Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syaeful Cahyadi

Jeda Pandemi dan Budaya Baru

Lomba | Friday, 24 Sep 2021, 10:56 WIB

#LombaMenulisOpini

Tahun 2019 baru berjalan tiga bulan saat hampir semua orang dipaksa menelan pil pahit. Sebuah virus bernama COVID-19 yang di masa awal kemunculannya sering dibercandai ternyata berubah jadi pandemi serius di seluruh dunia. Dan di Indonesia, waktu-waktu setelah Maret 2019 lebih banyak berkisah tentang orang-orang kehilangan penghasilan dan bahkan anggota keluarga, ruang publik yang dipaksa sepi, serta – seperti biasa – satu-dua dana bantuan yang dikorupsi.

Mungkin, tidak ada yang menduga bahwa kita akan mengalami fase ini. Menghadapi sebuah virus berbahaya dan bisa tersebar lewat kerumunan, keramaian, atau perjumpaan fisik dengan sesama manusia. Keadaan ini akhirnya melemparkan kita ke ruang kesendirian demi keamanan diri sendiri. Rasanya, ia juga memaksa waktu terjeda di awal 2019 sebab hari-hari setelahnya seakan sama saja. Terasa sangat cepat, membosankan, sekaligus penuh kekhawatiran.

Hingga saat tulisan ini dibuat, sudah lebih dari sejuta orang di Indonesia terkena virus ini dengan korban meninggal lebih dari 100.000 orang. Sementara kebijakan PPKM juga masih berlaku di beberapa daerah. Vaksinasi terus dikebut demi terciptanya kekebalan kelompok. Di sisi lain, COVID-19 belum ditemukan obatnya dan kita tidak tahu kapan ini semua akan usai. Namun, rasanya tidak ada yang ingin situasi ini berlaku selamanya. Jauh di hati terdalam, kita tetap membayangkan aneka hal jika semua ini telah berlalu, entah besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan.

Suatu saat nanti, kala semua ini berlalu, ibarat kata, kita akan di-reset setelah sekian lama terjeda. Kita akan kembali mengalami kehidupan sebagaimana mestinya. Namun, kehidupan itu sejatinya telah berbeda dengan masa sebelumnya. Betapa tidak pernah sama, sebab jutaan orang telah kehilangan orang terdekatnya dan jutaan lainnya harus rela merelakan banyak kehilangan lain akibat jeda itu. Tidak pernah mudah juga, sebab aneka dampak pandemi butuh waktu lama untuk dipulihkan.

Usai jeda yang cukup lama ini, kita mungkin akan terlalu bersemangat mengembalikan segala sesuatu yang hilang akibat pandemi. Orang-orang akan bekerja kerasa lagi atau kembali ke sifat kompetitif lagi. Mereka yang memiliki lebih banyak uang mungkin akan membayar semua hal yang telah tertunda bertahun-tahun lamanya. Atau, kita semua sudah tidak perlu lagi memikirkan dan tidak perlu khawatir kenapa tetangga sebelah sudah berhari-hari tidak keluar rumah.

Terlepas dari segala duka akibatnya, pandemi itu mengajarkan kita, umat manusia, banyak hal. Gerakan warga bantu warga menjamur di banyak tempat, digerakkan oleh berbagai pihak. Orang-orang baik bermunculan berbagi untuk sesama. Media sosial pun berubah jadi ajang saling bertukar info soal penanganan pandemi, mulai dari info bantuan sembako hingga tabung oksigen. Situasi ini juga membuat kita sadar, betapa ucapan “Semoga sehat selalu ya,” terasa sangat hangat. Dahulu, mungkin kita tidak pernah membayangkan akan melangsungkan rapat, seminar, hingga wisuda secara online. Kita mungkin juga tidak pernah mengira, pertemuan keluarga harus berpindah ke ruang digital dan tetap bisa bermakna sama.

Setelah berlalunya masa sulit ini, mungkin kita akan menemukan manifestasi baru tentang arti hidup ini, tentang arti hadirnya orang lain, tentang arti kebersamaan walaupun terhalang jarak yang jauh sekalipun. Budaya-budaya baru yang selama ini terbentuk mungkin juga masih akan terus relevan untuk waktu ke depannya. Gotong royong, peduli sesama, mau memikirkan orang lain, dan aneka bentuk kebaikan lainnya.

Kelak, seiring waktu pemulihan pandemi COVID-19, bisa jadi hal-hal itu akan menjadi budaya dan kebiasaan baru bagi kita semua, bagi umat manusia pada umumnya. Bisa jadi kita akan lebih peduli kepada sesama. Sebab, mungkin saja Si Fulan itu telah kehilangan orang-orang tercintanya akibat virus ini dan kini hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Atau, bisa juga kita mampu memahami arti sebuah pertemuan fisik yang tidak sekadar saling pamer pencapaian dan sibuk bermain gawai. Ya, sebab kita pernah bertahun-tahun lamanya hanya bisa bersua lewat layar gawai yang kecil itu.

Seleksi alam akibat pandemi ini agaknya tidak hanya menyoal siapa kuat bertahan dan siapa tidak. Ia juga akan menyeleksi lagi aneka sikap, budaya, kebiasaan, dan cara pandang kita terhadap banyak hal. Mungkin saja, kelak, seminar daring bisa jadi sebuah alternatif baru yang lebih praktis, murah, namun tetap bisa menyenangkan. Atau, bisa juga, kita akan terus meramu formula pembelajaran jarak jauh untuk berjaga-jaga jika di masa mendatang sekolah harus ditiadakan lagi.

Saat tulisan ini dibuat, hampir 2 tahun sudah kita merawat dan memulai berbagai budaya serta kebiasaan tersebut di tengah situasi yang tidak pasti. Karena hal-hal itulah, banyak dari kita yang terbantu di tengah situasi sulit. Beberapa lainnya mungkin memelihara sikap dan budaya itu sebagai sebuah cara merawat optimisme. Bahwa, sesulit apapun situasi, banyak orang yang siap saling bantu di sekitar kita. Atau, sederhanannya, situasi sulit ini membuat kita bersyukur dan mampu merasakan hal-hal kecil yang selama ini dilewatkan begitu saja.

Segila apapun dunia esok setelah usainya pandemi, saya cukup yakin bahwa peninggalan dari masa ini bukan sekadar soal luka dan duka. Lebih jauh dari itu, kita akan punya cara dan sikap baru dalam menghadapi dunia di masa mendatang. Dengan aneka hal yang sudah kita mulai hari ini. Mungkin ini terasa hiperbolis, tetapi, bukankah sesuatu yang diulang-ulang dan kita mampu mempertahankannya adalah sebuah awal membentuk budaya? Sebuah budaya baru yang lahir dari prahara bernama pandemi COVID-19.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image