MBKM: Peran Mahasiswa Teralihkan

Image
Nikmatuz zaidah
Agama | Sunday, 11 Sep 2022, 18:03 WIB

Ditengah hiruk pikuk kehidupan perkuliahan hari ini, dimana beberapa kampus telah menggunakan kurikulum merdeka belajar kampus merdeka, membuat mahasiswa benar-benar tersibukkan oleh dunia kuliah mereka terlebih mereka yang mengikuti program MBKM. Bagaimana tidak? Dengan mengikuti kurikulum merdeka belajar maka tugas-tugas yang diberikan kepada mahasiswa hampir semuanya berbasis proyek dan bukan hanya satu dua proyek melainkan seluruh mata kuliah. Belum lagi yang mengikuti AM (asisten mengajar) salah satu program MBKM, yang mana full dari pagi hingga sore.

Dunia kuliah mereka yang dipenuhi tugas-tugas yang tak kunjung usai, proyek-proyek yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu, dan lain sebagainya membuat waktu mahasiswa habis hanya untuk menyelesaikan hal-hal tersebut, hingga tak ada lagi waktu kosong, kalaupun ada waktu akan dimanfaatkan untuk istirahat, nongkrong bareng temen, hingga healing, merefresh kembali pikiran yang jenuh untuk lanjut mengerjakan tugas-tugas, atau ada juga yang memanfaatkannya untuk mengerjakan amanah di sebuah organisasi.

Memang wajar mahasiswa disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang menumpuk, sibuk bereksplorasi mengikuti berbagai organisasi/UKM. Namun ketika mahasiswa terhabiskan waktunya untuk hal-hal tersebut, fokus pada ranah dirinya sendiri; tugas, organisasi, dan lain lain, maka pelan tapi pasti akan menghilangkan esensi mahasiswa itu sendiri. Apa esensi dari mahasiswa? Menjadi agent of change, agen perubahan, yang berdiri di garda terdepan ketika terjadi persoalan. Mahasiswa berbeda dengan siswa, yang duduk manis mendengarkan guru menjelaskan, mengerjakan tugas yang diberikan, mengikuti ekstrakurikuler untuk melatih skill, bukaan! Mahasiswa dididik untuk bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan, yang goals harapannya adalah bisa berkontribusi membawa negri ini menjadi lebih baik.

Mahasiswa yang disibukkan oleh tugas-tugas akhirnya hingga habis waktu mereka untuk dirinya sendiri. Tidak ada waktu untuk memikirkan masalah lingkungan sekitar, perpolitikan hari ini, dan lain sebagainya. Jangankan memikirkannya, meliriknya saja tidak. Asal tidak berdampak pada dirinya dan keluarganya ya sudah, biarin, bodo amat. Padahal idealnya mahasiswa bukanlah seperti ini. Idealnya mahasiswa adalah mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan baik dan benar sekaligus melek terhadap fakta hari ini. Karena jika bukan mahasiswa yang peduli terhadap persoalan negri ini, siapa lagi?

Akibat dari penerapan program ini waktu mereka dihabiskan untuk fokus pada diri mereka sendiri, agar mereka abai terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka, problematika-problematika yang terjadi di negri ini. Mengapa demikian? Karena inilah yang diinginkan oleh penguasa hari ini. Mereka ingin para mahasiswa acuh terhadap kondisi hari ini agar mereka bebas melakukan apa saja sesuai dengan keinginan mereka. Dan hal ini sangat didukung oleh sistem yang diterapkan hari ini. Dari sistem pendidikan mereka disibukkan oleh tugas-tugas, untuk hiburan mereka diarahkan untuk memenuhi hawa nafsu mereka kepada 7F (fun, food, film, fashion, freesex, faith, finance). Lalu mengapa penguasa menginginkan demikian? Bukankah seharusnya penguasa menginginkan para mahasiswanya memiliki daya pikir dan sikap kritis dan politis, yang peduli terhadap kondisi lingkungan hari ini?

Inilah yang terjadi akibat diterapkannya sistem kapitalisme-sekulerisme, yang mana asasnya adalah asas manfaat, serta pemisahan antara agama dengan kehidupan. Kebijakan yang dikeluarkan adalah kebijakan yang memberikan manfaat bagi pemeluknya, tidak peduli apakah itu benar/salah, atau kebijakan itu berdampak buruk pada orang lain atau tidak, maka wajar saja hal ini bisa terjadi. Namun apakah kondisi seperti ini ideal? Tentu saja tidak, karena sejatinya sistem diterapkan adalah untuk mengoptimalkan peran setiap individu bukan malah mengalihkan kepada hal yang tidak berfaedah atau ketidakmaksimalan. Juga karena hal ini bertentangan dengan agama. Maka apa solusi yang solutif untuk problematika ini? Hanya satu jawabannya yaitu Islam, menyatukan kembali agama dengan kehidupan. Karena Islam telah mengatur segala aspek kehidupan, bukan hanya sekedar ibadah mahdhoh; sholat, puasa, zakat, dan lain lain melainkan semua aspek. Dan yang dipahami bersama-sama bahwa aturan Islam berasal dari Al Qur'an dan hadits yang berasal dari sang pencipta alam semesta ini. Yang mana sang pencipta tidak mungkin membuat aturan yang merusak ciptaannya sendiri.

Wallahu a'lam bishowab

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Karena hujan adalah waktu mustajab

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

MTsN Bantul Beri Penghargaan 10 GTK

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Image

Video Kreatif Keren Tanpa Asap Rokok Lapas Perempuan Palembang Juara 1 pada HUT Yayasan Jantung Seha

Image

Apa sih itu Kebidanan? Apakah Bidan Berperan dalam Komsel kepada Pasien

Image

Bersama AFKSI, FK UMP Gelar Webinar Penanganan Stunting

Image

Sisfo Salurkan Bansos Korban Longsor Parangloe

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image