Pertanian Indonesia Makin Maju, Tapi Ada Satu Masalah Besar yang Sering Kita Lupakan
Info Terkini | 2026-09-21 10:23:44Kalau saya boleh menjawab dari sudut pandang pertanian dan agronomi, saya melihat pertanian Indonesia sedang mengalami kemajuan yang cukup nyata, tetapi belum bisa dikatakan maju secara merata.
Ada sektor yang sudah sangat modern. Mekanisasi mulai berkembang, penggunaan drone dan teknologi digital semakin dikenal, data satelit mulai digunakan, benih unggul terus dikembangkan, pengelolaan perkebunan semakin berbasis data, dan industri hilir pertanian juga semakin besar.
Tetapi di sisi lain, kita masih menghadapi persoalan klasik: produktivitas yang tidak seragam, biaya produksi, regenerasi petani, luas lahan yang relatif kecil pada sebagian petani, akses teknologi, pascapanen, irigasi, logistik, hingga persoalan kesehatan tanah.
Jadi kalau ditanya “apakah pertanian Indonesia sudah maju?”, jawaban saya adalah:
Sudah bergerak maju, bahkan cukup cepat di beberapa sektor. Tetapi pekerjaan rumahnya masih sangat banyak.
Ada bukti bahwa pertanian Indonesia mengalami kemajuan
Kita bisa melihat salah satu indikatornya dari produksi padi.
Menurut BPS, pada 2025 luas panen padi Indonesia mencapai sekitar 11,32 juta hektare, naik 12,69 persen dibandingkan 2024.
Produksi padi juga mencapai 60,21 juta ton GKG, naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksinya sekitar 34,69 juta ton.
Angka ini tentu menarik.
Artinya, dari sisi produksi komoditas pangan utama, ada peningkatan yang cukup besar.
Namun saya tidak akan langsung menyimpulkan bahwa seluruh pertanian Indonesia sudah semakin efisien hanya karena produksi meningkat.
Mengapa?
Karena produksi tinggi belum tentu berarti sistem pertaniannya sudah efisien dan berkelanjutan.
Produksi bisa meningkat karena luas panen bertambah, produktivitas meningkat, kondisi iklim lebih mendukung, teknologi membaik, atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut.
Di sinilah kita perlu melihat pertanian secara lebih lengkap.
Pertanian Indonesia sebenarnya sangat besar dan sangat beragam
Ini salah satu hal yang menurut saya sering dilupakan.
Ketika kita berbicara tentang pertanian Indonesia, jangan hanya membayangkan sawah.
Pertanian Indonesia mencakup:
- tanaman pangan,
- hortikultura,
- perkebunan,
- peternakan,
- perikanan,
- kehutanan yang berkaitan dengan sistem agroforestri,
- hingga berbagai industri pengolahan berbasis hasil pertanian.
Belum lagi kondisi lahannya.
Indonesia memiliki lahan dengan karakter yang sangat beragam.
Ada tanah vulkanik yang relatif subur, tanah aluvial, tanah masam, tanah gambut, tanah bertekstur ringan, tanah liat berat, lahan rawa, lahan kering, sampai kawasan dengan topografi yang sangat kompleks.
Artinya, tidak mungkin satu resep pertanian cocok untuk seluruh Indonesia.
Menurut saya, masa depan pertanian Indonesia justru sangat bergantung pada kemampuan kita membaca perbedaan tersebut.
Dari sisi teknologi, pertanian Indonesia sudah berubah
Kalau kita melihat pertanian 20–30 tahun lalu dibandingkan sekarang, perbedaannya cukup besar.
Dulu keputusan di lapangan banyak bergantung pada pengalaman petani.
Sekarang pengalaman tetap penting, tetapi mulai dilengkapi dengan:
data.
Misalnya:
- citra satelit,
- drone,
- GPS,
- sensor,
- aplikasi pertanian,
- pemetaan digital,
- data cuaca,
- analisis tanah,
- precision agriculture,
- mekanisasi,
- hingga artificial intelligence.
Bahkan dalam statistik tanaman pangan, BPS sendiri sudah menggunakan pendekatan berbasis kerangka sampel area dan teknologi informasi serta citra satelit untuk memperbaiki estimasi luas panen.
Ini menunjukkan bahwa pertanian Indonesia tidak lagi sepenuhnya identik dengan cara-cara konvensional.
Mekanisasi juga semakin penting
Menurut saya, salah satu perubahan besar dalam pertanian Indonesia adalah meningkatnya penggunaan mesin.
Traktor, transplanter, combine harvester, mesin pengering, drone dan berbagai alat pertanian lainnya semakin dikenal.
Mengapa mekanisasi penting?
Karena pertanian menghadapi persoalan tenaga kerja.
Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan tenaga manusia untuk seluruh proses produksi apabila ingin meningkatkan skala dan efisiensi.
Bayangkan sebuah hamparan sawah yang luas.
Kalau semuanya dilakukan secara manual, kebutuhan tenaga kerja sangat besar dan waktu pengerjaannya panjang.
Dengan mekanisasi, beberapa pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih seragam.
Namun mekanisasi juga bukan sekadar membeli mesin.
Mesin harus sesuai dengan kondisi lahan, skala usaha, komoditas dan sistem produksinya.
Ini penting.
Jangan sampai kita berpikir:
“Ada mesin berarti pertanian otomatis maju.”
Tidak sesederhana itu.
Mesin harus menghasilkan efisiensi ekonomi.
Menurut saya, tantangan terbesar justru ada di tanah
Ini bagian yang sering luput ketika orang membicarakan masa depan pertanian.
Orang sering membahas benih.
Membahas pupuk.
Membahas drone.
Membahas traktor.
Membahas irigasi.
Tetapi kadang lupa bahwa semuanya pada akhirnya bekerja di atas tanah.
Padahal tanah bukan sekadar tempat tanaman berdiri.
Tanah merupakan sistem yang terdiri dari sifat fisik, kimia dan biologi yang saling berhubungan.
Contohnya:
- pH,
- bahan organik,
- kapasitas tukar kation,
- kejenuhan basa,
- ketersediaan unsur hara,
- tekstur,
- struktur,
- porositas,
- aerasi,
- drainase,
- kedalaman efektif,
- aktivitas mikroorganisme.
Kalau tanahnya bermasalah, menambah input tidak selalu menjadi solusi terbaik.
Bahkan bisa menjadi pemborosan.
Karena itu, menurut saya, pertanian modern seharusnya bukan hanya semakin banyak menggunakan teknologi, tetapi juga semakin memahami tanah.
Kita juga harus membedakan “produktivitas” dan “keuntungan”
Ini persoalan yang sangat penting.
Misalnya seorang petani berhasil meningkatkan produksi dari 5 ton menjadi 6 ton per hektare.
Secara agronomis, itu terlihat bagus.
Tetapi bagaimana kalau untuk menghasilkan tambahan 1 ton tersebut biaya pupuk, pestisida, tenaga kerja dan energi meningkat jauh lebih besar?
Apakah petani benar-benar lebih sejahtera?
Belum tentu.
Karena itu saya melihat indikator keberhasilan pertanian tidak cukup hanya:
berapa ton yang dihasilkan?
Tetapi juga:
berapa biaya untuk menghasilkan satu ton?
Dan yang lebih penting:
berapa pendapatan bersih yang diterima petani?
BPS menggunakan Nilai Tukar Petani atau NTP sebagai salah satu indikator yang menggambarkan daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi. Pada Desember 2025, NTP nasional tercatat 125,35.
Angka tersebut menunjukkan kondisi daya tukar petani secara agregat, tetapi tentu tidak berarti semua petani Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sama.
Karena struktur pertanian Indonesia sangat beragam.
Tantangan berikutnya adalah regenerasi petani
Menurut saya, ini salah satu persoalan strategis.
Pertanian membutuhkan generasi penerus.
Tetapi pertanyaan besarnya:
Apakah anak muda masih melihat pertanian sebagai profesi yang menarik?
Kalau pertanian hanya dipersepsikan sebagai pekerjaan berat, kotor dan berisiko dengan pendapatan tidak pasti, tentu sulit menarik generasi muda.
Namun kalau pertanian berubah menjadi:
- bisnis,
- teknologi,
- manajemen,
- data,
- mekanisasi,
- pengolahan,
- pemasaran,
- ekspor,
- dan industri,
maka persepsinya bisa berbeda.
Petani masa depan tidak harus selalu identik dengan orang yang mencangkul dari pagi sampai sore.
Petani bisa menjadi pengelola bisnis pertanian.
Menurut saya, perubahan paradigma ini sangat penting.
Industri pertanian tidak berhenti di lahan
Kalau kita ingin melihat kemajuan industri pertanian Indonesia, jangan hanya melihat proses budidayanya.
Lihat juga apa yang terjadi setelah panen.
Misalnya:
Benih → budidaya → panen → pengumpulan → pengeringan → penyimpanan → pengolahan → distribusi → pemasaran → konsumen.
Semakin panjang dan efisien rantai nilai tersebut, semakin besar pula nilai ekonomi yang bisa diciptakan.
Di sinilah industri pengolahan menjadi penting.
Indonesia tidak hanya perlu menjual komoditas mentah.
Kita perlu semakin banyak menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Misalnya komoditas pertanian tidak berhenti sebagai bahan baku, tetapi diolah menjadi produk pangan, bahan industri, bahan kosmetik, pakan, bioenergi, dan berbagai produk turunannya.
Jadi sebenarnya masa depan pertanian Indonesia bukan hanya berada di on-farm, tetapi juga sangat besar di off-farm.
Tetapi ada satu hal yang harus kita hati-hati: jangan mengejar produksi dengan mengorbankan tanah
Ini menurut saya penting.
Kita memang membutuhkan produksi pangan dan komoditas yang tinggi.
Tetapi produktivitas harus berjalan bersama dengan keberlanjutan.
Kalau tanah terus dieksploitasi tanpa memperhatikan keseimbangan hara, bahan organik, erosi, struktur tanah dan tata air, produktivitas jangka panjang dapat terganggu.
Pertanian yang baik bukan sekadar menghasilkan banyak hari ini.
Tetapi juga memastikan lahan tersebut masih mampu menghasilkan dengan baik beberapa puluh tahun ke depan.
Karena itu saya cukup percaya bahwa ilmu tanah akan semakin penting di masa depan.
Lalu bagaimana masa depan pertanian Indonesia?
Menurut saya, pertanian Indonesia akan semakin mengarah kepada pertanian berbasis data dan efisiensi.
Bukan berarti semua petani harus menggunakan teknologi mahal.
Justru teknologi harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Untuk satu lokasi mungkin yang paling penting adalah irigasi.
Di tempat lain mungkin drainase.
Di tempat lain analisis tanah.
Di lokasi tertentu mekanisasi.
Di wilayah lain akses jalan dan pasar.
Jadi pendekatannya tidak bisa diseragamkan.
Pertanian masa depan adalah pertanian yang semakin spesifik lokasi.
Kita harus mengetahui:
Tanahnya apa?
Iklimnya bagaimana?
Airnya tersedia atau tidak?
Komoditas apa yang paling sesuai?
Berapa biaya produksinya?
Siapa pasarnya?
Bagaimana rantai pasoknya?
Dan apakah sistem tersebut tetap menguntungkan dalam jangka panjang?
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab, keputusan pertanian menjadi jauh lebih rasional.
Jadi, apakah pertanian Indonesia sudah maju?
Kalau saya harus menjawab secara sederhana:
Ya, pertanian Indonesia sudah mengalami kemajuan. Tetapi belum merata dan belum selesai.
Kita sudah melihat peningkatan produksi pangan, berkembangnya mekanisasi, pemanfaatan data dan teknologi, berkembangnya industri pengolahan, serta semakin kuatnya pendekatan berbasis produktivitas dan efisiensi.
Namun kita masih menghadapi tantangan besar berupa:
- regenerasi petani,
- biaya produksi,
- produktivitas yang tidak seragam,
- akses teknologi,
- infrastruktur,
- tata kelola air,
- pascapanen,
- pemasaran,
- fragmentasi lahan,
- kesehatan tanah,
- dan perubahan iklim.
Jadi menurut saya, pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Apakah pertanian Indonesia sudah maju?”
Tetapi:
“Bagaimana kita membuat pertanian Indonesia menjadi semakin produktif, menguntungkan, efisien dan berkelanjutan?”
Karena pertanian Indonesia sebenarnya mempunyai modal yang sangat besar.
Lahannya beragam.
Iklimnya mendukung banyak komoditas.
Pasarnya besar.
Komoditasnya sangat banyak.
Dan industri hilirnya masih memiliki ruang berkembang.
Tantangannya adalah bagaimana semua potensi tersebut dikelola dengan ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen dan kebijakan yang tepat.
Pada akhirnya, pertanian Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah kemampuan mengubah potensi tersebut menjadi produktivitas dan nilai tambah tanpa merusak sumber daya yang menjadi fondasinya.
Dan bagi saya, di situlah ukuran kemajuan pertanian yang sebenarnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
