Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Pangesti Boedhiman

KKI 2026 dan Babak Baru Kolaborasi untuk Kopi Indonesia

Kuliner | 2026-08-30 12:02:26

Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi awal babak baru bagi perjalanan Yayasan Pendidikan Pengembangan Perkopian Indonesia (KAPPI) bersama Bank Indonesia (BI). Dalam ajang yang berlangsung di Jakarta Convention Center tersebut, keduanya mengukuhkan kolaborasi strategis untuk memperkuat kopi Indonesia dari hulu hingga akses pasar.

Cakupannya cukup luas. Kolaborasi diarahkan pada peningkatan kapasitas di tingkat hulu, pemberdayaan ekonomi keluarga petani, serta percepatan akses pasar ekspor bagi UMKM binaan. Dengan cakupan seperti itu, persoalan daya saing kopi tidak lagi hanya ditempatkan pada urusan bagaimana menjual produk, tetapi juga bagaimana menyiapkan apa yang akan dijual dan memastikan pertumbuhan pasar memberi manfaat kepada mereka yang berada di daerah asal kopi.

Dalam kolaborasi tersebut, KAPPI bersama mitra strategisnya, PT Sumber Kurnia Alam (PT SKA), mendampingi 204 UMKM kopi binaan Bank Indonesia di berbagai kawasan sentra kopi. Pendampingan mencakup standar mutu produk, konsistensi pasokan, hingga kurasi agar UMKM semakin siap memasuki pasar internasional.

Jumlah 204 UMKM memperlihatkan besarnya potensi yang bisa dikembangkan. Namun pasar, terlebih pasar internasional, tentu tidak hanya membutuhkan jumlah. Kualitas harus dapat dipertahankan dan pasokan perlu dijaga konsisten. Karena itu, membuka akses pasar dan mempersiapkan UMKM semestinya menjadi dua pekerjaan yang berjalan bersamaan.

Salah satu hasil yang langsung terlihat di KKI 2026 muncul dalam Business Matching pada 21–22 Agustus. KAPPI dan PT SKA mempertemukan 14 UMKM kopi binaan Bank Indonesia terpilih dengan pelaku industri global. Pertemuan tersebut mencatat potensi transaksi ekspor hingga Rp15,3 miliar.

Angka Rp15,3 miliar tentu menarik. Namun angka itu menjadi lebih bermakna ketika dilihat sebagai bagian dari sebuah proses. Sebelum UMKM bertemu pasar, ada persoalan mutu, pasokan, pendampingan dan kurasi yang harus diselesaikan. Kesempatan bertemu pelaku industri global dengan demikian bukan menjadi awal perjalanan, melainkan salah satu tahap setelah produk dan pelakunya dipersiapkan.

Roby Wibisono, mewakili KAPPI, menyebut pengukuhan kolaborasi di KKI 2026 sebagai fondasi penting untuk melipatgandakan dampak ekonomi.

“Tujuannya terukur: kualitas produk meningkat, jangkauan ekspor makin luas, dan manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh petani serta daerah asal kopi,” tegas Roby.

Pernyataan mengenai petani dan daerah asal kopi tersebut menjadi penting. Pembicaraan mengenai ekspor sering kali berakhir pada nilai transaksi dan negara tujuan. Padahal keberhasilan kopi Indonesia seharusnya juga bisa dibaca dari arah sebaliknya: seberapa jauh pertumbuhan pasar akhirnya memberi manfaat kepada tempat kopi tersebut ditanam.

Bangkok dan Shanghai, Cerita Sebelum KKI

Kolaborasi yang dikukuhkan dalam KKI 2026 sebenarnya mempunyai cerita pendahuluan. Beberapa bulan sebelumnya, KAPPI dan Bank Indonesia telah berkolaborasi dalam fasilitasi UMKM kopi binaan pada World of Coffee (WoC) Bangkok, 7–9 Mei 2026, kemudian SIAL Shanghai pada 18–20 Mei 2026.

Bangkok dan Shanghai menjadi pengalaman membawa UMKM kopi binaan ke panggung internasional. KKI kemudian membawa cerita itu ke tahap berikutnya. Jika sebelumnya akses terhadap pasar internasional telah dibuka melalui sejumlah ajang, kolaborasi yang dikukuhkan di KKI mempunyai cakupan yang lebih luas dengan menghubungkan pasar dengan pekerjaan yang dilakukan sejak dari hulu.

Sebab sejauh apa pun kopi akan dibawa, perjalanan tersebut tetap bermula di kebun.

Selain kerja sama dalam pemasaran hasil kebun petani, KAPPI melaksanakan pembangunan demonstration plot atau demplot sebagai pusat edukasi Good Agricultural Practices (GAP). Ini menjadi bagian yang tidak kalah penting dari pembicaraan mengenai daya saing. Mutu yang kelak ditawarkan kepada pasar tidak muncul ketika produk sudah berada di ruang pamer, tetapi dibangun jauh sebelumnya melalui praktik di tingkat kebun.

Di sinilah hubungan antara hulu dan hilir menjadi nyata. Pameran internasional dan business matching memang membuka pintu, tetapi kualitas produk menentukan seberapa jauh kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan.

Ketika Kopi Juga Bicara tentang Keluarga

Penguatan sektor kopi juga menyentuh kehidupan keluarga petani. KAPPI menjalankan pelatihan diversifikasi produk pangan lokal bagi kelompok perempuan tani untuk membantu menjaga ketahanan ekonomi keluarga di luar musim panen.

Pendekatan ini layak mendapat perhatian karena kebutuhan keluarga tentu tidak mengenal musim panen. Ketika kopi belum menghasilkan, keluarga tetap membutuhkan sumber ekonomi untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Diversifikasi produk pangan lokal memberi ruang agar potensi lain di daerah dapat ikut dikembangkan.

Dengan perspektif tersebut, pembicaraan mengenai kesejahteraan petani menjadi lebih utuh. Petani bukan unit produksi yang berdiri sendiri. Di belakangnya ada keluarga dan komunitas yang kehidupannya ikut bergerak bersama perkembangan komoditas kopi.

Ada pula dimensi lain yang dibawa dalam pengembangan kopi Indonesia, yaitu identitas. KAPPI menggunakan film dokumenter untuk mempromosikan identitas kultural serta origin story kopi Nusantara di ranah internasional.

Ini menarik karena kopi Indonesia memang tidak lahir dari satu tempat. Setiap daerah asal membawa lingkungan dan identitasnya masing-masing. Ketika kopi memasuki pasar internasional, nama daerah yang melekat pada produk dapat menjadi pintu untuk mengenalkan cerita yang lebih luas tentang tempat kopi tersebut berasal.

Kualitas membuat sebuah produk layak memasuki pasar. Cerita asal memberi produk tersebut identitas.

Setelah KKI, Pekerjaan Sesungguhnya Dimulai

KAPPI dan Bank Indonesia optimistis kemitraan yang berkelanjutan dapat mendorong lahirnya UMKM kopi yang adaptif dan berdaya saing global, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai produsen kopi berkualitas tinggi di pasar dunia.

KKI 2026 tentu baru menjadi titik pengukuhan kolaborasi tersebut. Ukuran keberhasilannya kelak tidak berhenti pada seremoni, bahkan tidak semata pada besarnya potensi transaksi yang tercatat dalam business matching. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar berbagai bagian yang sudah dirancang dapat terus saling terhubung: kebun dengan kualitas, UMKM dengan kesiapan pasar, ekspor dengan manfaat ekonomi, serta kopi dengan daerah asalnya.

Pengalaman di World of Coffee Bangkok dan SIAL Shanghai memberikan cerita tentang bagaimana UMKM kopi Indonesia dibawa bertemu pasar internasional. KKI 2026 membuka babak yang lebih luas karena perjalanan menuju pasar tersebut kini ditempatkan dalam kerangka kolaborasi yang dimulai sejak dari hulu.

Pada akhirnya, membawa kopi Indonesia lebih jauh tidak cukup hanya dengan menemukan pembeli di luar negeri. Daya saing harus dibangun sejak dari tempat kopi itu berasal. Jika proses tersebut berjalan, semakin luasnya pasar kopi Indonesia juga memiliki peluang untuk membawa manfaat yang lebih besar kepada UMKM, petani, keluarga petani, dan daerah penghasil kopi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image