Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image sewelas11 wae

Daringmu Adalah Kreativitasmu

Guru Menulis | 2021-09-30 11:13:33
Daring tema macam-macam buah Foto/ Dokumen Pribadi

Daringmu Adalah Kreativitasmu

Tahun ajaran baru yang kemarin 2020/2021 dan 2021/2022 kali ini berbeda dengan tahun ajaran yang dulu-dulu. Untuk kali pertama dalam dunia pendidikan Indonesia tahun ajaran baru tanpa ada tatap muka antara guru dan murid di sekolah. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas untuk sementara menggunakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah. Dengan adanya pandemi yang belum berakhir maka pembelajaran model daring/ online yang menjadi alternatifnya.

Pembelajaran daring mengharuskan guru untuk bisa memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan meskipun tidak saling bertemu. Dalam hal ini kreativitas dan inovasi seorang pendidik dituntut dan diuji. Meninggalkan zona nyaman yang mungkin selama ini banyak guru yang lakukan. Tanpa inovasi dan kreativitas dalam mengajar di kelas sebelum adanya wabah corona.

Guru pada masa pandemi ini selain dituntut untuk bisa, terus berinovasi dan berkreasi juga diharuskan untuk tidak gagap teknologi. Pemanfaatan teknologi sekarang ini harus bisa menjadi bagian dari pembelajaran. Jangan sampai guru tidak bisa memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang pesat. Banyaknya aplikasi-aplikasi pembelajaran daring harus dipelajari dan dikuasai oleh seorang guru melalui gadget, komputer atau laptop. Sehingga nantinya bisa mempermudah tugas guru dalam memberikan materi dalam pembelajaran daring.

Mengutip Kompas.com, Pemerintah melalui Kemendikbud bekerja sama dengan berbagai platform menyediakan aplikasi pembelajaran daring atau online yang dapat diakses oleh seluruh siswa di Indonesia, dengan tujuan untuk mempermudah pembelajaran daring, antara lain: Rumah Belajar, Meja Kita, Icando, IndonesiaX, Google for Education, Kelas Pintar, Microsoft Office 365, Quipper School, Ruangguru, Sekolahmu, Zenius, serta Cisco Webex. Aplikasi-aplikasi tersebut bisa digunakan dan disesuaikan dengan jenjang pendidikannya dan juga disesuaikan dengan tingkat usia anak didik. Guru tinggal memilih aplikasi yang sesuai dengan jenjang pendidikan yang diampunya.

Materi-materi pembelajaran yang akan disampaikan pada setiap jenjang pendidikan dari PAUD (KB dan TK), SD, SMP, SMA dan bahkan perguruan tinggi (PT) pastinya mempunyai banyak perbedaan dan mempunyai ciri khas tersendiri serta disesuaikan dengan tingkat usia masing-masing peserta didik.

Menurut Direktur PAUD Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhammad Hasbi, sekitar 98 persen satuan PAUD menyelenggarakan pembelajaran di rumah selama pandemi Covid 19. Jadi bisa dikatakan bahwa ditingkat satuan pendidikan PAUD juga melakukan pembelajaran di rumah saja tanpa tatap muka di sekolah. (m.mediaindonesia.com).

Untuk jenjang pendidikan PAUD (KB dan TK) yang usia didiknya pada masa keemasan atau golden age, yaitu usia dibawah lima tahun, guru dalam memberikan materi pembelajarannya harus benar-benar memperhatikan tumbuh kembang dan karakteristik anak. Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentan usia 0-6 tahun (UU Sisdiknas tahun 2003). Sedangkan menurut Sigmund Freud berpendapat bahwa periode usia dibawah lima tahun sebagai periode emas bagi tumbuh kembang anak, karena dalam periode tersebut anak mengalami perkembangan yang pesat. Sekitar 50 persen kecerdasan orang dewasa mulai terbentuk di usia 4 tahun.

Karakteristik anak usia dini sangat bermacam-macam dan beraneka ragam. Menurut Sofia Hartati (2005: 8-9) karakteristik anak usia dini sebagai berikut: 1). Memiliki rasa ingin tahu yang besar, 2). Merupakan pribadi yang unik, 3). Suka berfantasi dan berimajinasi, 4). Masa potensial untuk belajar, 5). Memiliki sikap egosentris, 6). Memiliki rentan daya kosentrasi yang pendek, 7). Merupakan bagian dari mahluk sosial.

Oleh karena itu guru PAUD dan orang tua harus memahami dan mengerti tentang hal tersebut. Jangan sampai masa keemasan anak terlewatkan begitu saja sehingga nantinya anak pun tumbuh dan kembangnya kurang maksimal, tidak sesuai dengan yang diharapkan. Karena 10 sampai 15 tahun kemudian anak-anak PAUD tersebutlah yang akan menjadikan bangsa Indonesia ini kuat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain diseluruh dunia. Jadi tidak asal-asalan dalam pembelajaran daringnya.

Pembelajaran daring pada PAUD harus ada kerjasama, sinergi, dan komunikasi yang baik antara guru dengan orang tua di rumah. Karena anak pada usia PAUD belum bisa berpikir dan mencerna secara cepat dan tepat seperti orang dewasa. Bimbingan dan panduan dari guru dan orang tua secara konsisten dapat membantu anak untuk mengerti dan memahami setiap tugas yang diberikan kepada anak.

Menurut penulis ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh seorang guru PAUD sebelum merencanakan dan melakukan pembelajaran metode daring. Pertama, stimulus atau rangsangan. Lewat rangsangan atau stimulus yang tepat dan baik akan dapat membuat anak menjadi insan pribadi yang percaya diri, displin, mandiri, mempunyai sosialisasi yang baik dengan lingkungannya, bersemangat serta mempunyai ide-ide atau imajinasi dalam banyak hal. Stimulus atau rangsangan pada anak PAUD salah satunya didapat melalui permainan.

Kedua, pembelajaran di PAUD adalah dengan bermain. Bermain adalah belajar. Bermain merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang sangat disukai oleh semua anak. Dengan bermain suasana hati anak menjadi senang dan gembira, sehingga secara tidak sadar otak anak pun menjadi tenang dan pada akhirnya dengan mudah menyerap banyak hal yang ia terima dengan lebih cepat dan baik. Pemberian tugas materi daring lewat bermain diharapkan dapat membuat anak lebih senang dan antusias. Karena yang diketahui dan dirasakan oleh anak ia sedang bermain bukan sedang belajar. Dengan bermain anak dikenalkan yang namanya pengelolaan atau manajemen waktu, cara mengatasi masalah/ konflik dan juga kewajiban sosial untuk dirinya yaitu bersosialisasi dengan lingkungannya.

Ketiga, memandu anak. Kegiatan memandu ini adalah kegiatan yang harus ada untuk anak pada satuan PAUD, karena pada usia PAUD anak-anak belum bisa mengerti dan memahami apa-apa yang disampaikan oleh guru (orang tua) dengan cepat dan tepat. Mereka hanya sebatas menerima informasi saja belum bisa mencerna dengan baik. Maka anak-anak butuh panduan dan bimbingan setiap menerima tugas pada pembelajaran daring.

Keempat, parental care. Artinya yaitu bahwa guru (orang tua) lah yang mempunyai kewajiban dalam mendidik anak mengenai tingkah laku, sikap, dan juga penanaman kebiasaan-kebiasaan yang baik pada anak. Guru atau orang tua teladan bagi anak dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian tugas daring harus ada contoh dari guru dan juga orang tua agar anak bisa tahu, paham dan mengerti apa maksud dan tujuan dari tugas yang diberikan. Sehingga anak pun melakukan kegiatan daring lewat permainan merasa senang dan gembira dikarenakan ada contoh atau ditemani oleh orang tuanya (guru lewat daring). Semoga dengan perencanaan dan persiapan yang matang dan baik lewat kreativitas guru, maka pembelajaran daring pada jenjang PAUD bisa berjalan dengan maksimal dan berhasil. Sehingga pada akhirnya menghasilkan anak didik yang hebat dan kuat. Negara pun menjadi kuat dan hebat. Aamiin. Wallahu A’lam Bisshowab.

#LombaMenulisOpini #DaringmuAdalahKreativitasmu

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image