Memfungsikan Akal: Terapi atau Tragedi?

Image
Ali Sajad
Edukasi | Wednesday, 22 Jun 2022, 16:09 WIB
Sumber: artikula.id

Manusia hanyalah bagian kecil dari bumi yang besar dan luas. Namun di dalam diri manusia terdapat bumi dan seisinya. Manusia terlahir sebagai ciptaan yang terdiri dari ‘anasir hayatiyah (unsur-unsur kehidupan). Manusia kemudian disebut sebagai mikrokosmos (jagat kecil) yang di dalamnya berisikan tanah, air, udara, tumbuhan dan hewan.

Begitu pula dengan manusia. Ia terdiri dari tanah sebagaimana asal muasalnya, di dalamnya ada air dan juga udara. Dalam diri manusia juga ada hewan dan tumbuhan. Namun bukan berupa materil yang dapat ditangkap oleh panca indra. Ia immateril, lebih kepada sifat dan perwatakan, yang disebut dengan jiwa hewani (al-hayawaniyyah) dan jiwa nabati (al-nabatiyyah).

Manusia dapat merefleksikan sifat hewan. Hewan itu cenderung ingin berkuasa di antara kawanannya. Dalam hutan rimba, yang kuat akan selalu menang. Penguasa hutan akan selalu menghajar mangsanya tanpa ampun. Begitu pula dengan manusia, walaupun sebagian filsuf dengan teori humanisme, mengatakan bahwa manusia terlahir disertai sifat baik dan positif. Apabila ada perilaku buruk dan negatif berarti fitrahnya sebagai manusia tidak mampu menghadapi tantangan yang berasal dari lingkungannya. Sifat ingin selalu menguasai, tidak mau dikuasai, tidak mau diatur inilah yang disebut sebagai hayawaniyyah.

Selain itu manusia juga bisa menjadi tumbuhan saja. Berjiwa layaknya tumbuhan. Tidak bergerak. Ia akan selalu berada pada tempat dimana ia tumbuh. Manusia juga demikian. Ada kalanya seseorang itu tidak melakukan apa-apa. Tidak mau mencari tahu dan mengeksplor apa yang ada di luar sana. Ia hanya diam, hanya menjadi dirinya sendiri. Orang di golongan ini sukar untuk melakukan sesuatu yang melelahkan. Pikirnya, “Untuk apa? Toh rezeki sudah diatur oleh Tuhan”. Memang benar sejauh apapun manusia ingin sukses, jika memang Tuhan menakdirkan kegagalan, maka ia akan tetap gagal.

Tapi disinilah masalahnya. Banyak orang tidak menyadari bahwa berusaha semaksimal mungkin itu merupakan salah satu seni merayu Tuhan. Tuhan itu sangat mencintai kita. Maka balaslah cinta-Nya dengan sering-sering merayu-Nya, dengan selalu memanjatkan doa, meminta dan memohon kepada-Nya. Rezeki kita ada di tangan-Nya. Maka rayulah Dia dengan untaian doa dan rangkaian usaha, tentunya dengan ikhlas dan cinta.

Dari sini kita mengetahui bahwa manusia sangat berpotensi menjadi binatang dan menjadi tumbuhan, karena jauh di dalam diri manusia terdapat jiwa hewani dan jiwa nabati. Maka jangan heran ketika ada kawan kita yang dalam satu kesempatan bersikap seperti hewan atau diam tak berkontribusi apa-apa seperti pohon, karena itu memang tabiat manusia.

Manusia adalah hewan. Manusia adalah tumbuhan. Namun, hewan dan tumbuhan bukanlah manusia. Mengapa bisa seperti itu?

Ada satu hal yang menyebabkan hewan dan tumbuhan tidak dapat menjadi manusia. Hewan dan tumbuhan tidak punya akal. Akal merupakan anugerah yang sangat berharga yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Dengannya, manusia dapat memilih untuk melanjutkan hidupnya. Apakah dia akan tetap ingin menjadi manusia sebagaimana ia dilahirkan, atau ia malah memilih untuk menjadi hewan atau juga tumbuhan.

Itulah manusia, satu-satunya ciptaan Tuhan yang bisa menghindar dari fitrahnya sebagaima ia dilahirkan. Menjadi manusia memang sebuah takdir. Namun menjaga martabat kemanusiaan adalah pilihan.

Untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, kita harus menggunakan akal kita sebaik mungkin. Jangan hanya sekedar punya, tapi dipakai. Tuhan hanya menciptakan akal. Sementara penggunannya Dia pasrahkan kepada manusia. Tuhan hadiahkan itu untuk makhluk tercintanya, manusia.

Akal itu bisa menjadi obat, sekaligus menjadi racun. Apabila ia digunakan untuk hal-hal positif, dipakai untuk menyikapi semua kejadian dengan kepala dingin, ia akan menjadi obat untuk sebuah kesengsaraan. Misalnya kita berdoa agar kita mendapatkan A, namun kenyataannya B. Bagaimana cara menyikapinya?

Kalau hanya menggunakan teori “menerima keadaan”, saya rasa itu tidak cukup. “Menerima” hanya akan membawa kita pada posisi netral, tidak senang dan tidak sedih. Sekali-kali kita harus meniru gaya sahabat Ali bin Abi Thalib agar kita mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar “tidak apa-apa”. Ia pernah berkata, “Apabila aku berdoa, kemudian dikabulkan, maka aku senang. Namun apabila doaku tidak terkabulkan, aku lebih senang. Karena yang pertama itu adalah pilihanku, sedangkan yang kedua adalah pilihan Tuhan”.

Begitulah akal yang difungsikan. Manusia mampu memahami tabir dalam takdir. Menemukan hikmah dalam pasrah. Menjadi manusia seutuhnya dengan akal yang tidak sia-sia.

Beda lagi jika akal kita digunakan tidak semestinya. Bukannya menjadi obat, ia malah menjadi racun yang mematikan.

Dalam dunia filsafat, akal memang diyakini sebagai sesuatu yang superior. Ia sangat diagung-agungkan karena akal sangat berharga. Dengan akal, manusia dapat berpikir mengenai suatu hal hingga detail terkecil. Akal bisa menembus garis pembatas antara kenihilan dan keniscayaan. Namun jangan biarkan akal bergerak bebas tanpa kendali, tanpa diantisipasi oleh hati nurani. Apabila akal kita tergelincir sedikit saja, akal hanya akan membawa kita pada ajal.

AKAL dan AJAL. Tiada perbedaan yang berarti antara akal dan ajal. Yang membedakan antara keduanya adalah huruf “k” dan “j”. Coba perhatikan keyboard anda. Tombol “k” dan “j” sangat berdekatan. Kalau anda sedang mengetikkan kata “akal”, kemudian anda typo, maka kemungkinan anda akan menulis “ajal”.

Begitu pun dalam kehidupan nyata. Jika anda menggunakan akal tanpa kehati-hatian, ia hanya akan menjadi jalan menuju kematian. Mungkin tidak sepenuhnya mati, namun anda akan menyerah pada keadaan, pasrah pada ketentuan Tuhan, tak berdaya menghadapi cobaan. Anda tidak lagi memiliki gairah dan semangat untuk hidup. Itu sama aja dengan mati, bukan?

Ketika anda tidak menerima takdir Tuhan, anda akan menvonis Dia. “Ah, Tuhan itu jahat”, “Tuhan, Engkau tidak adil”, “Tuhan, apa salahku? Aku telah berlama-lama dalam sujud dan doa, mana janji-Mu?” Anda akan membenci Tuhan. Dan ujung-ujungnya, “Yasudah lah, percuma saja, sekarang aku putus asa”. Anda memilih mati tanpa sebuah harapan.

Lebih dari itu, anda juga berpotensi untuk bersikap irasional. Orang yang benci itu mentalnya rusak. Ketika mental rusak, otak dan akalnya tidak akan mampu memutuskan ke arah mana ia akan melangkah menuju kebahagiaan. Ketika akalnya tidak sehat, ia akan sulit membedakan antara yang bisa membangun dan yang dapat menjatuhkan. Ketika anda terjatuh, akal pun akan luka, kemudiaan menderita, dan mati bersama anda.

Akal dapat menjadi obat, dapat pula menjadi racun. Menfungsikan akal dapat menjadi terapi yang menyembuhkan sekaligus tragedi yang menyakitkan. Maka, gunakan akal anda untuk mengendalikan akal itu sendiri, hingga mendekatkan anda kepada Sang Penghentas Kesengsaraan. Jangan biarkan akal itu justru menjauhkan anda dari Sang Pemilik Kebahagiaan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Kesekian Kali

Image

Puskesmas Terbaik DKI Jakarta Berdasarkan Review Terbaru

Image

Ruang Lingkup Morfologi

Image

Pengaruh k-pop terhadap remaja

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Image

Video Kreatif Keren Tanpa Asap Rokok Lapas Perempuan Palembang Juara 1 pada HUT Yayasan Jantung Seha

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image