Wajah dan Suara Bisa Dipalsukan AI: Jangan Langsung Percaya pada Apa yang Kita Lihat
Hukum | 2026-09-28 12:02:49Wajah dan Suara Bisa Dipalsukan AI: Jangan Langsung Percaya pada Apa yang Kita Lihat
Dulu kita sering mengatakan, “Kalau ada videonya berarti benar.”
Sekarang kalimat itu sudah tidak selalu berlaku.
Perkembangan kecerdasan buatan membuat seseorang dapat membuat gambar, suara, bahkan video yang terlihat sangat meyakinkan. Wajah seseorang bisa ditempelkan ke tubuh orang lain. Suara dapat dibuat menyerupai orang tertentu. Sebuah video juga bisa dibuat seolah-olah seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia katakan.
Teknologi seperti ini sering dikenal dengan istilah deepfake.
Pada awalnya deepfake banyak dikenal sebagai teknologi hiburan dan eksperimen digital. Namun semakin bagus kualitas AI, semakin besar pula kemungkinan teknologi tersebut disalahgunakan.
Masalahnya bukan lagi sekadar gambar lucu.
Deepfake dapat digunakan untuk menipu orang, menyebarkan informasi palsu, mempermalukan seseorang, atau membuat seolah-olah seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Mata Kita Tidak Selalu Bisa Menjadi Bukti
Manusia terbiasa mempercayai apa yang dilihat.
Jika membaca sebuah tulisan, kita masih mungkin ragu.
Tetapi kalau ada foto atau video, kita biasanya lebih cepat percaya.
Karena itulah konten visual mempunyai kekuatan yang besar.
Sayangnya, teknologi sekarang memungkinkan visual yang terlihat sangat nyata untuk dibuat tanpa kejadian aslinya pernah terjadi.
Seseorang dapat terlihat berada di suatu tempat padahal sebenarnya tidak.
Orang dapat terlihat berbicara padahal suaranya dibuat oleh komputer.
Bahkan ekspresi wajah dan gerakan bibir sekarang dapat dibuat semakin menyerupai manusia asli.
Artinya, kita perlu mengubah kebiasaan.
Melihat belum tentu berarti membuktikan.
Suara Keluarga Pun Bisa Ditiru
Bayangkan seseorang menerima telepon.
Suara di ujung telepon terdengar seperti anggota keluarganya.
Orang tersebut mengatakan sedang mengalami keadaan darurat dan meminta segera dikirimkan uang.
Karena suaranya terdengar familiar, korban menjadi panik.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin tidak sempat berpikir panjang.
Padahal suara tersebut bisa saja merupakan hasil rekayasa AI.
Inilah mengapa kemajuan teknologi tidak hanya menuntut kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga kemampuan mengenali risiko.
Jika ada permintaan uang yang tidak biasa, jangan hanya mengandalkan suara.
Hubungi orang tersebut melalui nomor lain.
Tanyakan sesuatu yang hanya diketahui bersama.
Atau hubungi anggota keluarga lain untuk memastikan.
Beberapa menit untuk memeriksa dapat menyelamatkan seseorang dari kerugian yang cukup besar.
Video Viral Juga Harus Diperiksa
Media sosial membuat konten menyebar dengan sangat cepat.
Sebuah video bisa mendapatkan ribuan penonton hanya dalam beberapa jam.
Masalahnya, semakin mengejutkan isi sebuah video, biasanya semakin cepat orang membagikannya.
Kita sering melihat judul seperti:
“Viral!”
“Lihat apa yang dilakukan orang ini.”
“Bukti akhirnya terbongkar.”
Judul seperti itu membuat kita penasaran.
Tetapi rasa penasaran sering membuat proses verifikasi terlupakan.
Sebelum membagikan video yang sensitif, coba cari apakah media terpercaya atau sumber resmi juga membahas kejadian yang sama.
Periksa kapan video pertama kali muncul.
Lihat apakah ada potongan yang hilang.
Perhatikan apakah suara dan gerakan bibir terlihat wajar.
Tidak ada satu cara yang selalu dapat menjamin sebuah video asli atau palsu, tetapi kebiasaan melakukan pemeriksaan dapat mengurangi kemungkinan kita ikut menyebarkan informasi yang salah.
Deepfake Tidak Selalu Jahat
Teknologi sebenarnya tidak otomatis baik atau buruk.
Deepfake juga dapat digunakan secara positif.
Misalnya dalam industri film, pendidikan, seni digital, atau pembuatan konten kreatif.
Masalah muncul dari cara penggunaannya.
Jika wajah seseorang digunakan dengan persetujuan untuk sebuah karya kreatif, konteksnya tentu berbeda dengan menggunakan wajah seseorang untuk membuat video yang mempermalukan atau merugikannya.
Karena itu, pembahasan deepfake tidak seharusnya berhenti pada teknologi.
Kita juga perlu membahas izin, tujuan, dan akibatnya.
Identitas Digital Juga Perlu Dilindungi
Di internet, identitas seseorang bukan hanya nama.
Foto wajah, rekaman suara, video, nomor telepon, akun, hingga informasi pribadi lainnya dapat digunakan untuk mengenali seseorang.
Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.
Dalam praktiknya, persoalan penggunaan foto, suara, atau identitas seseorang dapat menjadi cukup kompleks tergantung bagaimana data tersebut diperoleh dan digunakan.
Karena itu, kita sebaiknya tidak menggunakan identitas orang lain secara sembarangan hanya karena teknologinya memungkinkan.
Kemampuan membuat sesuatu bukan berarti otomatis kita mempunyai hak untuk menggunakannya.
Bercanda Pun Ada Batasnya
Ada kemungkinan seseorang membuat video AI dengan wajah temannya hanya untuk bercanda.
Awalnya mungkin dianggap lucu.
Masalahnya, setelah video tersebut diunggah, kita tidak dapat mengendalikan siapa yang akan melihat dan membagikannya.
Video dapat keluar dari konteks.
Orang lain mungkin mengira video tersebut benar.
Dan orang yang wajahnya digunakan bisa mengalami rasa malu atau kerugian.
Karena itu, sebelum membuat konten AI menggunakan identitas seseorang, sebaiknya minta izin.
Jika orang tersebut tidak nyaman, jangan dipaksakan.
Teknologi baru tidak menghapus aturan dasar dalam menghormati orang lain.
Dampaknya Bisa Menjadi Masalah Hukum
Penyalahgunaan deepfake dalam kondisi tertentu dapat berhubungan dengan berbagai persoalan hukum.
Misalnya jika digunakan untuk penipuan, penyebaran informasi palsu, penghinaan, pemerasan, atau penyalahgunaan data pribadi.
Aktivitas di ruang digital tetap dapat mempunyai konsekuensi di dunia nyata.
Indonesia juga telah memiliki aturan mengenai informasi dan transaksi elektronik yang antara lain mengatur berbagai aktivitas di ruang digital.
Namun setiap kasus tentu harus dilihat berdasarkan fakta, isi konten, tujuan, serta akibat yang ditimbulkan.
Karena itu, cara paling aman bukan mencoba mencari “batas seberapa jauh kita boleh melakukan sesuatu”, tetapi menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sejak awal.
Jangan Langsung Percaya Akun yang Terlihat Resmi
Deepfake juga dapat digabungkan dengan akun palsu.
Pelaku membuat profil menyerupai seseorang.
Foto sama.
Nama hampir sama.
Kemudian mengirim video atau rekaman suara untuk membuat identitas tersebut terasa lebih meyakinkan.
Jika setelah itu muncul permintaan transfer uang, kode OTP, atau data pribadi, korban bisa lebih mudah percaya.
Karena itu, identitas harus diperiksa melalui lebih dari satu cara.
Lihat nama akun dengan teliti.
Periksa sejak kapan akun dibuat.
Bandingkan dengan akun resmi yang sudah diketahui.
Dan jangan mengikuti instruksi keuangan hanya karena wajah atau suaranya terlihat benar.
Simpan Bukti Jika Menjadi Korban
Jika menemukan deepfake yang menggunakan wajah atau suara kita tanpa izin dan kontennya merugikan, jangan hanya meminta orang lain menghapusnya.
Simpan bukti terlebih dahulu.
Bukti yang dapat disimpan misalnya:
- screenshot akun dan unggahan,
- link konten,
- tanggal dan waktu,
- percakapan terkait,
- serta salinan video atau gambar jika memungkinkan.
Setelah bukti tersimpan, gunakan fitur laporan yang tersedia pada platform.
Jika terdapat unsur penipuan, ancaman, atau kerugian lain yang serius, pertimbangkan untuk menggunakan jalur pengaduan resmi yang sesuai.
Hal terpenting adalah jangan panik dan jangan langsung menghapus semua informasi yang justru dapat digunakan sebagai bukti.
Mahasiswa Harus Belajar Menjadi Lebih Skeptis
Mahasiswa hidup di masa ketika informasi sangat mudah diperoleh.
Tetapi banyaknya informasi tidak berarti semuanya benar.
Kemampuan penting sekarang bukan hanya mencari informasi.
Kita juga harus mampu menilai informasi.
Apakah sumbernya jelas?
Apakah konten tersebut masuk akal?
Apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi?
Apakah videonya utuh?
Apakah akun yang mengunggah dapat dipercaya?
Menjadi skeptis bukan berarti tidak percaya kepada siapa pun.
Skeptis berarti tidak langsung menerima sebuah informasi hanya karena tampilannya meyakinkan.
Era AI Membutuhkan Kebiasaan Baru
Dulu mungkin kita cukup berhati-hati terhadap tulisan palsu.
Sekarang foto bisa palsu.
Suara bisa palsu.
Video juga bisa palsu.
Karena itu, kebiasaan kita harus ikut berubah.
Jangan langsung transfer uang karena mendengar suara orang yang dikenal.
Jangan langsung membagikan video karena terlihat nyata.
Jangan menggunakan wajah orang lain untuk membuat konten tanpa memikirkan dampaknya.
Dan jangan menyerahkan identitas pribadi kepada pihak yang tidak jelas.
Teknologi AI akan terus berkembang.
Kita tidak mungkin menghentikannya.
Yang bisa kita lakukan adalah berkembang bersama teknologi tersebut.
Bukan hanya menjadi pengguna yang lebih pintar, tetapi juga pengguna yang lebih bertanggung jawab.
Karena di era deepfake, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi hanya:
“Apakah saya melihatnya sendiri?”
Tetapi juga:
“Apakah saya sudah memastikan bahwa apa yang saya lihat benar-benar terjadi?”
Penulis: Lim Sulaiman JayaMahasiswa Universitas Pamulang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
