Target Itu Ibarat Jangkar

Image
Taufiq Sudjana
Gaya Hidup | Tuesday, 27 Apr 2021, 03:05 WIB

Sebuah Esaikrostik

Ilustrasi jangkar (Sumber: tangkapan layar)

Telahbanyak analogi tentang kehidupan. Ia banyak diibaratkan dengan perjalanan. Bagisaya, kehidupan adalah samudera. Samudera yang membentang seluas cakrawala. Kitaberlayar di samudera itu hendak menuju ke mana? Ke dimensi cakrawala mana kitaakan mengarahkan perahu kita? Akankah kita menghentikan kayuhan dayung ataumesin kita di tengah samudera? Ataukah kita akan terus mengarungi samuderatanpa henti?

Adasebuah tujuan yang tentu ingin dicapai dari sebuah perjalanan. Sebagaimanaberlayar di samudera pun memiliki tujuan.

Rasanyatidak perlu muluk untuk menetapkan tujuan hidup. Sebab kematian akan datang menjemput.Maka tujuan akhir kehidupan dunia fana ini adalah kehidupan abadi, kelak.

Gadingakan ditinggalkan oleh gajah, belang akan ditinggalkan oleh harimau, lantas apayang akan kita tinggalkan nanti? Inilah yang menjadi target hidup kitasekarang.

Episodekehidupan itu sangatlah singkat. Dari setiap hela nafas yang kita hirup, setiapdetik yang kita lalui, hingga bertahun-tahun kita menjalani kehidupan, adalahsebuah waktu yang relatif singkat. Bahkan sebuah ungkapan menyebut bahwa hidupini hanya mampir untuk minum kopi.

Tentunyadari ungkapan itu memiliki makna yang sudah kita mafhum bersama. Betapasingkatnya kehidupan. Usia memanjang, namun justru sebaliknya, hidup semakinpendek menjelang kematian.

Ibaratdan peribahasa lain banyak sekali mengumpamakan kehidupan. Saat ini saya hendakmengatakan bahwa dalam kehidupan yang singkat inilah kita mesti memilikitarget. Sementara tujuan hidup bagi umat beragama tidak perlu kita bahas secarapanjang lebar.

Target adalahsesuatu hal yang perlu kita tentukan dengan perencanaan maupun tanpa rencanasama sekali. Karena ada ungkapan lagi yang mengatakan mengalirlah seperti airmengalir. Apa artinya?

Ungkapanhidup seperti air mengalir bukan sebagai perjalanan musafir atau gelandanganyang tiada tentu tujuan. Karena tujuan kita sudah jelas dalam keyakinan ajaranagama masing-masing. Hal yang sering terlupa adalah target apa yang hendakdicapai.

Inilahmengapa saya sebut target itu ibarat jangkar ketika kita sedang berlayar. Adakalanya kita harus menurunkan jangkar untuk menghindari gelombang samudera yangmenerjang. Dengan jangkar itu kita berupaya menyelamatkan perahu tidakterombang-ambing menuju arah tak tentu, bahkan karam.

Begitudahsyatnya gelombang samudera ketika badai menghampiri. Namun ada waktunyaketika laut tenang meninabobokan kita. Ketika itulah jangkar sesekali perluditurunkan. Kita bisa menikmati pemandangan di tengah samudera yang sedang kitaarungi. Beristirahat dari lelahnya mengayuh dayung, atau mematikan mesin kapalkita untuk menghemat bahan bakar.

Adapunketika kita berlabuh sejenak untuk membeli perbekalan dan persediaan bahanbakar, itu pun kita perlu menurunkan jangkar di dermaga yang kita singgahi. Tidaksemua dermaga cukup dengan menautkan tali perahu ke tiang penopang di dermaga.Perlu kiranya pula menurunkan jangkar agar perahu kita tidak terbawa arus.

Riakkehidupan akan selalu kita temui. Dari pantai hingga tengah samudera. Riak ituakan selalu mengiringi. Riak itu bukan masalah berarti jika kita bisa mengayuhdayung dan mengarahkan kemudi. Riak itu tidak akan membawa perahu kita terseokke koordinat yang tidak kita harap.

Alangkahnaif ketika berlayar tak punya target. Ketika laut tenang, kita bisa mengailikan untuk menambah perbekalan. Target kita kala itu berarti mendapatkan ikan.

Tiupanangin akan membawa lagi perahu kita ke arah mata angin yang ditiupkan anginitu. Apakah kita akan mengikuti arah angin berhembus atau kita akan menerjangarahnya, adalah sebuah upaya lain yang perlu kita pikir. Di sini akan berlakuapakah kita mengamini ungkapan seperti air mengalir.

Jalan dilautan itu tidak seperti jalan raya atau lorong-lorong di perkotaan. Bukan pulagang di sebuah dusun yang sudah pasti pangkal dan ujungnya. Berlayar di lautanitu kita membuat jalan sendiri. Nah, dengan apa kita membuatnya?

Adasebuah alat bernama kompas. Ia menjadi alat bantu penunjuk arah. Kompas seringdipakai oleh para pelaut sebagai penunjuk arah. Di samping kemampuan seorangpelaut melihat gugusan bintang. Lantas, di zaman teknologi canggih sekarangdapatkah kita membawa GPS modern sebagai penentu koordinat perjalanan kita ditengah samudera?

Niat kitaterlebih dahulu yang harus kita tentukan, kita akan ke mana, menggunakan jenisperahu seperti apa? Apakah kita akan mengandalkan sebuah rakit, sekoci, sampankecil, perahu, ataukah kapal pesiar yang super lengkap dengan kecanggihan mesindan serba teknologi pun ada?

Gilarasanya jika kita memaksakan kemampuan kita untuk menggunakan kapal pesiar.Sementara untuk perbekalan makanan dan minuman saja kita masih perlu kas bon.Tentu kita perlu bijak dalam hal ini. Menyesuaikan kondisi kita ketika akanberlayar pertama kali.

Kehidupanakan terus berputar. Perniagaan di laut pun sering dilakukan banyak orang.Tidak perlu khawatir. Kita sekarang berlayar dengan perahu kecil. Buatlahtarget mengail ikan. Di dermaga berikutnya bisa kita jual di pasar ikan.Begitulah seterusnya kita menabung hingga bisa mengganti perahu kecil kitadengan yang lebih besar. Tidak mustahil sebuah kapal feri kita punya sendiri.

Akhirdari sebuah perjalanan seorang pelaut tentu bukan di dermaga. Dermaga hanyapersinggahan menuju target berikutnya. Dengan target lain yang lebih besar,menggunakan kapal besar, tentu jangkar kita pun disiapkan lebih besarmenyesuaikan juga jumlahnya. Dengan jangkar itu kita bersiap menentukan targetlainnya.

Referensikita seiring jam melaut akan semakin banyak. Bukankah pengalaman itu adalahguru yang paling berharga? Tentu banyak pengalaman berharga yang akan kitatemukan selama mengarungi samudera kehidupan. Pengalaman demi pengalaman itulahyang akan mengantarkan kita ke target hidup selanjutnya. Bahkan tidak menutupkemungkinan, justru seseorang berlayar hanya dengan target ingin memilikipengalaman melaut. Namun, tentunya dengan tidak melupakan hal yang palingpenting adalah tujuan kehidupan kita. Karena target itu hanyalah pencapaiankecil dari tujuan kehidupan nanti, hingga di keabadian. Kita akan hidup sebagaipenghuni surga atau penghuni neraka.

Artikel pernah tayang di Kompasiana.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tenaga Kependidikan di SMP Kesatuan Bogor, Anggota Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB)

Guru adalah Mata-mata Kehidupan

KARTINI; Sebuah Esai Akrostik

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Generasi Milenial Pilar Utama Gerakan Filantropi

Image

Ngabuburit Ramadhan: Lifestyle Mahasiswa di Mesir

Image

Destinasi Wisata Alun-alun Kejaksan, Tempat Ngabuburit Favorit di Kota Cirebon

Image

Penyekatan di Tol Pasteur Menjelang Lebaran

Image

Tempe Mendoan, Menu Takjil Kesukaan Masyarakat

Image

Penggunaan Media Pembelajaran Sederhana

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image