Pengorbanan Ibu: Standar Cinta bagi Anak Laki-Laki, Peringatan bagi Anak Perempuan
Parenting | 2026-10-01 10:30:40
Pendahuluan
Di banyak keluarga, pengorbanan ibu hadir sebagai pemandangan sehari-hari: ia mengurus rumah, mengingat kebutuhan setiap anggota keluarga, menunda keinginannya sendiri, dan tetap bekerja ketika tubuhnya lelah. Karena berlangsung terus-menerus, kerja itu kerap terlihat seperti sifat alami seorang ibu, bukan pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga. Namun, anak-anak dapat membaca pemandangan yang sama dengan cara berbeda. Sebagian anak laki-laki tumbuh dengan menjadikan ketekunan ibu sebagai ukuran cinta yang kelak mereka harapkan dari pasangan. Sebagian anak perempuan justru melihatnya sebagai peringatan: jika cinta selalu berarti mengalah, apakah suatu hari mereka akan diminta menjalani kehidupan serupa?
Perbedaan ini bukan hukum psikologis yang berlaku bagi semua laki-laki dan perempuan. Pengalaman keluarga, kelas sosial, kualitas hubungan orang tua, serta nilai yang diajarkan di rumah ikut membentuk cara seseorang memahami cinta. Meski begitu, pola tersebut layak dibahas karena memperlihatkan bagaimana pembagian kerja dan harapan gender diwariskan melalui rutinitas, bukan hanya melalui nasihat. Pertanyaannya bukan siapa yang lebih menyayangi ibu, melainkan mengapa pengorbanan yang sama bisa dibaca sebagai standar pelayanan oleh satu pihak dan sebagai tanda bahaya oleh pihak lain.
1. Pengorbanan yang Terlihat, Kerja yang Dianggap Wajar
Anak belajar tentang hubungan bukan hanya dari kalimat “keluarga harus saling menyayangi”, melainkan dari siapa yang bangun lebih awal, siapa yang mengingat jadwal semua orang, siapa yang menyiapkan makanan, dan siapa yang akhirnya mengalah ketika kebutuhan bertabrakan. Ketika ibu terus-menerus memikul pekerjaan domestik dan emosional, anak dapat menyimpulkan bahwa tugas itu memang bagian dari peran perempuan. Kesimpulan tersebut tidak harus diajarkan secara eksplisit; pengulangan sehari-hari sudah cukup untuk membuatnya tampak normal.
Kajian tentang pembagian kerja rumah tangga menunjukkan bahwa perilaku orang tua dapat berhubungan dengan kebiasaan anak setelah dewasa. Cordero-Coma dan Esping-Andersen (2018), menggunakan data panel sosial-ekonomi Jerman, menemukan bahwa pembagian pekerjaan rumah tangga yang dialami anak pada masa kanak-kanak berkaitan dengan keterlibatan mereka dalam pekerjaan domestik ketika beranjak dewasa. Studi terhadap keluarga di Rusia juga menemukan hubungan antara porsi pekerjaan rumah yang dilakukan ibu saat anak tumbuh dan ketimpangan pembagian kerja dalam keluarga anak tersebut kelak (Gimenez-Nadal, Molina, dan Sevilla, 2019). Temuan semacam ini tidak membuktikan bahwa setiap anak akan meniru orang tuanya, tetapi menunjukkan bahwa rumah merupakan ruang belajar sosial yang penting.
Di sinilah pengorbanan dapat berubah makna. Jika kerja ibu selalu hadir tetapi jarang dibicarakan sebagai beban, keluarga mungkin mengenangnya sebagai bukti kasih sayang tanpa melihat struktur yang membuat beban itu jatuh terutama kepadanya. Cinta ibu kemudian dipahami melalui apa yang ia lakukan untuk orang lain, bukan juga melalui haknya untuk beristirahat, memiliki ambisi, atau menerima perawatan.
1. Pengorbanan yang Terlihat, Kerja yang Dianggap Wajar
Anak belajar tentang hubungan bukan hanya dari kalimat “keluarga harus saling menyayangi”, melainkan dari siapa yang bangun lebih awal, siapa yang mengingat jadwal semua orang, siapa yang menyiapkan makanan, dan siapa yang akhirnya mengalah ketika kebutuhan bertabrakan. Ketika ibu terus-menerus memikul pekerjaan domestik dan emosional, anak dapat menyimpulkan bahwa tugas itu memang bagian dari peran perempuan. Kesimpulan tersebut tidak harus diajarkan secara eksplisit; pengulangan sehari-hari sudah cukup untuk membuatnya tampak normal.
Kajian tentang pembagian kerja rumah tangga menunjukkan bahwa perilaku orang tua dapat berhubungan dengan kebiasaan anak setelah dewasa. Cordero-Coma dan Esping-Andersen (2018), menggunakan data panel sosial-ekonomi Jerman, menemukan bahwa pembagian pekerjaan rumah tangga yang dialami anak pada masa kanak-kanak berkaitan dengan keterlibatan mereka dalam pekerjaan domestik ketika beranjak dewasa. Studi terhadap keluarga di Rusia juga menemukan hubungan antara porsi pekerjaan rumah yang dilakukan ibu saat anak tumbuh dan ketimpangan pembagian kerja dalam keluarga anak tersebut kelak (Gimenez-Nadal, Molina, dan Sevilla, 2019). Temuan semacam ini tidak membuktikan bahwa setiap anak akan meniru orang tuanya, tetapi menunjukkan bahwa rumah merupakan ruang belajar sosial yang penting.
Di sinilah pengorbanan dapat berubah makna. Jika kerja ibu selalu hadir tetapi jarang dibicarakan sebagai beban, keluarga mungkin mengenangnya sebagai bukti kasih sayang tanpa melihat struktur yang membuat beban itu jatuh terutama kepadanya. Cinta ibu kemudian dipahami melalui apa yang ia lakukan untuk orang lain, bukan juga melalui haknya untuk beristirahat, memiliki ambisi, atau menerima perawatan.
3. Ketika Anak Perempuan Melihat Masa Depan yang Ingin Dihindari
Bagi sebagian anak perempuan, ibu bukan hanya teladan kasih sayang, melainkan juga gambaran tentang harga yang harus dibayar perempuan untuk mempertahankan keluarga. Mereka melihat ibu menunda pendidikan, pekerjaan, pertemanan, atau waktu untuk diri sendiri. Mereka mungkin menyaksikan ibu menjadi penyangga emosi seluruh keluarga, tetapi jarang menerima dukungan yang sebanding. Dari pengalaman itu, pengorbanan tidak selalu terasa romantis. Ia dapat terbaca sebagai peringatan tentang masa depan yang berisiko mengulang ketimpangan.
Penelitian tentang perawatan lintas generasi di Indonesia memberi konteks penting. Asriani dan Ramdlaningrum (2025), melalui wawancara mendalam dengan lima perempuan dewasa, menggambarkan bagaimana tanggung jawab merawat orang tua kerap dialihkan kepada anak perempuan. Tugas itu mencakup pekerjaan praktis, kedekatan emosional, hingga dukungan finansial, dan dapat membatasi ruang gerak perempuan. Karena jumlah partisipannya kecil dan pendekatannya kualitatif, penelitian tersebut tidak dapat mewakili seluruh perempuan Indonesia. Namun, pengalaman yang diuraikannya memperlihatkan bagaimana norma tentang perempuan sebagai pengasuh dapat bertahan dalam praktik keluarga.
Data dan laporan tentang kesetaraan gender perlu dibaca bersama pengalaman sehari-hari. Publikasi BPS, Perempuan dan Laki-Laki di Indonesia 2024, menyajikan perbedaan menurut gender dalam pendidikan, kesehatan, dan kondisi sosial-ekonomi rumah tangga. Data agregat tidak dapat menjelaskan apa yang dirasakan setiap anak ketika melihat ibunya, tetapi dapat membantu menempatkan pengalaman personal dalam konteks ketimpangan yang lebih luas. Sementara itu, laporan UN Women dan International Labour Organization secara konsisten menyoroti bahwa pekerjaan perawatan berbayar maupun tidak berbayar memiliki konsekuensi terhadap kesempatan ekonomi perempuan.
Karena itu, keinginan seorang perempuan untuk tidak mengulang kehidupan ibunya tidak otomatis berarti ia menolak cinta, keluarga, atau pengasuhan. Bisa jadi ia justru ingin membangun hubungan yang lebih sehat: merawat tanpa kehilangan diri, menjadi ibu tanpa menanggung semuanya sendirian, dan mencintai tanpa menjadikan penderitaan sebagai bukti kesetiaan. Sikap tersebut dapat dibaca sebagai upaya mengubah pola, bukan penolakan terhadap ibu.
3. Ketika Anak Perempuan Melihat Masa Depan yang Ingin Dihindari
Bagi sebagian anak perempuan, ibu bukan hanya teladan kasih sayang, melainkan juga gambaran tentang harga yang harus dibayar perempuan untuk mempertahankan keluarga. Mereka melihat ibu menunda pendidikan, pekerjaan, pertemanan, atau waktu untuk diri sendiri. Mereka mungkin menyaksikan ibu menjadi penyangga emosi seluruh keluarga, tetapi jarang menerima dukungan yang sebanding. Dari pengalaman itu, pengorbanan tidak selalu terasa romantis. Ia dapat terbaca sebagai peringatan tentang masa depan yang berisiko mengulang ketimpangan.
Penelitian tentang perawatan lintas generasi di Indonesia memberi konteks penting. Asriani dan Ramdlaningrum (2025), melalui wawancara mendalam dengan lima perempuan dewasa, menggambarkan bagaimana tanggung jawab merawat orang tua kerap dialihkan kepada anak perempuan. Tugas itu mencakup pekerjaan praktis, kedekatan emosional, hingga dukungan finansial, dan dapat membatasi ruang gerak perempuan. Karena jumlah partisipannya kecil dan pendekatannya kualitatif, penelitian tersebut tidak dapat mewakili seluruh perempuan Indonesia. Namun, pengalaman yang diuraikannya memperlihatkan bagaimana norma tentang perempuan sebagai pengasuh dapat bertahan dalam praktik keluarga.
Data dan laporan tentang kesetaraan gender perlu dibaca bersama pengalaman sehari-hari. Publikasi BPS, Perempuan dan Laki-Laki di Indonesia 2024, menyajikan perbedaan menurut gender dalam pendidikan, kesehatan, dan kondisi sosial-ekonomi rumah tangga. Data agregat tidak dapat menjelaskan apa yang dirasakan setiap anak ketika melihat ibunya, tetapi dapat membantu menempatkan pengalaman personal dalam konteks ketimpangan yang lebih luas. Sementara itu, laporan UN Women dan International Labour Organization secara konsisten menyoroti bahwa pekerjaan perawatan berbayar maupun tidak berbayar memiliki konsekuensi terhadap kesempatan ekonomi perempuan.
Karena itu, keinginan seorang perempuan untuk tidak mengulang kehidupan ibunya tidak otomatis berarti ia menolak cinta, keluarga, atau pengasuhan. Bisa jadi ia justru ingin membangun hubungan yang lebih sehat: merawat tanpa kehilangan diri, menjadi ibu tanpa menanggung semuanya sendirian, dan mencintai tanpa menjadikan penderitaan sebagai bukti kesetiaan. Sikap tersebut dapat dibaca sebagai upaya mengubah pola, bukan penolakan terhadap ibu.
Penutup
Pengorbanan ibu dapat menjadi bahasa cinta bagi anak laki-laki dan sekaligus peta risiko bagi anak perempuan. Namun, perbedaan itu bukan takdir biologis, bukan pula alasan untuk menggeneralisasi semua laki-laki sebagai penuntut dan semua perempuan sebagai korban. Cara seseorang memaknai pengorbanan dibentuk oleh apa yang ia lihat, bagaimana keluarga membagi tanggung jawab, dan apakah kasih sayang selalu disamakan dengan penghapusan kebutuhan diri.
Warisan terbaik dari seorang ibu bukanlah kewajiban bagi anak-anaknya untuk mengulang setiap pengorbanannya. Warisan itu seharusnya berupa kemampuan mencintai dengan peka, merawat tanpa menguasai, dan hadir tanpa menuntut seseorang menghilang demi orang lain. Menghargai ibu tidak cukup dengan mencari pasangan yang bersedia berkorban seperti dirinya. Penghargaan yang lebih dewasa adalah membangun hubungan yang membuat pengorbanan tidak selalu diperlukan—karena tanggung jawab dibagi, kebutuhan didengar, dan cinta tidak diukur dari siapa yang paling banyak menahan sakit.
Referensi
Asriani, D. D., & Ramdlaningrum, H. (2025). “Why me? The meaning of intergenerational care transfer practices and aspirations of adult daughters in Indonesia.” Journal of Family Social Work, 28(3), 132–146. https://doi.org/10.1080/10522158.2025.2507002
Badan Pusat Statistik. (2024). Perempuan dan Laki-Laki di Indonesia 2024. BPS. https://www.bps.go.id/en/publication/2024/12/20/25ad04bcd22f34a6fb2f1ae1/women-and-men-in-indonesia-2024.html
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
Cordero-Coma, J., & Esping-Andersen, G. (2018). “The Intergenerational Transmission of Gender Roles: Children’s Contribution to Housework in Germany.” Journal of Marriage and Family, 80(4), 1005–1019. https://doi.org/10.1111/jomf.12497
Eagly, A. H., & Wood, W. (2012). “Social Role Theory.” In P. A. M. Van Lange, A. W. Kruglanski, & E. T. Higgins (Eds.), Handbook of Theories of Social Psychology (Vol. 2, pp. 458–476). SAGE.
Gilligan, C. (1982). In a Different Voice: Psychological Theory and Women’s Development. Harvard University Press.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
