Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sylvia Azizah Carolisa

Ketika Motif Batik Ceplok Menjadi Bagian dari Pembelajaran Matematika

Eduaksi | 2026-09-25 06:46:24
Tim Penyusun Bahan Ajar Matematika Berbasis Tantangan Terintegrasi Batik Ceplok Berbantuan GeoGebra

Batik selama ini dikenal sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki beragam motif dan makna. Namun, di balik pola yang tersusun indah, terdapat keteraturan yang dapat dikaitkan dengan konsep matematika. Hal inilah yang dimanfaatkan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam mengembangkan bahan ajar matematika berbasis etnomatematika.

Bahan ajar tersebut dikembangkan oleh Nayla Yushafana Subroto, Sylvia Azizah Carolisa, Ikhda Nur Rofiqoh, Klara Faradina Wahda, dan Naila Disti Amanda Meilany di bawah bimbingan Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd. Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar transformasi geometri yang mengintegrasikan Batik Ceplok dengan teknologi GeoGebra dan model Challenge-Based Learning (CBL).

Pemanfaatan Batik Ceplok dalam bahan ajar bukan sekadar untuk mempercantik tampilan materi. Motif dan pola pada batik dapat menjadi konteks untuk mengenalkan berbagai prinsip geometri kepada peserta didik. Dengan melihat pola yang berulang dan tersusun, peserta didik dapat diarahkan untuk menemukan keteraturan matematis yang terdapat di dalamnya.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari etnomatematika, yaitu pembelajaran matematika yang mengaitkan konsep-konsep matematika dengan budaya yang berkembang di masyarakat. Melalui pendekatan ini, matematika tidak hanya dipelajari sebagai kumpulan rumus, tetapi juga dapat ditemukan dalam lingkungan dan budaya yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Dalam bahan ajar yang dikembangkan, Batik Ceplok digunakan sebagai konteks untuk mempelajari transformasi geometri. Peserta didik diajak menghubungkan pola budaya tersebut dengan konsep matematika yang dipelajari, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara lebih kontekstual. Pemilihan Batik Ceplok juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya prinsip-prinsip geometri pada motif tersebut.

Penggunaan budaya lokal dalam pembelajaran juga memberikan peluang untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya kepada generasi muda. Ketika peserta didik menemukan konsep matematika dalam sebuah motif batik, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan matematis, tetapi juga dapat melihat bahwa budaya di sekitar mereka memiliki keterkaitan dengan ilmu yang dipelajari di sekolah.

Pendekatan ini menjadi semakin menarik karena Batik Ceplok tidak ditempatkan sebagai materi tambahan yang berdiri sendiri. Unsur budaya tersebut justru menjadi bagian dari aktivitas pembelajaran transformasi geometri. Dengan demikian, budaya dan matematika dipertemukan dalam satu pengalaman belajar.

Bahan ajar ini dikembangkan melalui tahapan define, design, dan develop. Pada tahap perancangan, motif Batik Ceplok ditetapkan sebagai konteks etnomatematika, sedangkan GeoGebra digunakan sebagai media visualisasi dinamis. Keduanya kemudian dipadukan dengan struktur pembelajaran berbasis tantangan.

Hasil pengembangan menunjukkan bahwa bahan ajar memperoleh penilaian yang positif. Validasi ahli menghasilkan rata-rata skor 193 dari skor maksimal 216, sedangkan validasi praktisi memperoleh rata-rata skor 214 dari skor maksimal 216. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar berada dalam kategori sangat layak berdasarkan kriteria yang digunakan.

Melalui pemanfaatan Batik Ceplok sebagai konteks pembelajaran, mahasiswa UNNES menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Matematika pun tidak lagi hanya ditemukan dalam buku dan papan tulis, tetapi dapat ditemukan melalui pola budaya yang ada di sekitar mereka.

Pada akhirnya, pengintegrasian budaya dalam pembelajaran matematika menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan menghargai kekayaan budaya Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image