Gempa Susulan Varian Delta

Image
Salman
Eduaksi | Wednesday, 04 Aug 2021, 20:18 WIB

Pasca gempa NTB lalu, kita dapat ilmu baru bahwa gempa utama bisa disusul gempa "utama" berikutnya yang ternyata lebih besar dari gempa pertama, bahkan tidak hanya sekali. Gempa berikutnya lagi juga lebih besar. Bangunan yang tahan terhadap gempa pertama, belum tentu tahan dengan gempa berikutnya.

Apa hubungannya dengan judul tulisan ini terkait virus?

Kemarin ada "penikmat" virologi yang sharing bahwa virus itu kalau bermutasi makin lama makin lemah.

Teori lama memang menyebutkan bahwa virus itu kalau bermutasi akan makin jinak. Berdasar itu kita punya harapan bahwa Sarscov2 akan bermutasi makin jinak dari waktu ke waktu. Kita pun berharap begitu.

Ternyata temuan baru menunjukkan bahwa saat ini mutasi Sarscov2 malah menjadi lebih ganas. Lahir varian delta, lalu delta plus. Entah nanti apa lagi.

Bagaimana sikap kita?

Dudukkan persoalan ini dalam kerangka ilmu dan sains. Kita terbuka terhadap temuan/teori baru, seperti halnya ternyata gempa kedua dan ketiga bisa lebih besar dari gempa pertama.

Menjadi tidak sehat ketika kita meletakkan temuan baru itu dalan kerangka teori konspirasi yang penuh prejudice itu. Walhasil ada netizen yang langsung ngomong.. "Wah mana mungkin virus manjadi lebih ganas, hoax itu". Atau.. "Itu pasti bukan mutasi, tapi WHO dan John Hopkins yang nyebar virus baru, itu ada postingan di WAG".

Diduga, para penikmat virologi pemula itu hanya ambil referensi dari "orang lama" yang tidak terbuka dengan temuan-temuan baru. Lalu buru-buru menyimpulkan atau bahkan ikut berfatwa.

Namun dalam laporan di UK, Case Fatal Rate (CFR) varian delta itu 0,2-0,3%. Alfa 1,8-1,9%. Beta sekitar 1,4%. Jadi sebenarnya tidak lebih ganas secara efek. Yang menonjol dari varian delta adalah daya sebarnya (lebih infeksius), sehingga dalam waktu singkat, jumlah kasusnya menjadi dominan.

Tentu saja, angka CFR "serendah" itu juga berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan setempat yang mampu mendukung sehingga walau jumlah kasus melonjak tinggi, tapi CFR tetap rendah.

Jadi perspektif di awal tulisan di atas bukan hanya dari virologi, tapi menjadi lebih ganas dalam perspektif manajemen bencana. Risiko overload pasien meningkat, kapasitas RS overwhelmed, karenanya kualitas layanan bisa turun untuk semua pasien baik covid maupun non-covid.

Dulu gelombang sebelumnya, kebutuhan ventilator tidak sebanyak sekarang.

Perlu diteliti juga di Indonesia, angka kematian ibu hamil karena covid melonjak drastis di era delta ini.

Apakah butuh vaksin terbaru untuk setiap varian yg baru ditemukan?

Diyakini vaksin yang ada masih bisa mengcover delta.

Jadi istilah tambah ganas adalah lebih pada efek penyebarannya secara kuadrat.

Seperti pada gempa susulan tadi yang lebih besar. Atau jangan-jangan gempa yang dianggap utama itu rupanya bukan gempa utama. Dengan kata lain serangan virus yang sedang berlangsung saat ini belum puncaknya

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Semakin Banyak Anak Muda Aceh yang Melek Saham

Image

Cara Riset Kata Kunci Untuk Artikel Blog, Berikut Cara Mudahnya!

Image

Perlukah PPN Pendidikan?

Image

Garda Terdepan, Covid-19 Segera Padam

Image

Pembelajaran Di Saat Pandemi

Image

LAZ Harfa Salurkan Bantuan untuk Penyintas Banjir di Kabupaten Pandeglang

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image