Akhlak Tanpa Tasawuf: Ketika Kebaikan Hanya Menjadi Pencitraan
Agama | 2026-10-19 08:47:49Di tengah kehidupan modern yang semakin berkembang, persoalan akhlak menjadi salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian serius. Kemajuan teknologi dan media sosial memberikan ruang bagi setiap orang untuk menunjukkan aktivitas, pemikiran, bahkan kehidupan spiritualnya kepada publik. Namun, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah kebaikan yang ditampilkan seseorang benar-benar berasal dari ketulusan hati, atau justru sekadar keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain?
Menurut saya, persoalan ini menunjukkan bahwa akhlak tidak cukup hanya dipahami sebagai perilaku baik yang terlihat dari luar. Akhlak juga berkaitan dengan keadaan batin yang memengaruhi cara seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak. Dalam konteks inilah tasawuf memiliki peran penting, yaitu membantu manusia memperbaiki hati, mengendalikan hawa nafsu, dan menumbuhkan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.
Akhlak merupakan gambaran karakter seseorang yang tercermin melalui perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, tasawuf menekankan proses penyucian jiwa, pengendalian diri, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Keduanya memiliki hubungan yang erat. Tasawuf memberikan perhatian terhadap pembinaan batin, sedangkan akhlak menjadi salah satu wujud nyata dari proses pembinaan tersebut dalam perilaku sehari-hari.
Permasalahan muncul ketika seseorang lebih mementingkan penampilan daripada pembenahan diri. Tidak jarang kita menemukan orang yang mudah memberikan nasihat tentang kebaikan, tetapi masih sulit menghargai orang lain. Ada pula orang yang terlihat santun di hadapan publik, tetapi bersikap kasar ketika berhadapan dengan orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya. Fenomena semacam ini mengingatkan kita bahwa penampilan baik belum tentu menggambarkan keseluruhan karakter seseorang.
Media sosial turut memberikan tantangan tersendiri. Saat ini, seseorang dapat dengan mudah membagikan kegiatan keagamaan, memberikan nasihat moral, atau menampilkan berbagai bentuk kepedulian sosial. Hal tersebut tentu tidak salah. Bahkan, media sosial dapat menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai positif. Akan tetapi, persoalan muncul apabila kebaikan dilakukan semata-mata demi pujian, popularitas, atau pengakuan dari orang lain.
Dalam ajaran Islam, keikhlasan merupakan nilai penting dalam melakukan suatu perbuatan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5 yang menjelaskan perintah untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ayat tersebut mengingatkan bahwa kualitas pengabdian seorang Muslim tidak hanya berkaitan dengan tindakan yang dilakukan, tetapi juga dengan ketulusan dalam menjalankannya.
Dari sudut pandang tasawuf, persoalan tersebut dapat dikaitkan dengan pentingnya menjaga hati dari sifat riya, yaitu melakukan atau menampilkan amal kebaikan agar memperoleh pujian dan pengakuan manusia. Riya menjadi pengingat bahwa manusia perlu mengevaluasi niatnya sendiri. Namun, kita juga tidak boleh sembarangan menuduh orang lain melakukan riya hanya karena mereka membagikan kegiatan positif di media sosial. Niat seseorang tidak dapat diketahui secara pasti hanya dari apa yang terlihat di permukaan.
Menurut saya, tantangan terbesar dalam membangun akhlak bukan sekadar mengetahui mana yang baik dan buruk, melainkan memiliki kesungguhan untuk melakukan kebaikan meskipun tidak mendapatkan pujian. Seseorang yang benar-benar berusaha memperbaiki dirinya akan belajar bersikap jujur meskipun tidak diawasi, membantu orang lain tanpa selalu mengharapkan balasan, serta menghormati sesama tanpa membedakan status sosial.
Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Di lingkungan kampus, misalnya, akhlak dapat diwujudkan melalui kejujuran akademik, sikap menghargai pendapat, tanggung jawab terhadap tugas, dan kesediaan membantu teman yang mengalami kesulitan. Sementara itu, tasawuf dapat menjadi landasan untuk melakukan introspeksi diri, mengendalikan ego, mengurangi kesombongan, dan meluruskan niat dalam menuntut ilmu.
Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama yang luas apabila pengetahuan tersebut tidak mendorong perubahan perilaku. Ilmu seharusnya menjadi sarana untuk memperbaiki diri, bukan alat untuk merasa lebih unggul daripada orang lain. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya untuk bersikap rendah hati dan terbuka terhadap kritik.
Meskipun demikian, akhlak dan tasawuf tidak seharusnya dipertentangkan. Akhlak tetap dapat tumbuh melalui pendidikan, pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman sosial. Tasawuf memberikan salah satu pendekatan penting dengan mengajak manusia memperhatikan kondisi batinnya. Oleh karena itu, keduanya perlu berjalan beriringan agar pembentukan karakter tidak hanya berfokus pada perilaku yang terlihat, tetapi juga pada pembinaan niat dan kesadaran diri.
Pada akhirnya, kita perlu mengubah cara memandang kebaikan. Kebaikan bukan sekadar sesuatu yang perlu diperlihatkan kepada orang lain, melainkan sesuatu yang perlu dibiasakan dalam kehidupan nyata. Tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki dirinya.
Akhlak tanpa pembinaan batin berisiko terjebak pada formalitas, sedangkan pembinaan batin yang tidak tercermin dalam perilaku nyata kehilangan salah satu bentuk penerapannya dalam kehidupan sosial. Karena itu, akhlak dan tasawuf perlu dipahami sebagai dua aspek yang saling melengkapi dalam perjalanan memperbaiki diri.
Sebab, ukuran kebaikan bukan hanya seberapa baik seseorang terlihat di hadapan manusia, tetapi juga seberapa sungguh-sungguh ia berusaha menjaga keikhlasan, memperbaiki perilaku, dan memberikan manfaat bagi sesama.
NAMA: MUHAMMAD FAIQ IZZUDDIN NAZAR
KAMPUS: UNIVERSITAS KH MUKHTAR SYAFAAT
JURUSAN: EKONOMI SYARIAH
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
