Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Khovivatul Mukorrobah

Dinamika Pasar Pabean di Tengah Perkembangan Kota Surabaya

Kultura | 2025-12-15 15:05:38
Potret Situasi Bagian dalam Pasar Pabean (Foto: Istimewa).

Pasar tradisional kini kerap dipandang berseberangan dengan citra kota modern yang serba cepat. Namun, pandangan semacam ini tidak selalu sejalan dengan realitas yang terjadi di lapangan. Pasalnya, Pasar Pabean Surabaya justru menunjukkan bahwa pasar tradisional tidak semata dapat bertahan, melainkan juga terus berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah laju perubahan kehidupan perkotaan.


Pasar Pabean telah berdiri sejak tahun 1849. Pasar ini berlokasi di kawasan Jalan Songoyudan, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan. Dulunya, kawasan tersebut dikenal sebagai pusat perkulakan rempah-rempah, namun seiring zaman kini Pasar Pabean telah berkembang menjadi sentra penjualan ikan segar terbesar di Jawa Timur. Keberadaan Pasar Pabean hingga kini pun tidak lepas dari sejarah kawasan sekitarnya yang banyak menjadi pertemuan berbagai aktivitas masyarakat.


Dalam keseharian, pasar ini bekerja melalui rutinitas jual beli yang relatif stabil hampir 24 jam. Aktivitas ekonomi yang berlangsung hampir sepanjang hari itu menjadi sumber penghidupan bagi banyak pedagang yang mayoritas merupakan lintas wilayah. Hubungan antara pedagang dan pembeli terbangun melalui pertemuan yang berulang. Pembeli cenderung kembali ke lapak yang sama karena mereka telah mengenal kualitas barang dan pola pelayanan pedagang. Relasi semacam inilah menunjukkan bahwa pasar tradisional tetap memiliki kepercayaan yang mungkin tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh sistem belanja modern saat ini.

Potret Aktivitas Penjual dan Pembeli di Pasar Pabean (Foto: Istimewa).

Struktur ruang Pasar Pabean juga tetap memperlihatkan cara kerja pasar tradisional yang khas. Area pintu masuk didominasi oleh penjual rempah-rempah dan bahan dapur kering, sementara bagian tengah pasar menjadi pusat penjualan ikan dan hasil laut. Ragam komoditas ikan juga banyak ditemui di area luar pasar yang tampak selalu ramai. Pola pembagian ruang ini kian menunjukkan bagaimana penjual menata sajian dagangan mereka dan pembeli bebas leluasa memilih lapak sesuai kebutuhan, sehingga setiap area selaras dengan fungsi-fungsinya.


Selain sebagai ruang aktivitas ekonomi, Pasar Pabean tampak dalam kawasan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Masyarakat Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa hadir dalam ruang yang sama. Keberagaman ini masih erat dijumpai dalam praktik keseharian di sekitar kawasan, seperti pada toko-toko mereka, bahasa yang digunakan, hingga jenis komoditas yang mereka jual. Dalam hal ini, pasar pun menjadi ruang pertemuan yang memungkinkan perbedaan dapat berjalan berdampingan.


Meski tetap bertahan dalam khas tradisional, Pasar Pabean bukan tidak mungkin berpotensi menghadapi tantangan ke depan dalam perkembangan kota seiring waktu. Persaingan dengan pasar modern, perubahan pola konsumsi masyarakat, serta persoalan fasilitas dan kebersihan mungkin bisa menjadi isu yang cukup krusial. Oleh karena itu, evaluasi terhadap Pasar Pabean perlu memperhatikan aspek bagaimana pasar dikelola dan dipahami dalam kebijakan perkotaan. Upaya perbaikan fasilitas dan penataan ruang dapat dilakukan tanpa menghilangkan karakter pasar sebagai ruang hidup masyarakat. Pendekatan terhadap praktik lokal juga tetap menjadi kunci agar pasar tradisional mampu bertahan dalam ciri khasnya, yang tidak semestinya dipaksa menyesuaikan diri dengan alasan modernisasi.


Pasar Pabean Surabaya telah memperlihatkan bahwa pasar tradisional masih memiliki posisi penting sekalipun berada dalam dinamika masyarakat perkotaan. Pasar tetap berfungsi sebagai ruang ekonomi yang menopang penghidupan pedagang sekaligus ruang sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat secara langsung. Melalui Pasar Pabean, kini menunjukkan modernisasi kota tidak selalu harus menghapus ruang-ruang lama, tetapi juga dapat berjalan dengan memahami dan merawat praktik yang telah hidup di dalamnya.


Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga angkatan 2023.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image