Pola Pembelajaran Konvensional hingga Bermedia
Eduaksi | 2021-10-09 08:29:52
Pada kenyataannya proses pembelajaran IPA belum mencerminkan kegiatan yang mandiri, menyeangkan siswa, karena pembelajaran yang kurang variatif cenderung menggunakan model ceramah belum menggunakan media pembelajaran yang interaktif, yakni pembelajaran yang sangat berpusat pada guru yang menjelaskan materi, pembelajaran pun menjadi kurang bermakna kurang diapresisasi siswa. Pembelajaran tersebut disebut dengan pembelajaran konvensional karena proses pembelajaran yang dilakukan dengan siswa mendengarkan penjelasan guru kemudian dilanjutkan dengan memberikan soal untuk dijawab oleh para siswa.
Terkadang pembelajaran konvensional hanya dilakukan didalam ruang kelas dengan metode ceramah. Karena pembelajaran tersebut tidak menuntut siswa untuk memahami informasi yang diingatnya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran hal seperti itu jika dilakukan secara berulang-ulang siswa merasa cepat bosan, karena setiap dipertengahan pembelajaran para siswa sudah tidak fokus dengan apa yang sedang dijelaskan oleh guru. Serta dengan pembelajaran ceramah kurangnya sikap ilmiah, yaitu kurangnya keberanian siswa dalam mengungkapkan gagasan, rasa ingin tahu siswa, bahkan siswa cenderung pasif. Adapun alasan terkuat mengapa guru tidak menggunakan media yaitu kurangnya sarana dan prasarana di sekolah tersebut, mengakibatkan siswa berpikir abstrak sangat berpengaruh terhadap kurangnya antusisa siswa dalam pembelajaran berlangsung.
Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar sebaiknya memberikan kebebasan pada siswa, kebebasan untuk membuat suatu hal dalam kegiatan belajar, atau dengan merancang dan menemukan sesuatu dengan cara mandiri, agar para siswa senang dengan pembelajaran IPA, karena pada umumnya pembelajaran dilakukan secara konvensional yaitu dengan ceramah siswa hanya mendengarkan, mencatat, menghafal, lalu menjawab pertanyaan yang sudah ada di dalam buku. Untuk menggantikan pola pembelajaran konvensional terbitlah pembelajaran inovatif yang belum menggunakan media namun pembelajaran tidak dengan metode ceramah, ada beberapa pembelajaran tanpa media namun dapat diterapkan ketika pembelajaran IPA seperti dengan, pembelajaran yang kooperatif yakni dengan membentuk kelompok kemudian melakukan kegiatan belajar bersama-sama dalam setiap kelompok guna mencapai satu tujuan yang slaing berargumentasi, berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang diberikan yaitu dengan Student Teams Achievment Division (STAD) model pembelajaran seperti ini dengan melibatkan 4-5 orang siswa dalam satu kelompok. Kemudian .
Pembelajaran inkuiri terbimbing sesuai diterpakan di kelas yang siswanya bervariasi, model pembelajaran ini berpusat pada peserta didik, peserta didik dilatih mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Inkuiri memiliki makna metode pembelajaran yang yang mengharuskan siswanya mampu merumuskan masalah, mengumpulkan data, eksperimen, dan analisa data hingga mengambil keputusan sendiri. Dalam pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek saat belajar dan guru sebagai pembimbing saat pembelajaran berlangsung.
Kemudian pembelajaran pair check spencer, pembelajaran ini dipopulerkan oleh Spencer Kagen, yang memiliki arti pasangan mengecek, yang mampu melatih kemandirian, kemampuan dalam menjawab pertanyaan secara berkolompok dan berdiskusi, namun model pair check spencer hanya beranggotakan 2 orang yang asatu sebagai pelatih dan satu lagi sebagai partner yang bertugas menjawab pertanyaan dari pelatih.
Adapun Pembelajaran inovatif dengan menggunakan model pembelajaran diluar kelas yaitu menggunakan berbasis lingkungan yang menjadi solusi alternatif, karena dengan pembelajaran denagn model berbasis lingkungan siswa belajar mencari, mengamati, menyelidiki, sehingga siswa dapat dengan mudah membangun konsep sendiri dan langsung terlibat dalam pembelajaran.Kemudian pembelajaran inovatif yang dibarengi dengan media pembelajaran seperti Pembelajaran yang interaktif, menyenangkan penuh dengan inovasi seperti dengan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) yang berpadu dengan media qustion card dengan model pembelajaran tersebut guru ditempatkan sebagai fasilitator atau yang memfasilitasi siswa ketika aktivitas belajar.
Selanjutnya model pembelajaran SAVI (somatic, auditorry, visualization, and intelectuality) yakni pembelajaran yang terrcipta beberapa kegiatan seperti mendengar, melihat, sampai pada tahap mengkreasi sebuah karya dengan kemampuan siswa itu sendiri yang dibantu dengan media video. Selain itu ada model pembelajaran scramble model pembelajaran yang dilakukan dengan disediakannya kartu soal dan kartu jawaban yang sudah diacak nomor untuk mempermudah siswa dalam mencari jawaban serat hal tersebut mendorong siswa untuk memecahkan masalah dengan cepat.
Kemudian pembelajaran menggunakan media Pembelajaran menggunakan media hadir sebagai pengganti pembelajaran yang konvensional, pembelajaran dengan menggunakan media tidak harus dengan media teknologi yang maju sperti IT namun dapat diatasi dengan media yang sederhana namun dikemas dengan sebaik mungkin. Ada beberapa pemnelajaran yang menggunakan media diantaranya, pembelajaran IPA menggunakan media komik, yang dirancang agar buku terkait pembelajarn IPA lebih menarik dan menyenangkan apabila dibaca, pembelajaran dengan IT digabungkan antara teknologi augmented reality berbasis android yang dipadukan dengan buku edukasi IPA. Pada umunya buku pembelajaran hanya bergambar 2 dimensi namun dengan teknologi augmented reality berbasis android gambar menjadi lebih terlihat nyata dan jelas selain itu pembelajaran IPA dengan media animasi
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
