Refleksi, Anak-anak Pandemi
Lomba | 2021-09-24 21:32:10
âAnakku nglarang aku ikut vaksin, tapi aku pengen vaksin.â
âKenapa anakmu nglarang?â
âKatanya, âbapak sudah usia tua, gak usah (vaksin) takut kenapa-kenapaâ.
Itu sekelumit cerita teman sekantorku di Jakarta beberapa bulan lalu. Anak bungsunya, sebut saja namanya Putri yang duduk di bangku SMP, melarangnya ikut vaksinasi Covid-19. Cemas, akan kondisi bapaknya yang sebenarnya masih berusia 51 tahun.
Belakangan pada awal Agustus 2021 lalu, temanku itu tetap ikut vaksinasi dosis petama, tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Kondisi tinggal di rumah yang berbeda dengan anak-anak dan istrinya, membuatnya tidak kesulitan untuk menyembunyikan soal keikutsertaannya vaksinasi.
Putri lebih âberuntungâ jika dibandingkan anak-anak lain yang kehilangan kedua orangtuanya sekaligus karena terpapar Covid-19. Melansir dari berita Republika.co.id, ada berderet nama anak-anak yang kehilangan orangtuanya.
Sebut saja Raffa Abdul Maulana, bocah berusia 4 tahun di Kampung Samaran, Garut Jawa Barat, harus kehilangan orangtuanya karena Covid-19. Kedua orangtuanya âpergiâ dalam waktu berdekatan.
Erinda Pratiwi bocah berusia 10 tahun yang tinggal di di Bantul, Yogyakarta, kehilangan ibunya karena Covid-19. Sementara Ayah Erinda sudah tiada sebelum pandemi.
Lebih memilukan lagi nasib yang dialami Annora Nurani Anindia atau Rara, bocah berusia 11 tahun di Tambaksari, Surabaya. Rara menjadi yatim piatu setelah ibu, ayah dan kakek neneknya menjadi korban keganasan Covid-19. Dia lalu diasuh bibinya yang mengalami tuna wicara. Sunguh memilukan.
Tak terbayangkan bagaimana hancurnya perasaan anak-anak itu. Mereka harus berjuang hidup tanpa kedua orangtuanya.
Seperti Membalik Telapak Tangan
Raffa, Erinda, dan Rara tidak sendiri. Ada ribuan anak yang bernasib malang, gegara pandemi. Patut disimak data dari Kementerian Sosial Indonesia yang dikumpulkan sampai akhir Juli tahun ini, tentang jumlah anak yang kehilangan orang tua semasa pandemi. Melihat jumlah kematian warga Indonesia yang berusia antara 19 sampai 45 tahun, diperkirakan ada 11.045 anak yang kehilangan satu atau kedua orang tua semasa pandemi sampai sekarang.
Lebih miris lagi, menengok data dari LSM independen, Kawal COVID-19 yang memperkirakan angkanya melebihi 50 ribu anak, yang nantinya bisa menjadi korban karena meninggalnya orang tua mereka. Angka itu berpotensi bertambah, mengingat pandemi belum berakhir hingga saat ini.
Kisah-kisah di atas, memberikan gambaran bagaimana dampak pandemi Covid-19 yang membuat kondisi hidup bisa berubah seketika. Berubah dengan cepat dan mudah bak membalik telapak tangan. Dari semula orang-orang terkasih ada di samping kita, seketika sudah tiada. Perubahan âdadakanâ yang tak mudah kita memrediksi.
Namun pandemi ini jika direnungkan lebih dalam, memiliki makna mendalam. Tak ada kejadian yang kebetulan. Pandemi melanda dunia sudah ditakdirkanNya. Jika demikian, mestinya baik atau buruk setiap kejadian yang kita rasakan, sebenarnya diciptakan dengan bertujuan baik. Ada tujuan baik yang tersirat di dalam pandemi yang harus kita sadari.
Coba kita rasakan, selama pandemi kepedulian dan rasa empati semakin meningkat. Di sisi lain kita semakin peduli akan menjaga kesehatan diri. Sama-sama senasib menghadapi pandemi yang mengharuskan kita lewati bersama.
Sedih. Itu yang langsung kurasakan saat membaca berita anak-anak yang kehilangan orangtuanya. Gundah saat membayangkan hati Raffa yang hancur ditinggal kedua orangtuanya dalam waktu teramat dekat. Nestapa saat membayangkan Erinda dan Rara yang hampa tak memiliki orang tua saat keduanya sangat membutuhkan kasih sayang orang tua. Meski tak mengenal sosok mereka secara langsung, yakin perasaan yang sama akan dirasakan oleh banyak orang.
Hati yang Berempati
Apa yang dirasakan âAnak-anak Pandemiâ itu barangkali harus ditanggung seumur hidupnya. Tekanan perasaan, depresi, dan gangguan emosional lainnya sangat mungkin dirasakan. Perasaan kehilangan orang yang dicintainya tak mudah diatasi. Kita pun yang bahkan tak ada pertalian darah, bisa merasakan.
Merenungkan apa yang dialami âAnak-anak pandemiâ, menjadi momentum untuk membangkitkan rasa solidaritas, saling berbagi dan membantu. Karena pandemi, kita semakin mudah tergerak hati. Tunas-tunas kepedulian semakin tumbuh. Relung-relung empati kita lebih mudah menangkap sinyal rasa kemanusiaan. Gampang tersentuh.
Kita pun lebih ringan tangan membantu sekitar. Mendukung tetangga yang sedang isolasi mandiri melalui bantuan makanan, obat-obatan dan apapun yang dibutuhkan. Kompak berdonasi saat ada info melalui grup-grup media sosial, terkait kebutuhan tabung oksigen. Banyak sekali contoh lain. Dari sisi lain, kita makin terpacu untuk meningkatkan literasi ruang lingkup menjaga kesehatan diri termasuk Kesehatan anak selama pandemi.
Tanpa sadar, selama 2 tahunan pandemi ini, kita sebenarnya bisa memaknai di balik âmusibahâ pandemi. Empati, kepedulian yang makin terkikis, lambat laun semakin menguat lagi. Itu sebuah nilai yang sangat berharga. Dari pandemi, kita belajar tentang sesuatu nilai. Rasa kemanusiaan tertinggi yang mungkin, selama ini kita sudah membuat nilainya merosot.
Jadi andai pandemi pergi, aku ingin kita bisa tetap menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang peduli, memiliki empati pada setiap makhluk. Saling berbagi, saling bantu saat orang lain susah. Sisi nurani kemanusiaan yang tak boleh padam. Andai pandemi pergi, empati tak boleh mati.
Referensi:
Ribuan Anak Indonesia Jadi Yatim Piatu Saat Pandemi
Tiga Pekan Terakhir, 50 Ribu Anak Indonesia Terinfeksi Covid
Mendesak Data Riil Anak Yatim Piatu Akibat Covid-19
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
