Tertib dan Aman: Headset Dipakai Pengendara untuk Menelepon Tanpa Pegang HP
Info Terkini | 2026-09-02 15:36:04
Tertib dan Aman: Headset Dipakai Pengendara untuk Menelepon Tanpa Pegang HP
Headset kerap digunakan pengendara untuk menerima telepon tanpa harus memegang ponsel. Namun, penggunaan perangkat tersebut saat kendaraan masih melaju tetap berisiko mengganggu konsentrasi.
Jakarta – Pemandangan pengendara yang menerima telepon ketika berada di jalan masih mudah ditemui. Sebagian pengendara memilih menggunakan headset agar tidak perlu memegang handphone (HP) secara langsung saat berkendara.
Penggunaan headset dinilai lebih praktis karena kedua tangan pengendara tetap dapat berada di setang, khususnya bagi pengguna sepeda motor. Meski begitu, cara tersebut bukan berarti aktivitas bersepeda saat berkendara menjadi aman sepenuhnya.
Korlantas Polri mengingatkan penggunaan HP ketika berkendara tetap dapat mempengaruhi konsentrasi. Hal itu berlaku ketika ponsel digunakan untuk menelepon, membuka peta, maupun melalui headset.
“Menggunakan handphone saat berkendara, baik untuk telepon, peta, atau headset, tetap mempengaruhi konsentrasi dan berpotensi menimbulkan kecelakaan,” demikian pernyataan yang disampaikan dalam kegiatan Operasi Keselamatan 2026.
Bukan Hanya Tangan yang Harus Bebas
Mengendarai kendaraan membutuhkan konsentrasi penuh. Pengendara harus memperhatikan kendaraan di depan, kondisi jalan, rambu lalu lintas, hingga pergerakan pengguna jalan lain.
Oleh karena itu, permasalahan penggunaan HP saat berkendara tidak hanya berkaitan dengan apakah tangan memegang perangkat atau tidak. Ketika pengendara melakukan percakapan melalui telepon, pikirannya tetap dapat memahami pembicaraan dan situasi yang terjadi di jalan.
Kondisi tersebut menjadi semakin berisiko ketika lalu lintas sedang padat. Kendaraan di depan dapat mengerem secara tiba-tiba, pengendara lain dapat berpindah jalur, atau pejalan kaki tiba-tiba di seberang.
Dalam situasi seperti itu, pengendara membutuhkan respon yang cepat. Sedikit keterlambatan dalam mengenali kondisi di depan dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.
Aturan Sudah Mengatur
Penggunaan HP saat berkendara juga berkaitan dengan aturan lalu lintas. Korlantas Polri menjelaskan bahwa Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mewajibkan pengemudi mengemudikan kendaraan secara wajar dan dengan konsentrasi penuh.
Penjelasan aturan tersebut mencakup larangan melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kewaspadaan saat mengemudi, termasuk menggunakan telepon seluler.
Dengan demikian, penggunaan headset tidak seharusnya dianggap sebagai cara untuk menghindari risiko ketika pengendara tetap melakukan percakapan saat kendaraan bergerak.
Headset memang membuat pengendara tidak perlu lagi memegang HP. Namun, perangkat tersebut tidak menghilangkan potensi gangguan konsentrasi.
Mengapa Pengendara Masih Menggunakan Headset?
Ada berbagai alasan pengendara memilih menggunakan headset. Salah satunya adalah kebutuhan komunikasi yang dianggap penting. Beberapa orang mungkin menerima telepon dari keluarga, teman, rekan kerja, atau pihak lain ketika sedang berada dalam perjalanan.
Faktor kemudahan juga menjadi alasan. Dengan headset, pengendara tidak perlu mengambil HP dari saku atau tempat menyimpan kendaraan. Panggilan dapat didengar tanpa harus melihat layar secara langsung.
Meski terlihat lebih praktis, kebiasaan tersebut tetap memiliki risiko. Pengendara bisa terlalu fokus pada percakapan sehingga kurang memperhatikan suara kendaraan di sekitar maupun perubahan situasi lalu lintas.
Terlebih lagi jika headset memiliki kemampuan meredam suara dari luar atau digunakan dengan volume tinggi. Suara klakson, sirene ambulans, maupun suara kendaraan lain dapat menjadi lebih sulit terdengar.
Padahal, suara dari lingkungan sekitar merupakan salah satu informasi penting bagi pengendara untuk menentukan tindakan.
Headset Bukan Solusi Utama
Penggunaan teknologi dalam kendaraan pada dasarnya dapat membantu aktivitas manusia. Namun, teknologi juga harus digunakan dengan mempertimbangkan keselamatan.
Headset dapat membantu pengendara berkomunikasi tanpa harus memegang HP. Namun, perangkat tersebut bukanlah solusi utama untuk menghilangkan bahaya penggunaan ponsel saat berkendara.
Korlantas Polri bahkan menyarankan masyarakat untuk menepikan kendaraan apabila membutuhkan ponsel. Pengendara dapat menyelesaikan keperluannya terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Langkah tersebut memang membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun, berhenti beberapa menit jauh lebih aman dibandingkan gangguan keselamatan hanya untuk menerima panggilan ketika kendaraan sedang berjalan.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Jika mendapatkan panggilan ketika sedang berkendara, pengendara dapat mengabaikan panggilan tersebut terlebih dahulu. Setelah menemukan tempat yang aman, kendaraan dapat dihentikan dan telepon baru digunakan.
Hal yang sama berlaku ketika pengendara ingin mengirim pesan, membuka aplikasi, mencari alamat, atau melakukan aktivitas lain melalui HP.
Untuk kebutuhan navigasi, pengendara sebaiknya menyiapkan rute sebelum perjalanan atau menggunakan perangkat navigasi yang tidak memerlukan perhatian terus-menerus pada layar.
Jika perjalanan dilakukan bersama penumpang, penumpang juga dapat membantu mengoperasikan perangkat sehingga pengemudi tetap fokus terhadap jalan.
Keselamatan Jadi Tanggung Jawab Bersama
Budaya tertib lalu lintas tidak hanya ditentukan oleh keberadaan polisi atau banyaknya aturan. Kesadaran dari setiap pengguna jalan menjadi bagian penting dalam menciptakan lalu lintas yang aman.
Pengendara harus memahami bahwa satu keputusan kecil, seperti menerima telepon ketika kendaraan sedang bergerak, dapat membawa risiko yang tidak kecil.
Memakai headset memang dapat membuat tangan tetap berada di setang, namun keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh posisi tangan. Mata, pikiran, pendengaran, dan respon pengendara juga harus tetap fokus pada perjalanan.
Oleh karena itu, pilihan paling aman tetap sederhana: jika harus menggunakan HP, menepilah dan berhenti di tempat yang aman.
Dengan kebiasaan tersebut, pengendara dapat tetap berkomunikasi tanpa mengorbankan keselamatan dirinya sendiri maupun pengguna jalan lainnya. Sebab, sampai di tujuan dengan selamat jauh lebih penting daripada sekadar tidak melewatkan satu panggilan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
