Meracik Produser A la Salman Aristo

Image
Ginara Gemilentika
Eduaksi | Sunday, 16 May 2021, 18:10 WIB
Ilustrasi oleh Ginara Gemilentika

"Momen pencerahan gue, momen Auf flarung gue adalah ketika mendengar ada orang bilang mau bikin film buat klub. Emang kita bisa bikin film?"

18 tahun berkarir di dunia perfilman Indonesia, Salman Aristo menggeluti berbagai bidang filmmaker. Lulus dari jurusan Jurnalistik di Universitas Padjadjaran, lelaki berusia 45 tahun itu memulai terjun ke ranah perfilman dengan menjadi penulis skenario. Hingga saat ini, Salman Aristo telah menjadi penulis skenario untuk 32 film, termasuk di antaranya adalah film kenamaan Indonesia seperti Ayat-Ayat Cinta (2007), Laskar Pelangi (2007), Garuda di Dadaku (2009), dan yang terbaru, Bumi Manusia (2019).

Cukup lama berada di industri film, pria yang akrab disapa Aris tersebut mulai mengembangkan sayapnya menjadi seorang produser pada 2009 dengan film berjudul Queen Bee. Selama 12 tahun ini, Aris telah mendapatkan kredit sebagai produser dari 12 film. Beberapa diantaranya adalah Negeri 5 Menara (2012), Cinta Dalam Kardus (2013), dan Dua Garis Biru (2019).

Tak heran, namanya kerap kali muncul pada berbagai nominasi penghargaan film Indonesia. Dari 11 nominasi, baik sebagai penulis skenario dan produser, Aris telah memenangkan satu Piala Citra sebagai Best Adapted Screenplay bersama Riri Riza dengan film Athirah (2016).

Berangkat dari pengalamannya selama 2 tahun ini, Salman Aristo fokus mengembangkan film company-nya bernama Wahana Kreator Nusantara dan mengambil peran sebagai Co-Founder dan Chief Executive Officer. Lewat berbagai pengalamannya ini, Salman Aristo kemudian meracik komposisi yang bisa dijadikan sandaran agar menjadi seorang produser yang mampu bersaing di industri perfilman Indonesia.

Sebelum berenang lebih dalam membahas produser, Aris menekankan untuk bisa memahami definisi produser dengan baik dan menyeluruh. Sebab, beberapa orang masih salah mengartikan apa itu produser dan apa yang dilakukannya.

Banyak orang yang berpikir bahwa produser bukan filmmaker, produser itu adalah yang punya uang ucap Aris pada Kuliah Umum Produksi Film yang diselenggarakan oleh prodi Televisi dan Film Fikom Unpad pada Selasa (20/4).

Untuk membuatnya lebih mudah dimengerti, Aris menganalogikan peran produser dan sutradara dengan klub sepak bola Arsenal.

Produser itu Arsne Wenger. Sutradara itu kapten lapangan, tutur Aris, bersemangat karena membahas klub bola favoritnya.

Menurut Aris, penting untuk mengetahui secara benar dan menyeluruh mengenai profesi produser. Dalam industri film, produserlah yang memiliki visinya, yang bisa menjelaskan kenapa sebuah film di produksi. Produser yang mengatur semuanya, mulai dari timeline dan pencapaian projek film tersebut hingga meng-iyakan hasil dari film yang telah selesai. Termasuk ke dalamnya adalah memantau perkembangan skenario, menentukan pemeran, mengimplikasikan budget, serta mengatur promosi.

Memiliki tanggung jawab yang besar, Aris sadar bahwa seseorang tidak bisa langsung menjadi produser, tanpa memahami beberapa hal krusial yang harus dimiliki seorang produser. Maka dari itu, Aris membagikan resep menjadi produser melalui pengalamannya berkiprah di industri film.

Tiga peran pokok yang penentu keberhasilan sebuah film selain produser adalah penulis skenario dan sutradara yang kemudian disebut sebagai filmmaker. Pengemban tanggung jawab ruang kolaborasi antara ketiga peran itu ialah produser. Penulis skenario berperan untuk menciptakan cerita sedangkan sutradara menentukan cara penyampaian cerita yang telah dibuat. Produser bekerja bersama filmmaker lainnya pada sebuah ruang kerja yang diberi nama development room.

Kemampuan yang paling utama jika ingin menjadi produser -biasanya dianggap remeh temeh, menurut Aris- adalah mengenal diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, seorang produser bisa mengetahui budaya kerjanya di development room. Dia juga bisa dengan leluasa menjelaskan visinya dan dampak dari film yang sedang digarapnya.

Berfungsi sebagai tempat mengeluarkan isi hati, pemikiran, dan pandangan, seorang produser harus bisa menciptakan suasana development room yang aman dan nyaman bagi para filmmaker. Suasana tanpa penghakiman dan tanpa komentar yang menyayat hati adalah ciri dari sebuah development room yang sehat.

Memegang kendali atas seluruh persiapan sebuah film, seorang produser sebaiknya piawai dalam memecahkan masalah, mencari solusi dari setiap permasalahan yang mungkin terjadi saat proses produksi film. Yang lebih esensialnya lagi adalah mengajak semua orang untuk bisa memecahkan masalah bersama.

Melibatkan berbagai pihak pada proses produksi bisa menjadi hal yang baik, sebab proses pemecahan masalah bisa dicari solusinya oleh lebih banyak kepala dan memungkinkan adanya modifikasi dari kolaborasi dari berbagai pihak.

Jika terjadi masalah pada pembuatan film, Aris menyebutkan bahwa melakukan revisi adalah hal yang wajar. Produser harus bisa memahami bahwa revisi merupakan sebuah proses, bukan kegagalan. Melihat kegagalan sebagai cara yang berbeda untuk membuat segala hal menjadi lebih baik merupakan mentalitas produser andal. Namun merevisi bukan berarti mengubah cerita secara keseluruhan. Mengubah bagian-bagian yang perlu dibenarkan disebut sebagai vomit draft.

Tak hanya itu, aksi nyata seorang produser adalah memberikan komentar. Namun dalam pelaksanaannya tak bisa sembarangan. Aris sendiri memisahkan bentuk komentar yang bisa diterima dalam development room.

Its not what is your opinion about the script, but what is your thought on this script, tutur Aris.

Jadi, bentuk komentar yang baik bagi kelangsungan development room adalah ketika komentar yang dilontarkan merupakan hasil pemahaman dan pemikiran dari masing-masing filmmaker.

Agar bisa menyampaikan kritik yang bisa diterima dengan baik, Aris membocorkan seni menyampaikan kritik yang telah dipelajarinya dari Daniel C. Dennett. Pertama, kritik yang disampaikan harus jernih, jelas, dan adil, sehingga pesannya bisa diterima sebagaimana maksudnya.

Kedua, membuat poin-poin kesepakatan tentang apa yang sekiranya bisa dikembangkan. Usahakan untuk bisa menyebutkan hal baik, atau paling tidak hal yang kita sukai dari kerja rekan kita, lalu memberinya apresiasi.

Terakhir, sampailah pada saat menyampaikan kritik. Aris menambahkan, meskipun kita tidak menyukai hasil karya seseorang, cara menyampaikan kritik akan sangat berpengaruh dengan kelangsungan development room. Menurutnya, development room yang aman dan nyaman adalah saat seluruh anggota merasa dihargai.

Salman Aristo berkata bahwa generasi muda adalah saat yang tepat untuk menjadi produser karena lebih digital native alias lebih pandai untuk mengoperasikan teknologi digital. Jadi, apakah kamu sudah siap menapaki karir produser? [GG]

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Seorang mahasiswa Jurnalistik Unpad yang masih belajar menulis.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Begini Solusi bagi Wajib Pajak PBB Terutang!

Image

PEMBELAJARAN MENYENANGKAN PADA SISWA SD DI MASA PANDEMI COVID-19

Image

Lingkungan Rumah Gelap! Warga GJM Minta Maksimalkan PJU

Image

Pendahuluan : Manajemen Sumber Daya Internasional

Image

Sejarah Akuntansi Dunia

Image

Sosialisasikan Olah Raga Floorball, AFI DKI Jakarta Kerja Sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi DKI

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image