Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Audrey Sadina Putri

Ketika Rindu Berubah Jadi Pilu: Mengenal Depresi Akibat Homesickness pada Anak Rantau

Gaya Hidup | 2026-09-16 19:13:25

Setiap tahun, ratusan ribu anak muda Indonesia meninggalkan kampung halaman untuk merantau: melanjutkan kuliah, bekerja, atau mengadu nasib di kota lain. Momen keberangkatan itu sering dibingkai sebagai awal petualangan baru yang membanggakan. Namun, di balik semangat itu, banyak anak rantau diam-diam bergulat dengan kerinduan yang tidak kunjung reda, perasaan asing di lingkungan baru, dan kesepian yang perlahan menggerogoti kesehatan mental mereka. Ketika kerinduan itu dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, ia dapat berkembang menjadi depresi, gangguan suasana hati yang memengaruhi cara berpikir, merasa, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam istilah psikologi, kerinduan akan rumah yang intens ini disebut homesickness. Archer dan koleganya mendefinisikan homesickness sebagai kondisi kognitif-emosional yang muncul akibat perpisahan dari rumah dan orang-orang yang dicintai, ditandai dengan pikiran yang terus-menerus mengarah pada rumah, perasaan cemas, sedih, dan kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru (Archer et al., 1998). Homesickness bukan sekadar rasa rindu biasa yang muncul sesekali, melainkan pola pikir dan emosi yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, pola makan, pola tidur, hingga interaksi sosial. Homesickness wajar terjadi akibat perubahan lingkungan, tetapi berkepanjangan dapat memicu masalah kesehatan mental, termasuk depresi.

Fenomena ini bukan isapan jempol. Beberapa penelitian pada mahasiswa rantau di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Penelitian pada mahasiswa rantau asal Jabodetabek angkatan 2023 di Fisip Universitas Jenderal Soedirman menemukan bahwa lebih dari separuh responden, yakni 52 persen, mengalami perilaku homesick pada kategori sedang (Universitas Jenderal Soedirman, 2024). Sementara itu, penelitian terhadap mahasiswa rantau di Universitas Diponegoro menemukan hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan tingkat homesickness, artinya semakin lemah dukungan sosial yang diterima, semakin tinggi kerinduan dan tekanan emosional yang dirasakan (Rohmatun, 2024).

Data terkait depresi pada kelompok usia anak rantau juga tidak kalah mengkhawatirkan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi depresi nasional sebesar 1,4 persen, tetapi angka ini melonjak menjadi 2 persen pada kelompok usia 15–24 tahun, kelompok usia yang mendominasi populasi mahasiswa dan pekerja muda rantau (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023). Survei yang sama menemukan bahwa perempuan muda memiliki prevalensi depresi lebih tinggi (2,8 persen) dibandingkan laki-laki muda (1,1 persen), dan penduduk usia muda di wilayah perkotaan, tempat sebagian besar anak rantau tinggal, mencatat prevalensi tertinggi yakni 2,5 persen dibandingkan wilayah perdesaan sebesar 1,23 persen (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023).

Gambaran pada populasi mahasiswa secara spesifik bahkan lebih tinggi. Sejumlah penelitian menggunakan Beck Depression Inventory (BDI) pada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia melaporkan prevalensi gejala depresi berkisar 41,5 hingga 54,7 persen, sedangkan pada mahasiswa kedokteran tingkat sarjana angkanya berada di rentang 35,6 hingga 51,4 persen (Kompas.id, 2024). Angka-angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan data prevalensi gangguan mental nasional secara umum, dan tekanan psikologis akibat perpindahan lingkungan serta jauh dari sistem dukungan keluarga diyakini menjadi salah satu kontributor pentingnya. Homesickness dan depresi berbeda, tetapi homesickness berat tanpa dukungan dan koping sehat dapat berkembang menjadi depresi. (Afrilia dkk., 2024).

Penelitian deskriptif pada mahasiswa perantau di Makassar menegaskan bahwa homesickness yang tidak tertangani berkontribusi terhadap penurunan kesejahteraan psikologis, motivasi belajar, dan kualitas relasi sosial mahasiswa di lingkungan barunya (Palimbu dkk., 2025). Sementara itu, kajian pada mahasiswa program pertukaran menemukan bahwa kompetensi interkultural yang rendah turut memperbesar risiko homesickness, karena mahasiswa kesulitan memaknai perbedaan budaya sebagai sesuatu yang wajar, bukan ancaman. Tidak semua anak rantau mengalami dampak yang sama. Sejumlah faktor terbukti memengaruhi seberapa berat homesickness yang dirasakan seseorang, di antaranya:

 

  • a. Dukungan sosial mahasiswa dengan dukungan teman sebaya dan keluarga yang kuat cenderung memiliki tingkat homesickness yang lebih rendah (Rohmatun, 2024).

 

  • b. Strategi koping individu yang menggunakan strategi emotion focused coping, misalnya mengelola emosi melalui hobi, ibadah, atau berbagi cerita, cenderung memiliki homesickness lebih ringan dibandingkan yang hanya mengandalkan problem focused coping semata.

 

  • c. Kecerdasan budaya (cultural intelligence) kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan norma budaya baru berkorelasi negatif dengan tingkat homesickness.

 

  • d. Jenis kelamin dan usia beberapa penelitian menunjukkan mahasiswa perempuan dan mahasiswa tahun pertama cenderung melaporkan tingkat homesickness dan gejala depresi yang lebih tinggi.

 

  • e. Makna rumah penelitian pada mahasiswa rantau di Universitas Padjadjaran menemukan bahwa mahasiswa yang memaknai rumah sebagai keluarga dan perasaan psikologis, bukan sekadar bangunan fisik, memiliki cara berbeda dalam mengelola kerinduannya (Prasetio, 2020).

Rindu rumah pada minggu-minggu awal merantau adalah hal yang lumrah dan biasanya mereda seiring waktu. Namun, penting untuk waspada apabila muncul tanda-tanda berikut, yang mengindikasikan kerinduan sudah bergeser menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius:

 

  • a. Kesedihan atau kehampaan yang berlangsung hampir setiap hari selama lebih dari dua minggu.

 

  • b. Kehilangan minat terhadap kuliah, pekerjaan, hobi, atau pertemanan yang sebelumnya dinikmati.

 

  • c. Gangguan tidur yang signifikan, baik sulit tidur maupun tidur berlebihan.

 

  • d. Perubahan nafsu makan yang mencolok, disertai penurunan atau kenaikan berat badan.

 

  • e. Menarik diri secara sosial, enggan berkomunikasi bahkan dengan keluarga di kampung halaman.

 

  • f. Muncul pikiran putus asa, merasa tidak berharga, atau bahkan keinginan menyakiti diri sendiri.

Apabila salah satu atau beberapa tanda ini muncul dan berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap remeh sebagai “rindu biasa”. Kabar baiknya, homesickness dan risiko depresi yang menyertainya dapat dikelola dengan langkah-langkah yang tepat, baik oleh individu maupun lingkungan sekitarnya.

 

  • a. Bangun jaringan sosial baru aktif dalam kegiatan kampus, organisasi, atau komunitas dapat menumbuhkan rasa memiliki di lingkungan baru tanpa harus melupakan rumah.

 

  • b. Jaga komunikasi rutin dengan keluarga komunikasi terjadwal, bukan berlebihan, membantu menjaga ikatan emosional tanpa memperkuat rasa rindu yang berlebihan.

 

  • c. Kenali dan hargai budaya baru bersikap terbuka terhadap kebiasaan dan nilai lokal membantu mempercepat proses adaptasi.

 

  • d. Kelola emosi secara sehat menulis jurnal, berolahraga, beribadah, atau menyalurkan hobi terbukti membantu meredakan tekanan emosional.

 

  • e. Ciptakan rutinitas baru rutinitas harian yang stabil di tempat rantau memberi rasa aman dan kendali atas kehidupan baru.

 

  • f. Kenali kapan harus mencari bantuan jika gejala menetap lebih dari dua minggu dan mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasi dengan konselor kampus, psikolog, atau tenaga kesehatan mental profesional sangat dianjurkan.

Peran lingkungan sekitar termasuk kampus, tempat kerja, dan komunitas perantau, juga penting. Layanan konseling kampus, program orientasi yang ramah secara emosional, serta komunitas sesama perantau dari daerah asal dapat menjadi jaring pengaman sosial yang efektif untuk mencegah homesickness berkembang menjadi depresi. Mencari bantuan profesional bukanlah kelemahan penanganan dini, hal itu justru membantu mencegah kondisi memburuk dan mempercepat pemulihan. Merantau proses tumbuh; mengenali homesickness, membangun dukungan, dan mencari bantuan akan membantu menjaga kesehatan mental.

Daftar Pustaka

Afrilia, D., Fuad, M., & Siregar, Z. (2024). Pengaruh homesickness terhadap kesehatan mental mahasiswa rantau. Jurnal Studi Islam Indonesia, 2(1), 176–188.

Archer, J., Ireland, J., Amos, S., Broad, H., & Currid, L. (1998). Derivation of a homesickness scale. British Journal of Psychology, 89(2), 205–221.

GoodStats. (2025, 27 Oktober). Data jumlah kasus depresi dan bunuh diri didominasi usia muda. GoodStats. https://goodstats.id/article/data-depresi-dan-bunuh-diri-Xs9cn

Jurnal Ilmiah Wahana. (2023). Homesickness pada mahasiswa rantau tahun pertama: Apakah berhubungan dengan cultural intelligence dan happiness? Jurnal Ilmiah Wahana, 1(2).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan tematik Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023: Depresi pada anak muda di Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kemenkes RI. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5532/

Kompas.id. (2024, 19 April). Depresi pada mahasiswa. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/depresi-pada-mahasiswa

Palimbu, B. L., Minarni, & Taibe, P. (2025). Homesickness pada mahasiswa perantau di Makassar: Sebuah tinjauan deskriptif. Jurnal Promotif Kesehatan, 5(1), 51–57. https://doi.org/10.56326/jpk.v5i1.5588

Prasetio, C. E. (2020). Pemaknaan rumah pada mahasiswa rantau. Mediapsi, 6(2), 118–129.

Rohmatun. (2024). Derita mahasiswa rantau: Homesickness mahasiswa rantau ditinjau dari dukungan sosial teman sebaya. Psisula: Prosiding Berkala Psikologi, 6.

Universitas Jenderal Soedirman. (2024). Perilaku homesickness mahasiswa rantau (Studi pada mahasiswa rantau asal Jabodetabek tahun pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsoed) [Skripsi, Universitas Jenderal Soedirman]. Repository Unsoed. http://repository.unsoed.ac.id/31017/

World Health Organization. (2023). Depression. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/depression

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image