Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image aftharafaaa

Pengalaman Magang di Bank Syariah, Belajar Melayani Nasabah di BSI

Humaniora | 2026-08-29 22:40:58

 

Mahasiswa menjalani magang di bank syariah di BSI

Oleh: Afthara Fariha Aufannisa — Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Menjalani magang di bank syariah menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa untuk mengenal dunia perbankan secara langsung. Selama melaksanakan kegiatan magang di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Purbalingga Sudirman, berbagai aktivitas dilakukan mulai dari membantu nasabah mengisi formulir, mengambil nomor antrean, melakukan fotokopi dokumen, hingga membantu proses administrasi lainnya. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya pelayanan yang ramah, cepat, dan sesuai dengan kebutuhan nasabah.

“Nasabah berikutnya siapa, ya?”

Pertanyaan sederhana itu menjadi bagian dari keseharian saya sejak mulai menjalani magang di Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Purbalingga Sudirman pada 10 Agustus 2026. Sebelumnya, saya mungkin mengira bahwa melayani nasabah hanya sebatas membantu menyelesaikan kebutuhan mereka. Namun, setelah terjun langsung, saya menyadari bahwa setiap nasabah membawa kebutuhan, karakter, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Selama magang, saya mendapatkan kesempatan untuk membantu berbagai kebutuhan pelayanan nasabah. Mulai dari membantu mengisi formulir, mengarahkan nasabah untuk mendapatkan nomor antrean, hingga melakukan pemindaian dokumen. Kegiatan tersebut membuat saya berinteraksi langsung dengan banyak orang yang sebelumnya tidak saya kenal.

Dari berbagai interaksi tersebut, hal yang paling terasa bagi saya adalah menghadapi karakter nasabah yang beragam. Ada nasabah yang ramah dan mudah diajak berkomunikasi. Ada pula yang lebih singkat dalam menjawab atau terlihat terburu-buru. Situasi seperti ini mengajarkan saya bahwa cara berkomunikasi tidak bisa selalu disamakan kepada setiap orang.

Saya mulai belajar untuk lebih memperhatikan situasi sebelum memberikan bantuan. Ketika menghadapi nasabah yang membutuhkan penjelasan lebih banyak, saya harus berusaha menjelaskan dengan sabar. Sebaliknya, ketika nasabah sudah mengetahui kebutuhannya, saya perlu membantu secara lebih cepat dan tepat. Dari sini saya memahami bahwa pelayanan bukan hanya mengenai apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana kita menyampaikannya.

Tantangan lain muncul ketika saya harus membantu nasabah dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Banyaknya jenis pelayanan membuat saya sempat kebingungan menentukan formulir yang harus digunakan. Saya menyadari bahwa satu jenis formulir tidak dapat digunakan untuk semua kebutuhan nasabah. Kesalahan dalam memahami kebutuhan tentu dapat membuat proses pelayanan menjadi kurang efektif.

Situasi tersebut justru menjadi proses belajar bagi saya. Saya dituntut untuk lebih teliti, tidak terburu-buru mengambil keputusan, dan berani bertanya ketika belum memahami sesuatu. Bagi saya, bertanya bukan berarti tidak mampu, tetapi merupakan bagian dari proses untuk memahami pekerjaan dengan benar.

Pengalaman ini juga membuat saya melihat bahwa dunia perbankan tidak hanya berkaitan dengan angka dan transaksi. Sebagai mahasiswa Manajemen, khususnya yang mempelajari berbagai aspek pengelolaan bisnis, saya mulai memahami bahwa kemampuan berinteraksi dengan manusia juga menjadi bagian penting dalam dunia kerja.

Magang di BSI KCP Purbalingga Sudirman akhirnya bukan hanya menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu dari bangku kuliah. Lebih dari itu, pengalaman ini mengajarkan saya tentang kesabaran, ketelitian, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Berhadapan dengan berbagai karakter nasabah membuat saya belajar bahwa memberikan pelayanan yang baik bukan tentang menghadapi semua orang dengan cara yang sama, melainkan tentang memahami siapa yang sedang kita hadapi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image