Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kak Adi Kitana

Dari STPI ke Panggung Rakornas Forum Dewan Pendidikan Indonesia (FDPI) di Garut

Eduaksi | 2026-10-13 15:29:02
Dr. Umi Faizah & Dr. Khamim ZP dua mantan Ketua STPI hadiri Forum Dewan Pendidikan Indonesia 2026 di Garut

YOGYAKARTA — Kiprah sebuah kampus tidak berhenti di ruang kuliah, laboratorium pembelajaran, atau lembar-lembar karya ilmiah. Ada jejak pengabdian yang terus tumbuh ketika para alumnus kepemimpinan kampus melangkah ke ruang publik, mengambil peran, dan ikut menentukan arah masa depan pendidikan.

Kisah itulah yang menarik untuk dibaca dari keikutsertaan kontingen Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Dewan Pendidikan Indonesia (FDPI) di Garut, Jawa Barat.

Bagi STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta, peristiwa ini bukan sekadar kabar tentang sebuah forum nasional. Ada benang merah perjalanan institusi yang patut dirayakan: dua figur penting dalam sejarah kepemimpinan STPI kini berkiprah dalam lembaga yang ikut mengawal kualitas pendidikan di Kota Yogyakarta.

Keduanya adalah Dr. Khamim ZP, Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta yang pernah memimpin STPI sebagai ketua kedua pada periode 2000–2010, serta Dr. Umi Faizah, Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta yang pernah menjabat sebagai ketua ketiga STPI pada periode 2010–2021.

Dua nama, dua periode kepemimpinan, dan satu benang merah: pengabdian kepada dunia pendidikan.

Dari kepemimpinan kampus menuju pengabdian yang lebih luas

Kepemimpinan di perguruan tinggi merupakan ruang pembelajaran yang tidak selalu selesai ketika masa jabatan berakhir. Di sana, seseorang ditempa untuk membaca persoalan, mengelola perubahan, membangun jejaring, dan merawat komitmen terhadap mutu pendidikan.

Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga ketika pengabdian berlanjut di ruang yang lebih luas.

Dr. Khamim ZP dan Dr. Umi Faizah merupakan bagian dari perjalanan sejarah STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta. Masa kepemimpinan keduanya berada dalam rentang waktu yang panjang, dari 2000 hingga 2021. Perjalanan itu menandai fase penting dalam dinamika pengembangan institusi.

Kini, ketika keduanya mengemban amanah di Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta, publik dapat melihat bagaimana pengalaman kepemimpinan perguruan tinggi bersinggungan dengan persoalan pendidikan yang lebih luas. Peran Dewan Pendidikan sendiri penting dalam menyuarakan aspirasi masyarakat, mendorong peningkatan mutu, serta membangun kolaborasi antarpemangku kepentingan pendidikan.

Keikutsertaan dalam Rakornas FDPI di Garut menjadi bagian dari ruang perjumpaan tersebut. Forum nasional seperti ini membuka kesempatan bagi para penggerak Dewan Pendidikan untuk bertukar gagasan, membaca tantangan bersama, dan memperluas perspektif mengenai pengembangan pendidikan Indonesia.

Bagi STPI BIM, kiprah itu menghadirkan satu pelajaran penting: pengalaman pendidikan yang bermakna seharusnya melahirkan keberanian untuk terus mengambil peran, bahkan setelah seseorang meninggalkan jabatan formalnya di kampus.

STPI BIM: Kampus Guru Kreatif Indonesia

STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta menempatkan pengembangan calon pendidik sebagai bagian penting dari ikhtiar memajukan pendidikan. Identitas sebagai Kampus Guru Kreatif Indonesia bukan sekadar slogan untuk memperindah profil institusi. Identitas itu merupakan ajakan untuk terus menghadirkan pendidikan calon guru yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan semakin kompleksnya kebutuhan peserta didik, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga perlu memiliki daya cipta, ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan profesionalitas dalam menjalankan tugasnya.

Karena itu, visi STPI BIM untuk mencetak Guru Kreatif, Militan, dan Profesional memiliki makna yang kuat.

Guru kreatif adalah guru yang mampu menghidupkan pembelajaran, menemukan pendekatan baru, serta menjadikan proses belajar lebih bermakna bagi peserta didik.

Guru militan adalah guru yang memiliki daya juang, keteguhan sikap, dan komitmen untuk terus bertumbuh dalam menjalankan pengabdian pendidikan.

Sementara itu, guru profesional adalah guru yang bekerja dengan kompetensi, integritas, tanggung jawab, dan kesediaan untuk terus belajar.

Ketiga karakter tersebut saling melengkapi. Kreativitas tanpa komitmen mudah kehilangan daya tahan. Semangat juang tanpa kompetensi dapat kehilangan arah. Sementara profesionalitas yang tidak disertai kreativitas berisiko membuat pembelajaran berjalan rutin tanpa pembaruan.

STPI BIM ingin mempertemukan ketiganya dalam sosok guru yang mampu menjawab tantangan nyata di sekolah dan masyarakat.

Kampus tidak boleh berhenti berkarya

Perjalanan Dr. Khamim ZP dan Dr. Umi Faizah juga mengingatkan bahwa kontribusi sebuah perguruan tinggi tidak selalu hadir dalam bentuk gedung baru, jumlah mahasiswa, atau capaian administratif. Ada hasil pendidikan yang tumbuh melalui orang-orang yang pernah mengemban tanggung jawab, mengembangkan gagasan, dan melanjutkan pengabdian di berbagai ruang kehidupan.

Di situlah nilai strategis sebuah institusi pendidikan dapat dibaca: bukan hanya dari apa yang dikerjakan di dalam kampus, melainkan juga dari kontribusi yang terus tumbuh melalui kiprah para insan pendidikan yang pernah menjadi bagian dari perjalanannya.

Bagi civitas akademika STPI BIM, hal ini dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus bahan refleksi. Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan para alumnus memiliki ruang kontribusi masing-masing. Karya ilmiah, inovasi pembelajaran, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, penguatan jejaring kelembagaan, hingga keterlibatan dalam forum-forum pendidikan merupakan bagian dari ekosistem kontribusi tersebut.

Kampus yang hidup bukan kampus yang merasa cukup dengan capaian masa lalu. Kampus yang hidup adalah kampus yang terus mengembangkan gagasan, menguji kemungkinan baru, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Semangat inilah yang hendak terus dirawat STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta. Sejarah kepemimpinan terdahulu bukan sekadar kenangan yang disimpan dalam arsip, melainkan sumber inspirasi untuk melangkah lebih jauh.

Merawat jejak, melanjutkan kontribusi

Rakornas FDPI di Garut menjadi momentum untuk melihat pendidikan dari perspektif yang lebih luas. Tantangan pendidikan Indonesia membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, satuan pendidikan, perguruan tinggi, organisasi profesi, hingga masyarakat.

Perguruan tinggi pencetak calon guru mempunyai tanggung jawab strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang bukan hanya siap mengajar, tetapi juga mampu menginspirasi, berinovasi, dan berkontribusi bagi perbaikan pendidikan.

Dalam konteks itu, STPI BIM memiliki alasan untuk terus meneguhkan identitasnya sebagai Kampus Guru Kreatif Indonesia. Bukan dengan berhenti pada klaim, melainkan dengan kerja nyata, pembaruan berkelanjutan, dan komitmen untuk menghadirkan calon guru yang kreatif, militan, dan profesional.

Jejak pengabdian Dr. Khamim ZP dan Dr. Umi Faizah menjadi salah satu pengingat bahwa perjalanan pendidikan adalah estafet panjang. Setiap generasi menerima pengalaman dari generasi sebelumnya, kemudian mengolahnya menjadi energi untuk menjawab tantangan yang baru.

STPI BIM tidak hendak berhenti pada cerita tentang siapa yang pernah memimpin kampus. Lebih dari itu, kampus ini ingin terus menumbuhkan tradisi berkarya, berkolaborasi, dan memberi manfaat bagi dunia pendidikan.

Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah lembaga pendidikan bukan hanya seberapa jauh ia telah melangkah, melainkan juga seberapa besar kontribusinya bagi perjalanan orang lain.

STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta: Kampus Guru Kreatif Indonesia. Terus berkarya, terus berkontribusi, mencetak Guru Kreatif, Militan, dan Profesional.

Kak Adi Kitana

Setyoadi Purwanto, M.Pd.I

(Dosen, Trainer, Composser Lagu Anak Edukatif)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image