Kebaikan, Perlu Energi Orang Lain

Image
Mohamad Su'ud
Agama | Wednesday, 04 May 2022, 06:44 WIB

Ada pertanyaan besar setelah lepas Ramadhan. Selama bulan Ramadan kita begitu bersemangat melaksanakan ibadah tarawikh, tadarus, bersedekah, qiyamullail, apakah kita tetap Istiqomah melaksanakan?

Hati kita, iman kita, begitu pasrah atas perintah Allah selama ramadhan. Kenapa ya? "Karena banyak yang melakukan". "Banyak temannya". "Kalau sendirian pasti tidak kuat". "Diluar ramadhan males baca Al-Qur'an". "Jangankan sholat tahajjud, sholat lima waktu saja sering lambat".

Itulah sebagian alasan lucu dari beberapa orang yang pernah menyampaikan kesannya selama ramadhan.

Apa hikmahnya? Berarti kebaikan harus ada pendorong. Kebaikan butuh pengungkit. Kebaikan butuh teman.

Mencari Partner Terbaik

Mari renungkan kembali Firman Allah, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Berteman bukan sekedar berteman, tapi berteman yang bisa saling mendekatkan kepada Robb. Menyeru kebaikan, mencegah dari kemungkaran. Bukan teman yang selalu "meng-IYA-kan apa yang kita katakan dan lakukan.

Benar sekali, petuah Rasulullah, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Teman adalah cermin diri. Bila kita belum bisa mengajaknya, maka bergabunglah dengan komunitas yang bisa menguatkan iman.

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud,

Para Alumni SMK Muhammadiyah 6 Lamongan, saat silaturrohim di rumah (3/5/2022)

Bukan Semata "Menyenangkan" Tuhan

Setelah ramadhan, kita seperti kembali di alam nyata. "Yang sudah, ya sudah". "Yang berlalu, biar berlalu". Begitu kata polos mereka. Kalau "bisikan hati" begitu terus, maka puluhan ramadhan tidak akan pernah mengubah apapaun kecuali aotomatisasi, tanpa efek. Maka harus ada kesadaran bahwa apa yang kita lakukan tidak sekedar untuk menyenangkan Tuhan, tidak sekedar gugur kewajiban, tidak sekedar karena banyak yang juga melakukan, tapi untuk kebaikan dan bermanfaat diri kita sendiri.

Selama Ramadhan seakan-akan apa yang kita lakukan adalah "untuk Tuhan", padahal hakekatnya Tuhan tidak butuh amalan kita, karena sesungguhnya amalan amalan kita lakukan adalah kembali pada diri kita sendiri.

Mari, ubah mindset kita, bahwa ibadah kita dalam rangka menjadikan diri sebagai hamba pilihan, hamba yang terangkat derajatnya karena taqwa. Kita butuh Allah agar menjadi hamba mulia di dunia dan akhirat.

Wallaahu alam.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Aktifis Muhammadiyah. Saat ini aktif menulis dan editor beberapa buku. Juga mengelola beberapa channel kajian di telegram.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Lapas Permisan Nusakambangan Diserbu Lanal Cilacap

Image

Membangun ekosistem industri halal yang kuat dan merata di indonesia

Image

Bantuan Pendanaan Startup Oleh Pemerintah Indonesia Untuk Para Mahasiswa

Image

Ceramah Agama Habib Hadi Asegaf di Ponpes AT-TAUBAH LAPAS KELAS I MALANG

Image

Esay APBN 2022

Image

Black Market Polemik Pengusaha Elit

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image