Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ichsani Fauziah

Desa Santanamekar Angkat Potensi Alam, Budaya, dan Sejarah melalui Ngamumule Lembur

Wisata | 2026-09-03 15:21:59

Tasikmalaya - Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, menyimpan berbagai kekayaan lokal yang meliputi wisata alam, kesenian tradisional, hingga cerita sejarah masyarakat. Beragam potensi tersebut kemudian dikemas melalui kegiatan Ngamumule Lembur, sebuah kegiatan yang mengangkat semangat pelestarian lingkungan, budaya, dan sejarah lokal.

Salah satu daya tarik Ngamumule Lembur adalah konsep perkemahan yang membawa pengunjung merasakan kembali suasana kehidupan masyarakat Sunda pada era 1970-an. Kegiatan dirancang dengan nuansa sederhana dan menyatu dengan alam, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan listrik(22/8).

Suasana tempo dulu semakin terasa melalui penyalaan sekitar 1.000 obor yang menerangi kawasan kegiatan. Selain menjadi bagian dari pengalaman camping, penyalaan obor tersebut juga menggambarkan kembali kehidupan masyarakat pada masa ketika penerangan dan berbagai fasilitas modern belum seperti sekarang.

Kegiatan ini turut diisi dengan berbagai pertunjukan kesenian tradisional Sunda. Kehadiran kesenian tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus menjaga agar tradisi masyarakat tetap dikenal dan diwariskan.

Ngamumule Lembur tidak semata-mata dikembangkan sebagai kegiatan wisata. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, kesederhanaan, serta kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang ingin kembali dihidupkan melalui kegiatan tersebut.

Dari sisi alam, posisi Santanamekar yang berada di kawasan kaki Gunung Galunggung memberikan pemandangan yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah panorama citylight hingga sekitar 180 derajat dengan latar Dinding Ari-Ari Gunung Galunggung.

Potensi wisata lainnya adalah Curug Batu Blek. Kawasan air terjun tersebut dapat dijangkau melalui dua akses, yakni jalur Leuwibodas dan Cipeteuy. Masing-masing jalur memiliki karakter tersendiri. Jalur Leuwibodas cenderung lebih mudah dilalui karena kondisi aksesnya relatif lebih baik, sedangkan jalur Cipeteuy menawarkan perjalanan yang lebih menantang dengan sejumlah tanjakan dan medan yang cukup curam.

Tidak hanya mengandalkan wisata alam, Santanamekar juga memiliki cerita sejarah yang erat dengan perkembangan wilayahnya. Desa tersebut merupakan hasil pemekaran dari Desa Cisayong. Nama “Santana” sendiri berkaitan dengan Ali Santana, sosok yang dikenal sebagai kuwu atau kepala desa pertama Desa Cisayong pada masa lalu.

Jejak sejarah masyarakat Santanamekar juga tidak dapat dipisahkan dari kisah Mak Eroh, seorang perempuan yang dikenal karena perjuangannya dalam membuka akses air bagi masyarakat dan lahan pertanian.

Dengan menggunakan peralatan sederhana, Mak Eroh mengerjakan cadas dan tebing yang sulit selama bertahun-tahun untuk membuat saluran air. Upaya tersebut kemudian membantu mengalirkan air menuju lahan pertanian masyarakat yang sebelumnya menghadapi persoalan kekeringan.

Perjuangan Mak Eroh dalam bidang lingkungan mendapatkan penghargaan Kalpataru pada 1988. Hingga kini, kisah tersebut masih menjadi salah satu bagian penting dari sejarah masyarakat Santanamekar dan menjadi contoh kegigihan dalam menjaga lingkungan serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Melalui Ngamumule Lembur, berbagai potensi tersebut dipertemukan dalam satu rangkaian kegiatan. Alam menjadi ruang untuk berwisata, budaya menjadi bagian dari hiburan sekaligus pelestarian tradisi, sementara sejarah menjadi pengingat terhadap perjalanan masyarakat Santanamekar.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi langkah untuk memperkenalkan Santanamekar sebagai desa yang memiliki kekayaan lokal yang beragam. Dengan pengelolaan dan promosi yang berkelanjutan, potensi alam, budaya, dan sejarah diharapkan dapat terus dikenal masyarakat luas tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitas masyarakat setempat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image