Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Pekerja Teks Komersial

Kabar Bahagia (1)

Curhat | Saturday, 23 Apr 2022, 13:12 WIB
RSCM, Sumber : Wikipedia

Saat Anda didiagnosa sakit parah, yang Anda butuhkan hanyalah mental. Sebab jika mental Anda tidak sehat dan kuat, maka fisikpun ikutan.

Tak hanya fisik, orang sekitar Anda, keluarga, teman, dan orang-orang yang Anda sayangi ikut serta dalam duka, depresi, dan perasaan yang menimbulkan air mata.

Apa yang Anda dapati hari ini adalah akumulasi dari semua yang Anda lakukan di masa lalu. Anda tak dapat mengubahnya, sebab mesin waktu Doraemon masih belum bisa diaktifkan di peradaban manusia.

 

Jika sudah bisa memutar waktu, maka kita tak perlu Tuhan lagi.Tubuh manusia, sparepartnya belum dijual secara bebas dan komoditasnya terbatas. Jika salah satunya rusak, hanya menunggu waktu.

Saya selalu mengelak saat membahas kanker, sebab terus menggema bagaimana gemertak gigi ibu saat tengah malam, kala sakitnya mengalir hingga rongga tulang.Ibu saya adalah penderita kanker, Alhamdulillah ia selamat, dan semoga Penguasa alam semesta terus memberikan ia kesehatan dan usia panjang, hingga cita-citanya untuk melihat ijazah doktor saya tersampaikan.

Selama 4 tahun lebih saya enggan meliput dan bahkan menulis soal kanker, tumor, atau semacamnya. Karena liputan atau tulisan serupa itu akan menghadirkan garis-garis kerutan di wajah ibu dalam ruang mata saya.

Wajah yang pura-pura tersenyum saat saya mengintipnya dari balik pintu, saat ia membersihkan nanah dan darah dari kanker yang terus menggerogoti tubuhnya.Saat Ibu meringis dan menahan sakit dari dalam kamar, saya hanya bisa terdiam. Menyulut sebatang rokok, menghisap asapnya dalam-dalam dan menyela sepeda motor, lalu kembali ke pangkalan ojek untuk mencari "sewa".

Waktu itu belum ada Ojek Online yang cengeng serupa sekarang.Semua obat alternatif sudah dicoba. Saya selalu mengantar ibu, dengan sepeda motor Kharisma yang remnya Senin-Kamis. Direm Senin, berhentinya Kamis, serupa puasanya adik perempuan saya yang nomor tiga. Adik perempuan yang terus menolak dibilang hafidz, meski ayat Al-Quran ada dalam kepalanya.

Adik yang bercita-cita meniru Abangnya yang dulu pernah jadi jagoan dalam ilmu agama. Sekarang si Abang hanya seorang penulis berita di Ibu Kota, lelaki yang masih belum berbini dan ternganga saat melihat tagihan resep obat yang setara setengah gajinya.

Saya tak jemu mengantar Ibu, baik itu ke dukun, hingga bisnis MLM yang dipercaya ibu produknya mampu menyembuhkan kanker. Selain keluarga, hanya segelintir orang yang mengetahui penyakit ibu. Ia terus menolak untuk operasi.

Padahal dokter angkat tangan dan hanya satu-satunya jalan adalah operasi.Ibu selalu menolak operasi, bahkan untuk hal remeh seperti jari tengah tangan kanan saya yang remuk karena kecelakaan. Ia melarang tindakan operasi, padahal sudah di ruang UGD.

Hingga kemarin pagi, ibu masih nyinyir lewat sambungan telepon agar saya tak dioperasi.Ibu saya sangat takut dengan jarum, tapi tidak dengan kehidupan.

Sakit, kemiskinan, dan penderitaan adalah lelucon dalam hidupnya. Dari ibu saya banyak belajar. Dahulu, saya sangat membenci orang-orang yang merengek dan menyerah pada sakit dan hal-hal yang tak indah.Saya selalu benci dengan orang-orang yang menuliskan kisah duka mereka.

Saya pernah menyumpahi seorang mahasiswa yang menceritakan kisah cengengnya dan dapat beasiswa. Sementara saya harus bekerja siang malam untuk membayar uang kuliah, termasuk kuliah S2 yang sudah dinyatakan drop out karena terlambat dalam pengurusan administrasi ini.

Sampai akhir September kemarin, saya masih menganggap cengeng kisah-kisah sok inspiratif itu.Namun, saat analisa dokter, seperangkat alat dan data-data laboratorium disodorkan di depan hidung saya yang tak terlalu mancung ini. Saya gemetar, butuh waktu lebih dari 24 jam untuk menghilangkan cemas

Kini, saya mengerti tak semua orang mampu mendengar, melihat, mengetahui dan bahkan mengalami apa yang dialami oleh orang lainnya. Sebagian dari kita hanya mampu berkomentar dan memberi saran.Pada April 2018, hampir 5 tahun saya menjadi jurnalis.

Pekerjaan yang sejatinya adalah pekerjaan terbaik dan sangat saya gilai, namun di Republik yang salah urus ini, menjadi jurnalis adalah pekerjaan yang membahayakan. Mulai dari pemberitaan yang bisa mengancam nyawa, hingga penyakit mengerikan yang menghantui.

Penyakit yang hanya menunggu waktu.Sahabat, rekan dan kenalan saya yang berprofesi sebagai Jurnalis telah didekap Tuhan lebih dahulu. Pola hidup tak sehat adalah makanan sehari-hari jurnalis level bawah. Jurnalis yang tak mengenal waktu, meski sudah memiliki jadwal kerja.

Namun berita dari Tuhan (serupa bencana dan hal lainnya) selalu datang tak kenal waktu.Setelah berbulan-bulan mencoba meyakinkan diri dan berlagak tangguh dan kembali mendaftar jadi calon reporter, akhirnya Senin lalu saya tumbang dan menyerah pada tubuh yang tak mau lagi diajak kompromi.

Saya didiagnosa penyakit yang menunggu waktu. Penyakit biasa bagi orang yang suka begadang, makan tak teratur, sering menenggak oplosan, dan segala macam yang merusak tubuh.Tak perlu basa-basi, intinya "Jangan ikut pola hidup Saya, sebab pola hidup ini hanya untuk penjudi kelas kakap, yang mempertaruhkan nyawa dan kesehatannya,"

Jadi, simpanlah ceramah untuk pola hidup sehatnya. Saya sudah hafal itu sejak SD, tapi tak ada yang bisa menjamin nasib bukan?Akhirnya Tuhan mau menyapa, setelah bertahun-tahun saya lari. Saya punya banyak waktu untuk berleha-leha di tempat tidur, menghitung-hitung hutang yang belum dibayar, cicilan sepeda motor, cicilan panci, janji-janji manis pada 12 orang selingkuhan dan sebagainya dan sebagainya.

Begitulah rakyat berderai ini. BPJS adalah omong kosong, Republik kampret ini diurus tak becus sejak keserakahan ada dalam kepala penguasa.Jangan bangga dengan penghasilan tetap, uang berpeti. Nanti kalau salah satu anggota keluarga ada yang sakit keras, barulah klean tau blangsaknya bisnis kesehatan. Nyawa manusia hanya soal angka, serupa lelang benda-benda seni. Penawar tertinggi dapat barang bagus.

Tapi ngomong-ngomong kalau ada yang punya proyek menulis buku biografi, proyek liputan panjang dan mendalam serta bayaran yang yahud, bolehlah Saya diajak serta.

Hasil kerja Saya tak terlalu mengecewakan. Kalau butuh bukti di atas kertas, saya rasa ijazah S1 Jurnalistik, Tesis yang belum kelar soal Jurnalisme, Sertifikasi Dewan Pers sebagai jurnalis yang kompeten, alumni kelas Jurnalisme Sastrawi, sertifikat-sertifikat pelatihan soal jurnalis, serta beberapa undangan sebagai praktisi Jurnalistik di beberapa Kementrian sudah cukup untuk meyakinkan Anda agar mengajak Saya turut serta dalam proyek soal tulis menulis.

Saya menawarkan diri, sebab PSK (Pekerja Seks Komersil) sudah lumrah. Sudah saatnya PTK (Pekerja Teks Komersil) go publik. Yang jualan isi celana saja laku, apalagi yang jualan isi kepala.

Ajaklah Saya kalau ada proyek yang nominalnya sekitar puluhan juta. Kalau jutaan, tak akan mampu membayar resep mingguan.Kalau puluhan juta, kita bisa hepi-hepi di tempat party yang low cost serupa bongkaran Tanah Abang, atau sederet tempat ena-ena dan nge fly di Jakarta. Kalau ratusan juta, kita hepi-hepi di Singapura.Kalau cuma jutaan, Saya menolak. Sebab belasan pil yang saya telan setiap harinya, lebih mahal dari gaji kuli bangunan masa kini.

Saya pernah dan bahkan lama jadi kuli bangunan, kuli proyek, yang digaji cuma Rp50.000 seharinya.Sembari menunggu proyek ratusan juta itu, saya lanjutkan dulu bermalas-malasan di Ibu Kota, menulis berita-berita basa-basi, berita-berita yang itu-itu saja.

RSCM 6 Oktober 2018

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image