Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kharisma Lucky Noviani

Menilik Dunia dari Sudut Pandang Anak Kecil: Resensi Buku Na Willa

Sastra | 2026-09-02 15:02:59

Menilik Dunia dari Sudut Pandang Anak Kecil: Resensi Buku Na Willa

Jaklitera / Perpustakaan Jakarta" />
Sumber: Jaklitera / Perpustakaan Jakarta

· Identitas Karya

Judul karya : Na Willa

Penulis : Reda Gaudiamo

Ilustrator : Cecillia Hidayat

Editor : Maesy Ang dan Teddy W. Kusuma

Penerbit : POST Press

Tempat terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman : 115 halaman

Genre : Fiksi

Bahasa : Indonesia

ISBN : 9786026030429

· Sinopsis dan Pembahasan Karya

Ada kalanya kehidupan justru terasa paling bermakna ketika dilihat dari sesuatu yang sederhana. Hal tersebut menjadi daya tarik utama dalam novel Na Willa karya Reda Gaudiamo yang menghadirkan kembali dunia kanak-kanak melalui berbagai kejadian sehari-hari yang sederhana namun terasa menarik.

Novel ini mengusung tema kehidupan kanak-kanak dan proses seorang anak dalam memahami dunia di sekitarnya yang membentuk cara pandangnya dalam memaknai kehidupan.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Na Willa, seorang anak perempuan yang memiliki rasa ingin tahu besar, polos, kritis, dan peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Sifat tersebut tampak dari kebiasaannya mempertanyakan hal-hal yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya ketika Na Willa mendengar suara orang bernyanyi dari radio dan kemudian bertanya-tanya bagaimana seseorang dapat bernyanyi dari dalam benda tersebut. Kepolosannya dalam memahami dunia justru membuatnya berani mempertanyakan sesuatu yang mungkin dianggap biasa oleh orang dewasa.

Selain Na Willa, terdapat Mak, Mbok, dan Pak yang menjadi bagian penting dalam kehidupan tokoh utama. Mak berperan sebagai sosok ibu yang dekat dengan Na Willa dan menjadi tempatnya memperoleh berbagai penjelasan tentang dunia. Mbok juga hadir dalam keseharian Na Willa, sedangkan Pak yang bekerja sebagai pelaut membuat kehadirannya memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan keluarga. Tokoh-tokoh lain seperti Dul yang aktif, Ida yang cadel, Bud yang selalu ingusan, Warno yang selalu mengejek Na Willa, Bu Juwita yang penyayang, dan orang-orang di sekitar tempat tinggal Na Willa turut memperkaya pengalaman yang membentuk cara pandangnya.

Latar yang digunakan dalam Na Willa berada di Kota Surabaya pada era 1960-an dan turut memperkuat nuansa kenangan masa kanak-kanak dalam cerita. Bagi pembaca yang tumbuh pada era tersebut, gambaran kehidupan yang dihadirkan dapat menjadi ruang nostalgia untuk mengenang kembali suasana kehidupan masa kecil.

Na Willa menggunakan alur maju yang mengikuti berbagai pengalaman tokoh utama dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Namun, novel ini tidak dibangun dengan satu konflik utama yang berkembang hingga mencapai klimaks, melainkan terdiri atas beberapa cerita yang menggambarkan keseharian Na Willa. Setiap kisah menghadirkan pengalaman, percakapan, atau persoalan sederhana yang kemudian memperlihatkan cara Na Willa memahami dunia. Pola tersebut membuat cerita terasa ringan dan mengalir.

Melalui kisah Na Willa, pembaca diajak untuk lebih peka terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar. Novel ini juga menunjukkan pentingnya menghargai perbedaan dan tidak menilai seseorang hanya berdasarkan latar belakang atau keadaan yang dimilikinya. Selain itu, rasa ingin tahu Na Willa mengajarkan bahwa keberanian untuk bertanya merupakan bagian dari proses memahami kehidupan. Dari sudut pandang seorang anak, pembaca diingatkan bahwa sesuatu yang terlihat sederhana sekalipun dapat mengajarkan kita agar memandang dunia dengan lebih terbuka.

· Hal yang menarik bagi penulis

Hal yang paling menarik bagi penulis adalah keberanian Na Willa ketika menghadapi perundungan dan perlakuan rasis dari Warno, tetangganya, serta lingkungan sekolahnya. Dalam menghadapi perlakuan tersebut, Na Willa tidak tinggal diam, dia dengan berani membela dirinya. Sikap tersebut membuat penulis salut karena di anak sekecil itu sudah menunjukkan keberanian untuk menghadapi perlakuan yang tidak adil kepadanya. Meskipun demikian, Mak mengajarkan bahwa membela diri bukan berarti menyelesaikan masalah dengan kekerasan atau bermain fisik. Nasihat tersebut menunjukkan bahwa keberanian tetap perlu disertai dengan kemampuan mengendalikan diri dan memahami cara yang tepat dalam menghadapi suatu persoalan.

Selain keberaniannya, semangat belajar Na Willa juga membuat penulis bangga ketika membacanya. Sebelum memasuki bangku sekolah, Na Willa sudah memiliki kemampuan membaca. Hal tersebut memperlihatkan bahwa rasa ingin tahunya tidak hanya membuatnya gemar bertanya, tetapi juga mendorongnya untuk mengenal dan mempelajari berbagai hal sejak dini. Bagi penulis, keberanian dan semangat belajar yang dimiliki Na Willa membuat tokohnya terasa kuat dan mempunyai tempat tersendiri di hati para pembaca, terutama karena kedua sifat tersebut tumbuh dari seorang anak yang masih memandang dunia dengan kepolosannya.

· Kekurangan dan Kelebihan Karya

Salah satu kekuatan Na Willa terletak pada penggunaan bahasa yang sederhana dan sudut pandang anak yang terasa alami. Karakter Na Willa juga berhasil digambarkan sebagai sosok yang polos, kritis, dan dekat dengan kehidupan anak-anak. Rasa ingin tahunya membuat berbagai kejadian sehari-hari terasa menarik tanpa harus dibumbui konflik yang berlebihan. Kehadiran ilustrasi Cecilia Hidayat pun menjadi pelengkap yang memperkuat gambaran suasana dan karakter dalam cerita.

Meskipun demikian, novel ini tidak sepenuhnya lepas dari kekurangan. Na Willa terdiri atas beberapa kisah yang berdiri cukup lepas sehingga alurnya tidak terlalu kuat jika dibandingkan dengan novel yang memiliki satu konflik utama. Beberapa persoalan juga hanya disinggung secara singkat sehingga tidak semuanya mendapatkan pembahasan yang mendalam. Bagi pembaca yang menyukai cerita dengan konflik berat dan alur yang penuh ketegangan, novel ini mungkin terasa kurang menggugah karena konflik yang dihadirkan cenderung ringan. Selain itu, terdapat beberapa kosakata dalam bahasa Jawa yang tidak disertai keterangan arti sehingga pembaca yang tidak memahami bahasa tersebut mungkin akan sedikit kesulitan mengikuti maknanya.

Terlepas dari kekurangannya, Na Willa tetap menawarkan pelajaran yang berharga. Novel ini mengajarkan pentingnya memiliki kepekaan dan empati terhadap orang-orang di sekitar, termasuk belajar untuk tidak memandang seseorang berdasarkan perbedaan yang dimilikinya. Melalui kebiasaan Na Willa dalam bertanya, pembaca juga diajak memahami bahwa sikap kritis dapat tumbuh dari rasa ingin tahu dan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Pada akhirnya, novel ini tidak hanya mengajak pembaca melihat dunia dari sudut pandang seorang anak, tetapi juga mengingatkan bahwa hal-hal sederhana dalam kehidupan dapat mengajarkan kita untuk lebih peka dalam memahami orang lain dan realitas di sekitar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image