Public Speaking di Kampus: Antara Kebutuhan Nyata dan Sekadar Tren
Lain-Lain | 2026-09-21 11:47:54
Public speaking menjadi salah satu keterampilan yang semakin populer di kalangan mahasiswa. Kemampuan berbicara di depan umum dibutuhkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari presentasi di kelas, diskusi, organisasi, hingga persiapan memasuki dunia kerja. Fenomena ini terlihat dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Duta Bangsa (UDB) Surakarta yang memberikan pelatihan seni berbicara di depan publik kepada mahasiswa baru. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan berbicara di hadapan forum.
Namun, apakah public speaking di kalangan mahasiswa benar-benar merupakan kebutuhan nyata atau hanya sekadar tren yang sedang populer? Apakah kemampuan berbicara di depan umum memang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam kehidupan akademik dan profesional?
Public speaking dapat dikatakan sebagai kebutuhan nyata karena mahasiswa hampir selalu berhadapan dengan situasi yang menuntut kemampuan komunikasi. Dalam perkuliahan, misalnya, mahasiswa harus mempresentasikan tugas, menyampaikan pendapat dalam diskusi, serta mempertahankan gagasan di hadapan dosen dan teman-temannya.
Hal tersebut juga terlihat dalam kegiatan PKKMB UDB Surakarta. Dalam berita Kompas.com, mahasiswa baru mendapatkan pembelajaran mengenai cara mengatasi rasa gugup, menyusun pesan yang menarik, dan berkomunikasi dengan percaya diri. Mereka juga langsung diberi kesempatan untuk berbicara, menyampaikan pendapat, dan mengekspresikan diri di depan forum.
Kebutuhan terhadap kemampuan komunikasi juga berkaitan dengan dunia kerja. Berita detik.com mengenai keterampilan yang banyak dibutuhkan pada 2026 mencantumkan public speaking dan komunikasi sebagai salah satu soft skill yang penting. Kemampuan tersebut tidak hanya mencakup berbicara di depan umum, tetapi juga presentasi, storytelling, komunikasi verbal dan nonverbal, mendengarkan secara aktif, serta negosiasi.
Selain itu, pengalaman mahasiswa ITB yang mempresentasikan hasil penelitian di hadapan para profesor di Central South University, China, menunjukkan bahwa kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas dapat menjadi bagian dari pengalaman akademik mahasiswa di tingkat internasional. Dalam kegiatan tersebut, dua mahasiswa ITB memaparkan penelitian mereka secara teknis dan logis di hadapan komite profesor.
Meski demikian, public speaking tidak seharusnya dipandang sebagai satu-satunya keterampilan yang menentukan keberhasilan mahasiswa. Kemampuan berbicara perlu berjalan bersama dengan penguasaan ilmu, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, kepemimpinan, dan keterampilan teknis. Dengan demikian, mengikuti pelatihan public speaking tidak cukup jika tidak dibarengi dengan praktik nyata dan penguasaan materi.
Berdasarkan hal tersebut, public speaking di kampus bukan hanya sekadar tren. Keterampilan ini memiliki fungsi nyata dalam kehidupan akademik dan dapat menjadi bekal ketika mahasiswa memasuki dunia profesional. Namun, manfaatnya akan lebih terasa apabila kemampuan berbicara dikembangkan melalui praktik, bukan hanya melalui pelatihan atau kegiatan yang bersifat seremonial.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak perlu menjadi pembicara profesional untuk membutuhkan public speaking. Kemampuan menyampaikan ide dengan jelas, percaya diri, dan terstruktur merupakan bagian dari proses pendidikan dan persiapan menghadapi kehidupan setelah lulus. Karena itu, public speaking sebaiknya dipandang sebagai keterampilan yang perlu dilatih secara berkelanjutan, bukan sekadar tren yang diikuti karena sedang populer.
Sumber berita :
- Kompas.com — “PKKMB UDB Surakarta Gandeng Kompas.com Asah Kemampuan Komunikasi Mahasiswa Baru”
- detikEdu — “Thaufik dan Zakky, Mahasiswa ITB Presentasi Riset di Depan Profesor Kampus Top China”
- detik.com — “Daftar Soft Skill yang Paling Dibutuhkan 2026”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
