Kleptomania tidak Bisa Dikenakan Pidana?

Image
Deta Utami
Eduaksi | Monday, 06 Dec 2021, 21:08 WIB

Sebagian dari kita bertanya-tanya

“Apakah penderita kleptomania tergolong melakukan tindak kriminal dan dapat dikenakan pidana?”

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita simak gangguan jiwa ini berdasarkan sisi hukum dan psikologis.

Kleptomania merujuk kepada gangguan jiwa berupa ketidakmampuan untuk menahan diri dari keinginan (impulse) untuk mencuri yang terjadi secara berulang-ulang (kambuh).

Untuk menambah pengetahuan terkait gangguan kejiwaan dan kesehatan mental khususnya terkait kleptomania, Berikut penulis merangkum 4 fakta kleptomania yang bisa banget kalian baca.

1. Penyintas tidak merencanakan pencurian

Berbeda dengan pencuri yang memiliki motif penggunaan pribadi (personal use) atau keuntungan finansial (financial gain). Penyintas kleptomania tidak merencanakan aksi pencuriannya, aksi tersebut dilakukan saat munculnya impuls atau dorongan yang sulit dikendalikan dan membuatnya cemas.

2. Perasaan negatif setelah mencuri

Penyintas yang tidak mampu mengendalikan kecemasan dan rasa penasaran untuk mencuri, tentunya akan melakukan pencurian. Setelah memuaskan hasratnya untuk mencuri. Penyintas akan merasa bersalah dan malu.

Kepuasan yang dirasakan penyintas pun tidak bertahan lama dan digantikan dengan perasaan negatif serta keinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Namun seperti lingkaran setan kleptomania yang tidak diatasi dengan baik akan membentuk siklus rasa penasaran lagi.

3. Memiliki Penyebab Biologis

Kleptomania rentan terjadi apabila seseorang memiliki riwayat keluarga dengan kleptomania atau adiksi.

Disregulasi neurotransmitter juga berperan, seperti rendahnya serotonin yang memicu perilaku impulsif, dan ketidakseimbangan sistem opioid yang mengontrol impuls.

Kleptomania juga bisa dipicu oleh trauma pada lobus frontal yang mengakibatkan hilangnya ingatan disertai dengan perilaku terkait kleptomania secara tiba-tiba. Gangguan ini dapat muncul sendiri maupun bersamaan dengan gangguan lainnya, terutama gangguan seputar kecemasan dan kontrol impuls.

5. Pada beberapa kasus memerlukan obat-obatan

Sebagai gangguan yang cukup sulit diatasi, kleptomania membutuhkan kombinasi pengobatan dan psikoterapi berupa CBT (Cognitive Behavioral Therapy). CBT membantu penyintas untuk menyadari dorongan-dorongannya untuk mencuri. Selain itu, mencari tahu mengapa mereka ingin menanggapi dorongan tersebut, serta mengupayakan alternatif yang lebih baik untuk meredakan ketegangan.

Jenis pengobatan yang diberikan adalah SSRIs (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) dan antidepresan lain yang terbukti efektif menangani gejala kleptomania.

Lalu untuk merespon pertanyaan diatas:

“Apakah penderita kleptomania tergolong melakukan tindak kriminal dan dapat dikenakan pidana?”.

Meski tidak secara langsung menyebutkan kata Kleptomania namun Pasal 44 KUHP dapat dijadikan alasan pemaaf bagi gangguan kejiwaan ini. Pasal 44 KUHP berbunyi “barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dapat dipidana”.

Namun bukan berarti penderita kleptomania lantas terbebas dari hukum, menurut hukumonline.com ada banyak hal untuk menentukan apakah seorang kleptomania dapat dipidana atas tindakan pencurian yang dilakukannya. Dalam hal ini Hakimlah yang akan memutuskan dapat atau tidaknya orang tersebut dimintai pertanggungjawabannya. Tentu saja dengan meminta pendapat dari dokter penyakit jiwa (psikiater).

Sebagai penutup, perlu diketahui bahwa penghakiman yang diterima penyintas kleptomania terutama pada penyintas anak, akan membuat harga diri atau self esteem mereka menurun. Akhirnya fungsi psikologis dalam kehidupannya juga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Judgemental sosial memiliki kemungkinan tinggi untuk terjadi di lingkungan yang belum begitu kondisi kleptomania, maka dari itu penting bagi orang terdekat penyintas untuk memahami kondisi ini dan membantu penyintas kleptomania untuk mengurangi kecenderungannya, alih-alih menghakimi mereka.

Sumber:

Alpas.id

Hukumonline.com

Lib.atmajaya

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mental Health, Psychology, Science and Financial

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

WAJIB COBA ! Cara Convert Mp4 Youtube ke Mp3 dengan Cepat dan Gratis

Image

Aktif Menulis, Guru MTsN 3 Bantul Mendapat 2 Penghargan dari KYM

Image

Peduli Sesama, Santri Ar-Rohmah Putri Bakti Sosial di Panti Asuhan

Image

Jual Beli Emas Secara Kredit Menurut Islam Dan Pendapat Para Ulama

Image

Jual Beli Sperma Hewan Dalam Perspektif Hukum Islam

Image

5 Jenis Badan Usaha yang Ada di Indonesia

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image