Mendidik Anak Desa Tak Cukup Hanya Tugas Guru: Pelajaran dari Kuripan Timur
Pendidikan dan Literasi | 2026-08-31 16:19:54Bukan Cuma Nilai Ujian, Emosi Anak Juga Bagian Terpenting
Bayangkan seorang anak di desa yang kesulitan mengikuti pelajaran di kelas. Apakah anak tersebut kurang pintar atau memiliki trauma emosional? Tantangan pendidikan sekolah dasar di wilayah pedesaan tidak dapat diselesaikan oleh pihak sekolah formal sendirian. Keterbatasan sarana, latar belakang sosial ekonomi yang rendah, hingga isu psikososial anak menuntut keterlibatan aktif dari berbagai elemen di desa.
Sayangnya, selama ini evaluasi mutu sekolah sering terjebak dalam paradigma kognitif-sentris yang terlalu mengagungkan nilai akademik semata. Implikasinya, indikator penting seperti kesehatan emosional anak, pembentukan karakter, dan ruang aktualisasi minat kerap terabaikan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masalah ini sangat krusial. Berdasarkan data PBS (Profil Belajar Siswa) yang telah diinput dan diolah oleh Tim Data PBS Kabupaten Lombok Barat, ditemukan lebih dari 2.700 anak mengalami hambatan fungsional belajar dan lebih dari 250 anak tergolong mengalami hambatan berat. Kehadiran data spesifik ini menyadarkan bahwa kebutuhan belajar setiap anak sangat unik.
Solusi pendidikan tidak dapat dipukul rata, melainkan disesuaikan dengan tingkat hambatan yang dialami anak. Untuk menjawab tantangan tersebut, INOVASI NTB bersama Konsorsium Kuripan Timur tergerak untuk mendorong penguatan kapasitas guru, tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), kader desa, hingga orang tua. Berikut data sekolah di Kecamatan Kuripan menurut tingkat pendidikan dan desa pada tahun 2018/2019:
Untuk merealisasikan pendidikan dasar yang bermutu, diperlukan pendekatan kolaborasi lintas sektor yang menggabungkan peran sekolah dasar, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), tokoh masyarakat, serta pemerintah desa. Agar kolaborasi lintas sektor ini tidak sekadar wacana, dibutuhkan kerangka berpikir yang menyasar tiga aspek mendasar dalam diri anak, yaitu humanistik, psikoanalisis, dan behavioristik.
1. Perspektif Behavioristik: Menekankan bahwa karakter dan kedisiplinan anak terbentuk melalui pembiasaan serta respons terhadap lingkungan. Sekolah formal tidak akan pernah bisa membentuk kedisiplinan anak jika lingkungan di luar sekolah memberikan dorongan yang kontradiktif. Hal ini dapat dilihat, misalnya di Desa Kuripan Timur. Inisiatif pendidikan inklusif berbasis masyarakat melalui PKBM di Desa Kuripan Timur melibatkan sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiyah (MI), pemerintah desa, tokoh masyarakat, PKK, hingga kader desa. Mereka bergerak bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, mendiagnosis rendahnya literasi anak, serta merumuskan kebiasaan positif di luar jam sekolah.
2. Perspektif Humanistik: Memandang setiap anak mempunyai potensi dan dorongan alamiah untuk bertumbuh. Namun, sekolah formal acapkali terikat pada kurikulum yang tersentralisasi sehingga talenta nonformal anak kerap terabaikan. Dalam hal ini, PKBM di Desa Kuripan Timur hadir untuk mengisi celah tersebut. Selain itu, PKBM berfungsi untuk meningkatkan literasi dan numerasi anak yang memiliki hambatan fungsional. Keikutsertaan lembaga ini membantu keluarga maupun sekolah dalam menyediakan layanan belajar yang adaptif, fleksibel, dan inklusif.
3. Perspektif Psikoanalisis: Menyoroti pentingnya alam bawah sadar dan pengelolaan emosi. Anak tidak akan belajar secara optimal jika mengalami kecemasan dan trauma. Emosional anak-anak di desa sering kali berada di luar jangkauan penanganan guru di kelas formal. Dalam hal ini, PKBM dan tokoh masyarakat berperan penting sebagai sistem pelindung. Tokoh masyarakat memberikan penguatan moral dan norma. Sementara itu, pemerintah desa dan PKBM memfasilitasi pendampingan emosional bagi anak-anak rentan. Apabila kolaborasi tersebut mampu melahirkan ruang aman, pendidikan di lingkungan tersebut dapat dikatakan berjalan dengan baik.
Evaluasi
Peningkatan mutu pendidikan dasar tidak semata-mata terjadi di ruang kelas formal. Pengalaman dari Desa Kuripan Timur menunjukkan bahwa sinergi antara sekolah, PKBM, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat mampu mewujudkan ekosistem belajar yang berkualitas. Sudah sepatutnya berhenti membebankan masa depan anak desa hanya kepada guru di kelas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
