

Amarah berarti pula butanya mata hati. Bisa jadi menimbulkan dendam bagi yang terkena amarah. Apabila hal ini terjadi, maka sudah masuk pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Tali silaturahmi dapat terputus dan sulit untuk tersambung kembali.

Oleh karena itu, kesabaran menahan amarah berfungsi sebagai pencegah kerusakan moral. Pribadi yang sabar tidak akan mudah marah. Wajahnya senantiasa cerah, mudah tersenyum dan jika memberi teguran terasa mengena. Membuat yang ditegur bertambah segan.

Buah kesabaran berdampak positif mempererat silaturahmi. Hubungan yang terbina kian akrab. Begitu pula dampak bagi pasangan suami istri, jalinan cinta dalam merajut rumah tangga dapat terbangun harmonis.

Suami dan istri yang penyabar kelak akan melahirkan anak-anak yang juga penyabar. Pengaruh pendidikan sejak dini terpatri kuat di hati dan pikiran anak-anak.

Sabar Menghadapi Musibah

Datangnya musibah tidak dapat diterka sebelumnya. Kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba tanpa terduga. Siapapun pastinya tidak menginginkan terkena musibah. Namun apa daya jika ternyata mengalaminya.

Fenomena alam yang tidak terduga kerap membuat terpana. Betapa dahsyatnya dampak yang dirasakan. Peristiwa banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor dan yang lainnya. Demikian pula musibah kebakaran, kecelakaan dan berbagai kejadian yang menimbulkan korban jiwa.

Apapun bentuknya, musibah tetaplah menghadirkan duka. Kehilangan harta benda serta yang lainnya menimbulkan kesedihan tiada tara. Perlu waktu lama untuk memulihkannya.

Kesabaran adalah obat mujarab yang secara perlahan mampu menyembuhkan kesedihan. Sifat sabar seakan melindungi diri dari frustasi maupun putus asa. Tiada daya dan upaya sebagai manusia, kecuali bersabar dan berharap pertolongan Allah dengan berdoa.

Cara Melatih Sabar

Jelas sudah bahwa keutamaan sabar bisa tampak dalam tiga hal diatas. Sabar merupakan perilaku mulia yang disukai Allah Subhanallah wa ta'ala. Sifat sabar berdampak positif bagi seorang muslim agar terhindar dari jurang keterpurukan.

Setiap dari kita memiliki tingkat kesabaran yang berbeda-beda. Kondisi ini seiring dengan kemampuan menghadapi ujian yang menghampiri kita. Pada akhirnya kedewasaan bersikap pun turut mempengaruhi kualitas kesabaran.

Sejatinya, sifat sabar dapat dilatih agar menjadi karakter yang kuat dalam diri kita. Seperti apa cara melatihnya? Mari kita perhatikan bersama.

Berkumpul dengan orang-orang sabar

Pergaulan mempengaruhi perilaku. Demikian kiranya yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Bergaul dengan orang-orang yang sabar akan membentuk sifat sabar juga pada diri kita.

Meskipun tidak menjamin seratus persen, tetapi berkumpul bersama orang-orang saleh (sabar) sedikit banyak bisa memupuk kesabaran.

Selalu bersyukur atas pemberian Allah

Senantiasa bersyukur atas segala karunia Allah dapat meningkatkan kesabaran. Hal ini berlaku alami ketika sanggup menahan diri dari godaan dunia. Lihatlah betapa banyaknya orang terlena membeli berbagai barang demi gengsi.

Bukan sesuatu yang mendesak sebenarnya. Namun hati tetap terpikat untuk memilikinya. Inilah pentingnya sabar dengan membiasakan bersyukur terhadap apapun pemberian Allah.

Memahami tentang pentingnya sabar, maka sangat tepat jika sabar ialah hal utama dalam Islam. Beruntunglah bagi orang yang sudah mengamalkan sifat sabar. Semoga Allah selalu membimbing ke jalan yang benar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image