Pesan dari Alam
Agama | 2026-09-09 14:19:06
Sesaat masyarakat bisa bernapas lega sebab angin telah menggiring abu vulkanik ke Samudra Hindia pada Senin, 7 September 2026, menjauhi daratan. Ada empat gunung api mengalami erupsi beberapa hari lalu, yaitu Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, Gunung Semeru di Jatim, Gunung Ibu di Maluku Utara, dan Gunung Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebaran abu Gunung Anak Krakatau sampai ke Banten, sebagian Jawa Barat, Jakarta, Bengkulu dan Lampung. Dan kembali pagi ini, 9 September 2026, keempat gunung tersebut beraktivitas.
Abu vulkanik tak pelak menurunkan kualitas udara, mengganggu penerbangan dan menghalangi jarak pandang. Tampak betapa terbatasnya manusia, saat salah satu nikmat Allah dicabut, sebagian aktivitas kita tak dapat terselenggara. Anak-anak terpaksa melakukan pembelajaran daring, masyarakat kembali menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Abu vulkanik masih menggantung di udara. Sebagian mendarat di atap-atap rumah, pepohonan dan jalan-jalan. Semua tampak kelabu, diselimuti abu.
Tak hanya erupsi, tetapi gempa, gerhana, kebakaran, longsor dan banjir pun melanda kehidupan umat. Manusia melihatnya sebagai fenomena alam. Sementara dari paradigma keimanan, sepatutnya kita waspada ada pesan yang ingin disampaikan alam kepada manusia.Karena alam tak mungkin gelisah tanpa ada pencetusnya. Sebagaimana halnya manusia, alam pun bersifat terbatas, lemah, serba kekurangan dan membutuhkan kepada yang lainnya.
Alam semesta juga memerlukan pengaturan yang tepat agar menghasil kebaikan bagi manusia. Ada karakteristik dasar (qada) yang akan tampil ketika manusia melanggarnya, ia bisa meradang saat manusia mengeksploitasinya habis-habisan. Maka kita perlu memperhatikan alam, memperlakukannya dengan benar atas nama individu, masyarakat atau negara, dan tidak merusaknya.
Dengan mengarahkan pandangan kita terhadap alam semesta, manusia dan juga kehidupan, maka akan hadir pemahaman adanya Allah Sang Pengatur (al-Mudabbir). Ayat-ayat Allah bertebaran di muka bumi, mengajak manusia mengimani keberadaan-Nya. Dalam QS 88: 17 - 20, Allah berfirman: Apakah kamu tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaiman ia dihamparkan?
Saat terjadi bencana, manusia pun harus segera mawas diri, mengoreksi setiap tindakannya yang mempengaruhi alam. Demikian pula halnya pada tataran penguasa yang memiliki wewenang luas. Salah kebijakan akan berdampak fatal dan membahayakan. Pun perlu mitigasi yang tepat, serta tanggap bencana, agar kehidupan masyarakat terus berjalan dengan baik, tidak terkatung-katung di tenda-tenda darurat.
Dalam tatanan kehidupan yang berpijak pada kapitalisme, alam dieksploitasi. Flora dan fauna terbengkalai, alam pun tersiksa. Maka wajar jika muncul bencana. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." QS Ar-Rum ayat 41.
Rakyat semakin terimpit, saat pemerintah mengurangi anggaran bantuan penanggulangan bencana. Dengan dalih efisiensi, berbagai kebijakan dan fasilitas publik, dipotong di sana-sini. Minimnya bantuan dari penguasa membuat masyarakat menolong dirinya sendiri, dan mengandalkan bantuan atau donasi sesama. Warga bantu warga menjadi tagar yang terus digunakan.
Kembali pada Islam
Dalam Islam, manusia memiliki kebutuhan asasiyah berupa pangan, sandang , papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Kepemimpinan dalam Islam sebagai pengatur dan pelindung, akan memastikan kebutuhan pokok tersebut bisa diperoleh setiap individu.
Alam diposisikan sebagai kepemilikan umum (milkiyah ammah) yang akan dikelola oleh negara dan hasilnya digunakan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat. Alam tidak boleh dieksploitasi semena-mena, tanpa ilmu dan sandaran keimanan. Sehingga dipastikan manusia dapat memperoleh manfaatnya, sedangkan alam tetap lestari.
Di wilayah rawan bencana, masyarakat tetap berada dalam pengawasan dan perlindungan penguasa. Bentuk bangunan dan infrastruktur disesuaikan, akses bantuan pun dipermudah, tanggul-tanggul diatur dengan baik, sehingga dipastikan masyarakat tidak terlalu dekat dengan sumber bencana.Bantuan tanggap darurat tersedia di baitul mal akan selalu tersedia kapanpun rakyat membutuhkannya. Jika kas baitul mal habis, maka warga muslim yang kaya (aghniya) siap membantu mengisinya.
Kembali kepada Islam adalah sebaik-baik perkara. Tidak hanya manusia, tetapi juga tumbuhan dan hewan ikut merasakan rahmat-Nya. Penerapan syariat secara totalitas, akan meniscayakan rahmat bagi semesta alam. Allahumma ahyanaa bil Islam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
