Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhamad Habibi

Public Speaking yang Komunikatif dan Interaktif: Ketika Audiens Bagian dari Komunikasi

Pendidikan | 2026-09-21 11:13:03

Kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking menjadi salah satu keterampilan penting yang dibutuhkan dalam kehidupan akademik maupun profesional. Namun, kemampuan public speaking tidak hanya berkaitan dengan keberanian berbicara di hadapan banyak orang, tetapi juga bagaimana seorang pembicara mampu menyampaikan pesan secara komunikatif dan membangun interaksi dengan audiens.

Muhamad Habibi, salah satu narasumber dalam pembahasan mengenai “Komunikatif dan Interaktif dalam Public Speaking”, menyampaikan bahwa seorang pembicara perlu memperhatikan cara menyampaikan informasi agar dapat dipahami oleh audiens.

Menurut Muhamad Habibi, “public speaking yang baik bukan hanya tentang bagaimana seseorang mampu berbicara di depan banyak orang, tetapi juga bagaimana pembicara dapat membuat pendengar memahami dan tertarik terhadap pesan yang disampaikan. Seorang pembicara perlu menggunakan bahasa yang mudah dipahami, intonasi yang sesuai, serta memperhatikan ekspresi dan bahasa tubuh. Dengan komunikasi yang jelas, audiens akan lebih mudah mengikuti pembahasan.” ujarnya pada tanggal 20 September 2026

Menurutnya, seorang pembicara juga perlu memahami karakteristik audiens. Penyampaian materi yang terlalu formal atau monoton dapat membuat audiens kehilangan perhatian. Oleh karena itu, pembicara perlu menyesuaikan gaya komunikasi dengan situasi dan kondisi audiens.

Pendapat serupa disampaikan Nanda Yulia. Ia menilai bahwa unsur interaktif memiliki peran penting dalam menciptakan komunikasi yang efektif ketika seseorang melakukan public speaking.

Nanda Yulia berpendapat bahwa “unsur interaktif juga sangat penting dalam public speaking. Pembicara tidak seharusnya hanya berbicara dari awal sampai akhir tanpa melibatkan audiens. Interaksi dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan, meminta pendapat, memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, atau memberikan kesempatan kepada audiens untuk menyampaikan tanggapan.” ujarnya pada tanggal 20 September 2026

Dalam praktiknya, komunikasi yang komunikatif dan interaktif dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pembicara dapat mengawali penyampaian dengan pertanyaan sederhana, memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menggunakan kontak mata, serta memberikan kesempatan kepada audiens untuk berpartisipasi.

Melalui penerapan komunikasi dua arah tersebut, public speaking tidak lagi hanya dipandang sebagai aktivitas berbicara di depan banyak orang. Lebih dari itu, public speaking menjadi proses membangun hubungan dan pertukaran informasi antara pembicara dengan audiens.

Baik Muhamad Habibi maupun Nanda Yulia menekankan bahwa kemampuan public speaking perlu terus dilatih. Keberanian berbicara, kemampuan menyampaikan pesan secara jelas, serta kemampuan membangun interaksi dengan audiens merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komunikasi publik yang efektif.

Pada akhirnya, seorang pembicara yang baik bukan hanya mereka yang mampu berbicara dengan lancar, tetapi juga mampu membuat audiens merasa dilibatkan, memahami pesan yang disampaikan, dan memberikan respons terhadap komunikasi yang berlangsung.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image