Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image thomi thomas

Laku Hidup Asketis Diogenes pada Momen Bulan Puasa

Eduaksi | Saturday, 09 Apr 2022, 09:23 WIB
https://pixabay.com/id/vectors/diogen-dari-sinope-35766/

--Rasa Sakit dan Rasa Lapar Berguna untuk Melatih Moral Manusia

Diogenes

Apabila kita renungkan sejenak, bulan April merupakan momentum puasa yang masif bagi umat Kristiani dan umat Islam. Bulan April menjadi sarana umat Kristiani berpuasa menyambut peristiwa agung Paskah. Sementara itu, umat Islam mempersiapkan diri menuju hari suci Idulfiri. Sebuah fenomena unik dan menarik untuk direfleksikan sekaligus diolah. Saya sebagai umat Kristiani cukup antusias menikmati momentum syahdu ini. Saya pun yakin kita akan bersepakat bahwa puasa merupakan sebuah keadaan untuk memurnikan kembali segala sesuatu pada diri kita, akal kita, dan perilaku kita.

Dalam merefleksikan momentum batiniah ini, saya teringat seorang tokoh filsuf yang amat elegan sekaligus ekstrem dan kontroversial. Tokoh tersebut adalah Diogenes. Bila kita melongok ulang kisah hidup Diogenes, kita akan sampai pada dua kutub sikap antara memandang Diogenes seorang filsuf gila dan melihat Diogenes sebagai pencerah dan penggugah kesadaran bagi kita semua. Saya sendiri tidak ingin terjebak pada dua sudut pandang tersebut. Sebaliknya, saya ingin kita menggali ulang beberapa pandangan unik, mendalam, dan menggugah dari Diogenes khususnya semangat hidup asketik yang rasa-rasanya amat pas untuk memantabkan momen suci puasa yang kita jalani.

Pola hidup asketis sendiri merupakan salah satu ajaran, pemikiran, dan keteladan yang diajarkan Diogenes. Asketis sendiri mempunyai arti menjauh dari dunia, dan menempuh pemurniaan jiwa. Hal ini selaras dengan laku puasa dalam ajaran agama. Konsep hidup asketis diteladankan secara nyata dalam hidup Diogenes dengan cara tidak bertempat tinggal, hidup dalam sebuah tong besar, dan makan secara apa adanya. Sebuah pola hidup yang pada waktu itu dipandang gila oleh masyarakat Yunani. Barangkali, kita pun akan menilai bahwa pola hidup Diogenes semacam itu juga terlalu konyol dan tidak logis. Namun, apabila kita berpikir sedikit semiotik ada beberapa pesan mendalam yang hendak disampaikan Diogenes dan dapat kita timba dalam momen batiniah puasa kali ini.

Diogenes sebagai pelaku hidup asketis pernah menyampaikan pikiran-pikiran menarik dibalik hidup asketis yang ia lakukan. Saya akan mengutip beberapa kutipan dari Diogenes yang bisa kita olah :

“Kesenangan, nafsu, kemewahan, haruslah dijauhi manusia sebab hal-hal itu membuat manusia dan masyarakat menjadi rusak”

“Jabatan, kekayaan, dan reputasi, dan semua jenis hal-hal semacam itu adalah ornamen dari perbuatan jahat (prokosmemata kakias)”

“Keistimewaan Tuhan adalah tidak memerlukan apa-apa dan keistimewaan manusia pengikut Tuhan adalah kebutuhannya sangat sedikit”

Bila kita ulas lebih jauh pikiran-pikiran Diogenes tentang laku hidup asketis, kita menjumpai sebuah paradigma pemikiran amat batiniah dan mendalam. Diogenes mengajak kita, mewanti-wanti kita agar berhati-hati terhadap nafsu, kemewahan, jabatan, kekayaan agar tidak menjerumuskan dan menjebloskan kita pada masalah serta penderitaan. Selanjutnya, pola hidup asketis menurut Diogenes adalah sebuah laku yang membuat kita menuju manusia istimewa yang menempuh level ketuhanan dengan tidak terikat dan lekat oleh pelbagai hal yang membebani kita.

Mari kita hela nafas kita sejenak. Setelah kupasan sederhana tentang pola hidup asketis, saya-- yang bukan seorang ahli agama, guru agama, dan manusia bertaraf suci dan murni-- ingin mengajak untuk merefleksikan laku batiniah puasa dengan meresapi sebuah laku hidup askestis. Kita semua tahu bahwa puasa tidak semata menahan lapar atau haus. Pada level lebih tinggi, puasa adalah sebuah latihan untuk kita berpijak pada moralitas yang utuh dan berani untuk tidak terjebak dalam hiruk pikuk semu kehidupan. Kita semua tahu bahwa kita memerlukan harta benda, kebahagiaan, jabatan, apresiasi, pengakuan, reputasi tetapi jangan sampai kita tertidur dan dininabobokan oleh hal-hal yang semu tersebut. Sebaliknya, kita diajak untuk mengambil porsi yang pas dan ideal sesuai dengan batasan moral yang berlaku. Itulah hal yang ingin disampaikan oleh Diogenes meski beragam kesulitan dan penolakan ia alami.

(Tulisan ini saya persembahkan untuk Dr. Fahrudin Faiz, selaku inspirator Filsafat saya).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image