Belajar Memuliakan Manusia, dari Manusia Paling Mulia
Agama | 2026-08-31 20:25:34
Lola Malihah
Dosen Program studi Manajemen Bisnis Syariah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Institut Agama Islam Darussalam Martapura. Kalimantan Selatan.
Ada banyak cara untuk mencintai Rasulullah. Kita dapat menyebut namanya dalam shalawat, memperbanyak kisah tentang akhlaknya, mengenang perjuangannya, dan merayakan kelahirannya dengan penuh suka cita. Namun barangkali ada satu bentuk cinta yang sering luput kita renungkan, yaitu belajar memperlakukan manusia sebagaimana beliau memperlakukan manusia. Sebab Rasulullah tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia bersujud kepada Allah, tetapi juga bagaimana manusia berdiri sejajar dengan martabat yang sama dengan manusia lain.
Beliau adalah manusia paling mulia, tetapi kemuliaannya justru tampak dalam cara beliau memperlakukan mereka yang berada di sekelilingnya. Beliau tidak menjadikan kedudukan sebagai alasan untuk merendahkan. Tidak menjadikan kekuasaan sebagai pembenaran untuk berlaku semena-mena. Tidak menjadikan perbedaan status sebagai jarak untuk kehilangan kasih sayang. Di situlah Maulid sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat dalam: “kemuliaan manusia tidak boleh menjadi alasan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan menjadi alasan untuk memuliakan manusia lainnya”
Dari manusia sebagai “sumber daya” menjadi manusia yang memiliki martabat.
Menariknya, pesan tersebut terasa sangat relevan ketika kita membawanya ke dunia kerja. Dalam terminologi manajemen modern, kita mengenal istilah human resources atau sumber daya manusia. Manusia kemudian ditempatkan sebagai salah satu sumber daya penting bagi organisasi. Mereka direkrut, ditempatkan, dilatih, dinilai kinerjanya, diberi kompensasi, dan dikembangkan potensinya.
Semua itu tentu penting. Namun ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: apakah manusia hanya bernilai karena produktivitasnya? Jika seorang pekerja sedang sangat produktif, apakah ia lebih layak dihargai daripada ketika ia sedang lelah, mengalami persoalan keluarga, atau membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya?
Jika seseorang tidak lagi mencapai target seperti sebelumnya, apakah martabatnya ikut berkurang? Di sinilah nilai-nilai keteladanan Rasulullah dapat menjadi cermin bagi praktik manajemen sumber daya manusia. Manusia memang bekerja untuk organisasi, tetapi manusia tidak pernah menjadi milik organisasi.
Ia datang ke tempat kerja membawa kemampuan, tetapi juga membawa keluarga, harapan, kebutuhan, keterbatasan, dan kehidupan yang tidak berhenti ketika jam kerja dimulai. Karena itu, mengelola manusia seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana membuat mereka bekerja lebih baik?”
Tetapi juga bertanya, “Bagaimana membuat mereka tetap menjadi manusia yang baik ketika bekerja?”
Upah bukan sekadar angka
Salah satu bentuk penghormatan terhadap manusia adalah memberikan haknya secara layak.
Dalam Islam, persoalan upah bukan sekadar transaksi ekonomi antara tenaga dan uang. Di balik upah terdapat amanah dan keadilan. Pekerja memberikan waktu, tenaga, pikiran, keterampilan, bahkan sebagian dari perjalanan hidupnya kepada organisasi.
Maka ketika haknya ditunaikan secara layak dan tepat waktu, sesungguhnya organisasi tidak sedang “berbuat baik” kepada pekerjanya.
Organisasi sedang menunaikan hak manusia.
Sebaliknya, ketika seseorang telah bekerja tetapi haknya ditunda, dikurangi tanpa alasan yang adil, atau diperlakukan seolah-olah tenaganya tidak bernilai, persoalannya bukan lagi semata-mata persoalan administrasi. Di sana ada persoalan tentang bagaimana manusia memandang manusia lainnya. Rasulullah mengajarkan pentingnya menunaikan hak orang yang bekerja. Pesan ini terasa sederhana, tetapi sangat dalam “jangan mengambil manfaat dari tenaga seseorang sebelum kita bersedia menghormati haknya sebagai manusia”.
Maka sejatinya dalam manajemen organisasi, kompensasi yang adil bukan hanya instrumen untuk meningkatkan motivasi dan kinerja. Ia juga merupakan bagian dari penghormatan terhadap martabat pekerja. karena pekerja juga memiliki rumah untuk pulang
Selain itu ada satu hal lain yang semakin relevan dalam dunia kerja hari ini, yaitu work-life balance. Barangkali kita terlalu lama melihat pekerja hanya dari apa yang terjadi di kantor. Padahal setelah jam kerja berakhir, mereka kembali menjadi ayah, ibu, anak, pasangan, anggota masyarakat, dan pribadi yang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
Seorang pekerja mungkin terlihat hanya sebagai satu nama dalam daftar karyawan. Tetapi di rumah, ia mungkin adalah seorang ayah yang ditunggu anaknya. Ia mungkin seorang ibu yang ingin mendengar cerita anaknya sebelum tidu, Ia mungkin seorang anak yang masih memiliki orang tua yang membutuhkan kehadirannya.
Ia mungkin juga seseorang yang hanya ingin memiliki sedikit waktu untuk beristirahat, beribadah, membaca, atau sekadar menarik napas setelah menjalani hari yang panjang. Karena itu, work-life balance bukan semata-mata tren baru di dunia kerja. Ia dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menghormati kehidupan manusia secara utuh.
Organisasi yang baik tidak hanya bertanya berapa jam seorang pekerja dapat memberikan waktunya kepada organisasi, tetapi juga menyadari bahwa waktu adalah bagian dari kehidupan yang tidak pernah dapat dikembalikan. Mengejar produktivitas itu penting. Tetapi jangan sampai produktivitas dibangun dengan mengorbankan kemanusiaan. Memuliakan manusia bukan berarti menurunkan standar Memuliakan manusia juga bukan berarti membiarkan semua kesalahan atau menghilangkan tuntutan kinerja.
Rasulullah adalah teladan dalam kelembutan, tetapi juga dalam ketegasan. Ada keadilan, tanggung jawab, disiplin, dan amanah. Karena itu, organisasi yang memuliakan manusia bukanlah organisasi yang terlalu lunak. Justru sebaliknya. Ia menetapkan target dengan jelas, memberikan penghargaan secara adil, menegakkan aturan secara proporsional, memberikan kesempatan berkembang, mendengarkan suara pekerja, dan memberikan koreksi tanpa merendahkan harga dirinya.
Kinerja boleh dinilai. Kesalahan boleh dikoreksi. Tetapi martabat manusia tetap harus dijaga. Barangkali di sinilah letak perbedaan antara sekadar managing people dengan benar-benar memanusiakan manusia.
Maulid dan wajah pengelolaan sumber daya manusia kita
Setiap kali kita bershalawat kepada Rasulullah, sesungguhnya kita sedang mengingat manusia yang akhlaknya menjadi Rahmat. Maka menjadi menarik jika Maulid tidak berhenti pada pertanyaan, “Seberapa banyak kita mengenal kisah beliau?”
Tetapi kita berani bertanya: Sudahkah perlakuan kita mencerminkan akhlak yang kita kagumi dari beliau? Sudahkah kita memberikan hak pekerja secara adil? Sudahkah kita menghargai waktu dan kehidupan mereka? Sudahkah kita menyediakan ruang bagi mereka untuk bertumbuh? Sudahkah kita menegur tanpa mempermalukan? Sudahkah kita menghargai mereka bukan hanya ketika mereka menghasilkan sesuatu bagi organisasi, tetapi juga ketika mereka sedang berada dalam keterbatasan?
Dan yang paling penting:
Apakah setelah bekerja bersama kita, manusia menjadi lebih dimuliakan atau justru kehilangan sebagian dari martabatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru dari pertanyaan sederhana itulah wajah sebuah organisasi dapat dibaca. Sebab organisasi pada akhirnya bukan hanya tentang gedung, teknologi, strategi, target, dan laporan kinerja.
Organisasi adalah tentang manusia yang bertemu dengan manusia lainnya.
Dan ketika pertemuan itu terjadi, selalu ada pilihan: apakah kita akan menggunakan manusia, atau memuliakan manusia? Rasulullah telah menunjukkan jalannya. Maka Maulid seharusnya tidak hanya membuat kita semakin mencintai beliau, tetapi juga membuat orang-orang yang bekerja bersama kita merasakan bahwa mereka dihargai, didengar, diperlakukan adil, dan dimuliakan.
Karena mungkin, salah satu cara paling jujur untuk membuktikan cinta kepada manusia paling mulia adalah menjadikan akhlak beliau sebagai teladan, salah satunya dengan belajar memuliakan manusia yang ada di kehidupan kita.
Belajar memuliakan manusia, dari manusia paling mulia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
