Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adinda Afifah Damayanti

Trend Typing: Mengurangi Kemampuan Berbasa

Eduaksi | Sunday, 31 Oct 2021, 22:16 WIB
Ilustrasi orang sedang chating menggunakan trend typing. Source: unsplash.com

Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Dengan berkomunikasi kita dapat dengan mudah mendapatkan berbagai informasi. Komunikasi juga salah satu cara agar kita bisa terus terhubung dengan lingkungan. Masih banyak kelebihan dan manfaat dari komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pandemi covid-19 membuat seluruh komunikasi menjadi komunikasi virtual atau daring. Hal ini tentunya membuat perubahan besar dalam hubungan sosial kita dengan lingkungan. Media sosial merupakan salah satu saluran untuk berkomunikasi dengan dunia luar selama pandemi. Berdasarkan laporan dari kominfo.go.id pengguna internet di Indonesia juga meningkat selama pandemi, tentunya hal itu juga membuat pergeseran penggunaan internet ke perumahan-perumahan.

Komunikasi di media sosial biasa disebut dengan chatting, biasanya komunikasi tersebut dilakukan via teks baik melalui aplikasi whatsapp, line, instagram maupun aplikasi chatting lainnya. Namun, terdapat berbagai budaya yang hadir di masyarakat saat mengobrol via teks dengan kawannya melalui melalui media sosial.

Budaya yang hadir di kalangan masyarakat ini tergantung dengan trend yang sedang beredar pada masanya. Saat remaja penulis pernah menemukan berbagai gaya berinteraksi via teks menggunakan bahasa yang sama sekali tidak sesuai dengan kata aslinya seperti “maniezz”, “iyach”, “nich”, “ouch gituh” dan lain sebagainya. Kata-kata ini mungkin akan disebut sebagai kata yang alay oleh orang-orang dewasa, bahkan kata ini juga terkadang membuat pembaca awam kesulitan untuk memahaminya.

Tak hanya itu, terkadang banyak para pengguna media sosial yang menggunakan bahasa singkat dalam kegiatan interaksi nya di media sosial. Bahkan terkadang singkatan tersebut menghilangkan beberapa huruf vokal sehingga membuat pembaca sulit memahami maksud dari komunikator.

Selain itu terdapat trend lain yakni trend “typing cantik/ganteng” yang pernah penulis temui dalam penjelasan di salah satu akun tiktok. Trend tersebut juga biasa menggunakan kata dengan double huruf vokal maupun konsonan seperti “udda”, “iyyaa”, “makasii”, “mfff”, “cantiiiikkk” dan lain semacamnya. Bahkan trend ini pun memiliki ketentuan nya tersendiri seperti kata tidak disingkat, memakai huruf kecil di awal kalimat dan tidak menggunakan capslock dalam penulisannya.

Terdapat berbagai macam jenis typing dalam berkomunikasi di media sosial. Terkadang, masyarakat juga lupa untuk menyertakan tanda baca dalam penulisannya, hal tersebut tentunya menimbulkan pemahaman lain yang diterima oleh penerima pesan.

Tak ada salahnya memiliki berbagai preferensi typing atau penulisan dalam berkomunikasi di media sosial. Selama tidak digunakan dalam penggunaan penulisan resmi bahasa indonesia di sekolah, kuliah maupun surat-surat penting lainnya hal tersebut tidak menjadi masalah yang besar. Namun hal tersebut tentunya memiliki efek jangka panjang bagi penggunanya.

Entah apa yang dipikirkan para pengguna trend tersebut atau hanya ingin ikut-ikutan trend berbagai typing itu. Hal itu tentunya dapat mengurangi kemampuan berbahasa dari tiap orang, apalagi jika pengguna trend tersebut ialah seorang pelajar atau remaja. Tentunya hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan hingga ia dewasa.

Contoh saja, penggunaan huruf kecil di awal kalimat, tentunya hal itu menyalahkan kaidah kebahasaan Bahasa Indonesia yang seharusnya menggunakan huruf kapital di awal kalimat. Selain itu, penggunaan huruf ganda dalam penulisan tentunya dinilai tidak memiliki manfaat atau urgensi tertentu selain hanya untuk estetika, yang bahkan menurut penulis sama sekali tidak indah untuk dilihat. Belum lagi penggunaan tanda baca yang tidak sesuai, jelas dapat mengubah arti dan makna bagi penerima pesan. Hal tersebut tentunya akan membuat penerima pesan salah paham dengan apa yang dimaksud oleh komunikator.

Penggunaan trend typing dalam chatting jelas hanya akan membuat kemampuan berbahasa Indonesia generasi muda menurun. Pasalnya dalam trend tersebut dinilai tidak memiliki kelebihan apapun selain hanya untuk gaya-gayaan saja. Oleh karena itu dalam penutupan bulan bahasa ini seharusnya generasi muda memiliki kesadaran untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam chatting yang sesuai dengan kaidah kebahasaan sehingga dapat meningkat kemampuan berbahasa juga mempermudah penerima pesan untuk memahami maksud dari pesan tersebut.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image