Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image DIFA AULIA

Jangan Hanya Menuntut Mahasiswa untuk Bertahan

Eduaksi | 2026-11-06 10:19:55
Sumber :

https://media.istockphoto.com/id/2204917953/id/foto/kelelahan-mental-karena-pekerjaan-berlebihan.webp?s=1024x1024&w=is&k=20&c=SJShuy_89s8WZkquvEHPFhdCN6OpzDCU_-RUjtcDsRQ=

Oleh Difa Aulia

Menjadi mahasiswa sering kali berarti belajar membagi waktu di antara kuliah, tugas, organisasi, pekerjaan paruh waktu, dan harapan keluarga. Di tengah semua itu, mahasiswa dituntut untuk tetap berprestasi, aktif, mandiri, dan mampu menghadapi masa depan. Ketika merasa kewalahan, tidak sedikit yang memilih diam karena takut dianggap tidak sanggup menjalani kehidupan kampus.

Padahal, mahasiswa yang sehat bukanlah mahasiswa yang tidak pernah merasa lelah atau tertekan. Persoalan muncul ketika tekanan terus menumpuk tanpa ruang pemulihan dan dukungan yang memadai.

Karena itu, membangun mahasiswa yang sehat tidak cukup dilakukan dengan meminta mereka mengatur waktu atau memperkuat mental. Kampus juga perlu mengevaluasi lingkungan belajar yang dibangunnya. Kesehatan mahasiswa bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga tanggung jawab perguruan tinggi.

Di lingkungan kampus, kesibukan kerap dianggap sebagai ukuran produktivitas. Mahasiswa yang mengikuti banyak kegiatan terlihat aktif, sedangkan mereka yang memilih beristirahat terkadang merasa tertinggal. Padahal, tidak semua kesempatan harus diambil sekaligus. Pengembangan diri seharusnya bukan perlombaan tanpa garis akhir.

Gambaran tekanan akademik dapat dilihat dari survei kesehatan mental mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) pada 2024. Dalam laporan yang dipublikasikan pada 27 Februari 2026, tugas perkuliahan menjadi sumber tekanan akademik terbesar dengan angka 65,8 persen. Masalah keuangan keluarga juga dilaporkan oleh 31,7 persen responden dalam aspek keluarga.

Angka tersebut menggambarkan responden FISIP UI, bukan seluruh mahasiswa Indonesia. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa tekanan mahasiswa tidak selalu disebabkan ketidakmampuan mengatur diri. Beban tugas, keadaan ekonomi, dan persoalan keluarga dapat saling bertumpuk.

Mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tugas belum tentu malas. Mereka yang jarang mengikuti kegiatan belum tentu tidak memiliki ambisi. Bisa jadi, ada tanggung jawab lain yang sedang mereka hadapi dan tidak terlihat oleh orang lain.

Kesehatan mahasiswa juga tidak hanya berkaitan dengan layanan konseling. Mereka membutuhkan tidur cukup, makanan bergizi, aktivitas fisik, lingkungan pertemanan yang aman, dan kesempatan untuk beristirahat. Kebutuhan mendasar tersebut sering terabaikan ketika jadwal kuliah padat dan tenggat tugas berdekatan.

Hal ini juga penting bagi mahasiswa bidang kesehatan. Dalam pendidikan kebidanan, ketelitian, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan merupakan bagian penting dari pembelajaran. Namun, nilai-nilai tersebut tidak seharusnya dimaknai sebagai kewajiban untuk selalu kuat dan mengabaikan kondisi diri sendiri.

Bagaimana mahasiswa dapat belajar memahami kebutuhan kesehatan orang lain jika lingkungan pendidikannya tidak memberi ruang untuk memahami kebutuhan kesehatannya sendiri?

Bukan berarti standar akademik harus diturunkan. Pendidikan tetap membutuhkan disiplin dan tanggung jawab. Namun, standar yang baik perlu disertai sistem pembelajaran yang masuk akal, jadwal yang terkoordinasi, serta dukungan yang mudah diakses.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan perguruan tinggi. Pertama, memperbaiki koordinasi beban akademik agar tenggat tugas dan jadwal ujian tidak menumpuk pada waktu yang sama. Kedua, menyediakan layanan konseling yang mudah dijangkau dengan informasi dan prosedur yang jelas. Ketiga, menghadirkan fasilitas pendukung kesehatan, seperti air minum, makanan terjangkau, dan ruang istirahat. Keempat, melibatkan mahasiswa dalam evaluasi kebijakan akademik agar keputusan kampus sesuai dengan kebutuhan nyata mereka.

Mahasiswa sendiri tetap memiliki tanggung jawab untuk mengenali batas kemampuan, menyusun prioritas, menjaga pola hidup, dan meminta bantuan ketika diperlukan. Namun, tanggung jawab pribadi akan lebih mudah dijalankan jika lingkungan kampus turut mendukungnya.

Perguruan tinggi bukan hanya tempat menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi dan daftar prestasi panjang. Kampus juga merupakan tempat anak muda belajar menjadi manusia dewasa yang mampu bekerja sama, mengambil keputusan, dan merawat dirinya sendiri.

Keberhasilan pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang lulus tepat waktu atau memenangkan kompetisi. Kita juga perlu melihat apakah mereka mampu menjalani kehidupan tanpa menganggap kelelahan berkepanjangan sebagai sesuatu yang wajar.

Mahasiswa tidak membutuhkan lingkungan yang menghilangkan setiap kesulitan. Mereka membutuhkan lingkungan yang mengajarkan cara menghadapi kesulitan tanpa kehilangan kesehatan dan harga diri.

Kita ingin perguruan tinggi melahirkan generasi yang mampu merawat masyarakat. Jangan sampai proses menyiapkan mereka justru membuat kesehatan diri sendiri dianggap sebagai sesuatu yang boleh dikorbankan. Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan mahasiswa untuk bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga memastikan bahwa mereka tidak harus menghadapinya sendirian.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image