Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Riswan Hidayat

Memakai Kacamata Jawa di Depan Pasar Digital

Sastra | 2026-09-18 13:10:32


Memakai Kacamata Jawa di Depan Pasar Digital

Teknologi selalu datang membawa janji: lebih cepat, lebih mudah, lebih murah, dan lebih efisien. Kita menyambutnya karena teknologi memang membuat banyak urusan menjadi sederhana. Namun ada satu hal yang sering luput kita tanyakan: ketika kita menggunakan teknologi, apakah kita hanya memakai alat, atau sekaligus menerima cara berpikir yang dibawanya?

Pertanyaan ini menjadi penting di tengah kehidupan digital yang semakin menguasai keseharian. Mesin pencari, media sosial, penyimpanan awan, platform belanja, hingga kecerdasan buatan hadir dengan layanan yang sering kali gratis atau sangat murah. Kita masuk dengan sukarela. Kita menyerahkan data, perhatian, kebiasaan, bahkan sebagian keputusan kita.

Dalam dunia teknologi, ada strategi yang pernah dikenal dengan istilah Embrace, Extend, and Extinguish: mula-mula merangkul pengguna, kemudian memperluas ketergantungan, dan pada akhirnya membuat pilihan alternatif semakin sulit. Dalam bentuk yang lebih sederhana, kita bisa melihatnya sebagai pola: masuklah dengan kenyamanan, bertahanlah dengan ketergantungan.

Yang terjadi bukan penjajahan dalam bentuk lama. Tidak ada kapal perang, pasukan, atau bendera asing. Yang datang adalah kenyamanan. Kita bahkan dengan senang hati membuka pintunya.

Kita barangkali dapat membaca gejala ini melalui novel Pasar karya Kuntowijoyo. Persaingan Pak Mantri Pasar dan Kasan Ngali bukan sekadar pertarungan dua tokoh. Di dalamnya terdapat dua cara memandang pasar. Bagi Pak Mantri, pasar bukan semata tempat transaksi, tetapi ruang sosial yang diikat oleh tata nilai, kebiasaan, kepercayaan, dan martabat. Sementara Kasan Ngali melihat pasar terutama sebagai ruang yang dapat diperluas dan dikuasai.

Bukankah pola tersebut terasa dekat dengan kehidupan digital kita?

Mesin pencari gratis. Media sosial gratis. Penyimpanan awan gratis. Bahkan kecerdasan buatan kini tersedia dalam berbagai bentuk yang memungkinkan kita menggunakannya tanpa harus membayar langsung.

Kita memasuki sebuah "pasar tanpa karcis". Tetapi harga yang dibayarkan tidak selalu berupa uang. Kita membayarnya dengan perhatian, data, waktu, kebiasaan, dan jejak perilaku.

Masalahnya, karena semua itu berlangsung secara nyaman, kita sering tidak merasa sedang kehilangan sesuatu.

Di sinilah kebudayaan diperlukan. Bukan untuk memusuhi teknologi, melainkan untuk menentukan bagaimana teknologi seharusnya digunakan.

Kita terlalu sering membayangkan teknologi sebagai sesuatu yang berasal dari laboratorium modern, sementara kebudayaan dianggap sebagai peninggalan masa lalu. Padahal, jika teknologi dipahami sebagai cara manusia menyelesaikan persoalan, kebudayaan juga merupakan teknologi yang telah bekerja jauh sebelum internet ditemukan.

Bahasa adalah teknologi untuk menyimpan pengalaman. Aksara adalah teknologi untuk melawan lupa. Musyawarah adalah teknologi untuk menyelesaikan konflik. Tradisi adalah teknologi untuk mewariskan pengetahuan. Pepatah adalah teknologi sosial untuk membantu manusia mengambil keputusan.

Dengan cara pandang itu, budaya tidak berlawanan dengan teknologi. Budaya adalah teknologi yang jauh lebih tua.

Budaya Jawa, misalnya, memiliki perangkat untuk menghadapi dunia yang serba cepat. Alon-alon waton kelakon mengingatkan bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Sakmadya mengajarkan kecukupan dan batas. Eling lan waspada mengingatkan manusia agar tidak kehilangan kesadaran ketika berhadapan dengan keadaan yang terus berubah.

Nilai-nilai tersebut justru menjadi penting ketika kehidupan digital dibangun berdasarkan perebutan perhatian.

Setiap notifikasi menghendaki respons. Setiap platform berlomba membuat kita bertahan lebih lama. Setiap algoritma berusaha mempelajari apa yang kita sukai agar dapat menawarkan sesuatu yang membuat kita kembali lagi.

Dalam situasi semacam itu, kemampuan untuk berhenti menjadi penting.

Di sinilah konsep mulat sarira dapat dibaca kembali secara kontekstual. Sebelum mengklik, membeli, membagikan, atau mempercayai sesuatu yang muncul di layar, kita dapat bertanya: siapa yang sebenarnya membutuhkan tindakan saya?

Apakah saya membutuhkan informasi ini, atau platform membutuhkan perhatian saya?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi penting. Ia menciptakan jarak antara rangsangan dan tindakan. Di tengah dunia yang ingin membuat kita bereaksi secepat mungkin, jeda adalah bentuk kebebasan.

Namun, memakai kacamata (budaya) Jawa tidak berarti menolak teknologi modern. Justru sebaliknya. Sejarah masyarakat kita menunjukkan kemampuan untuk menyerap teknologi dan menyesuaikannya dengan kebutuhan sosial.

Telepon genggam dapat digunakan untuk mengorganisasi ronda. WhatsApp dapat menjadi sarana mengabarkan kematian warga. Media sosial dapat digunakan untuk menggalang gotong royong. Teknologi yang awalnya dirancang dalam logika global dapat memperoleh fungsi yang sangat lokal.

Di situlah kebudayaan bekerja: bukan menghalangi teknologi, tetapi menyaringnya.

Karena itu, ukuran kemajuan sebuah masyarakat seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa cepat ia mengadopsi teknologi terbaru. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat tersebut masih memiliki kemampuan menentukan batas penggunaannya.

Kita perlu bertanya bukan hanya, "Apa yang bisa dilakukan teknologi ini?" tetapi juga, "Apa yang sebaiknya tidak kita serahkan kepada teknologi?"

Pertanyaan kedua jauh lebih sulit.

Kecerdasan buatan dapat membantu menulis, tetapi apakah seluruh proses berpikir harus kita serahkan kepadanya? Media sosial dapat memperluas pertemanan, tetapi apakah seluruh pengalaman sosial harus berlangsung melalui layar? Algoritma dapat membantu memilih, tetapi apakah kita masih mampu menentukan pilihan ketika rekomendasi mesin terus-menerus mendahului keinginan kita?

Di sinilah kebudayaan dibutuhkan sebagai penentu arah.

Kemajuan tidak seharusnya berarti manusia semakin patuh kepada mesin. Kemajuan justru berarti manusia semakin mampu menggunakan mesin tanpa kehilangan kemampuan untuk berkata: ya, tidak, atau cukup.

Memakai kacamata Jawa di depan pasar digital bukan berarti kembali ke masa lalu. Ia berarti membawa ingatan kebudayaan ke dalam masa depan.

Sebab teknologi boleh berubah secepat apa pun. Tetapi manusia tetap membutuhkan kebijaksanaan untuk menentukan kapan harus menggunakan, kapan harus berhenti, dan kapan harus mengatakan tidak.

Pasar digital boleh semakin luas. Algoritma boleh semakin cerdas. Kecerdasan buatan boleh semakin menyerupai manusia.

Tetapi jangan sampai kita menjadi semakin menyerupai algoritma.

Sebab persoalan terbesar zaman ini bukan apakah manusia mampu menciptakan mesin yang cerdas, melainkan apakah manusia masih cukup bijaksana untuk tidak menyerahkan seluruh hidupnya kepada mesin yang ia ciptakan sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image