Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Mari Beribadah Tampa Pamrih

Agama | 2026-02-22 11:05:50

Mari Beribadah Tampa Pamrih.
Dalam pandangan kami ajakan untuk beribadah tanpa mengharap kan imbalan (pahala/surga) atau rasa takut akan neraka adalah bentuk ikhlas tertinggi (ikhlas khawas al-khawas).
Ibadah dalam pa dangan kami adalah ketundukan mutlak karena cinta (mahabbah) dan keridaan kepada Allah SWT semata, bukan ibadah sebagai pedagang yang mengharap kan keuntungan (pahala) atau ibadah budak yang takut siksaan.
Berikut adalah rincian pandangan kami dalil, dan kaitannya dengan hablumminallah dan hablumminannas:
Pandangan kami Ibadah Lillahi Ta'alaHakikat Ikhlas:

Ikhlas menurut kaum sufi adalah membersih kan amal dari campuran selain Allah, menjadikan ridha-Nya sebagai satu-satunya tujuan.

Tingkatan Ibadah:
Ulama tasawuf (seperti yang dirangkum dalam ajaran Rabiah al-Adawiyah dan Syekh Nawawi al-Bantani) membagi ibadah menjadi:
Ibadatut Tujjar (Pedagang):
Ibadah demi surga/pahala.
Ibadatul Abid (Budak):
Ibadah takut neraka.
Ibadatul Ahrar (Orang Merdeka):
Ibadah murni karena cinta dan syukur (tertinggi).
kami menekankan kesadaran batin, bukan sekedar menggugur kan kewajiban.
Sumber Dalil Qur'an dan HadisMeskipun mengharap kan pahala adalah sah menurut syariat, kami menekankan "penyucian niat" yang lebih dalam:
Al-Qur'an (QS. Al-Bayyinah: 5):
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..."
Ayat ini menunjukkan perintah beribadah dengan murni (khalis) semata-mata karena Allah.
Al-Qur'an (QS. Al-Insan: 9):
"(Sambil berkata), 'Sesungguh nya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharap kan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih'."
Ini adalah potret ibadah tertinggi yang tidak mengharap kan imbalan balik.
Hadis (HR. An-Nasa'i):
"Sesungguh nya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang murni karena-Nya dan mengharap keridaan-Nya.
Hadis Qudsi:
"Ikhlas adalah rahasia dari rahasia-Ku, Aku menitipkan nya di hati hamba-hamba-Ku yang Aku cintai."
(Ini sering dikutip dalam literatur tasawuf untuk menonjolkan kemurnian niat.
Fatwa dan Pandangan Ulama MuktabarSyekh Junaid al-Baghdadi:
"Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui malaikat sehingga tidak mencatatnya, tidak diketahui setan sehingga tidak merusaknya, dan tidak diketahui hawa nafsu sehingga tidak membelokkan nya."
Imam Al-Ghazali:
Ikhlas berarti melakukan amal kebaikan dengan tujuan semata-mata karena Allah SWT.
Syekh Nawawi Al-Bantani:
Ikhlas adalah beribadah kepada Allah dan melakukan amal saleh, sama sekali tidak mengharapkan apapun kecuali rida Allah, termasuk tidak mengharapkan pahala surga.
Kaitan dengan Hablumminallah dan HablumminannasAjakan ibadah tanpa pamrih ini tidak memisahkan antara hubungan dengan Allah dan sesama, melainkan menyatukannya:Hablumminallah (Hubungan dengan Allah):
Ibadah murni (tanpa pamrih) meningkatkan level Tawhid dan Mahabbah (cinta) kepada Allah.
Hamba menyembah Allah karena Allah layak disembah (fakta), bukan karena ingin "membeli" surga.Hablumminannas (Hubungan dengan Sesama):
Ketika seseorang beribadah murni untuk Allah, ia tidak akan merasa kecewa atau memamerkan amalnya kepada manusia.
Contoh:
Bersedekah/bekerja sosial tanpa berharap terima kasih atau pujian manusia (ikhlas), karena tujuannya hanya Allah.
Keselarasan:
Tauhid yang baik (hablumminallah) otomatis menghasilkan perilaku yang baik pula kepada manusia hablumminannas.
Ibadah tanpa pamrih menghasilkan perilaku sosial yang tulus, jujur, dan tidak manipulatif.
Kesimpulan:
Pandangan kami tentang "beribadah tanpa mengharapkan imbalan" adalah ajakan untuk mencapai puncak keikhlasan (Ibadatul Ahrar), di mana dorongan ibadah hanyalah cinta, syukur, dan keridaan Allah. Ini menciptakan pribadi yang tulus dalam hablumminallah dan tulus dalam berbuat baik kepada sesama hablumminannas.
Dengan kerendahan hati saling berbagi mudah mudahan dengan mengharap syafa'at dari Nabi Besar junjungan kita Muhammad SAW Tercinta Suri Teladan Kita Sepanjang Zaman ada manfa'at nya buat kita saudara saudaraku.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image